JawaPos Radar | Iklan Jitu

Kantong Belanja Plastik Dilarang, Inaplas Protes

11 Desember 2018, 19:36:06 WIB
Kantong Belanja Plastik Dilarang, Inaplas Protes
Ilustrasi kantong belanja plastik. (Dok. JawaPos.Com)
Share this

JawaPos.com - Asosiasi Industri Aromatik Olefin dan Plastik (Inaplas) menolak pelarangan kantong belanja plastik yang dilakukan oleh beberapa Kepala Daerah. Pihaknya meminta agar kebijakan tersebut ditinjau kembali dan diganti dengan usaha peningkatan kinerja pengelolaan sampah bersama seluruh pemangku kepentingan.

Wakil ketua Inaplas Suhat Miyarso atau Sekretaris Jenderal Inaplas Fajar Budiono menjelaskan, pihaknya mengapresiasi setinggi-tingginya terhadap upaya-upaya menanggulangi masalah sampah, sekaligus prihatin atas perilaku masyarakat pengguna plastik yang abai terhadap lingkungan. 

“Kita semua faham bahwa masalah kantong belanja plastik bukan disebabkan material plastik tetapi diakibatkan oleh sistem pengelolaan sampah yang buruk,” ujarnya di Jakarta, Selasa (11/12).

Surat juga mengapresiasi para Kepala Daerah yang lebih memilih meningkatan kinerja penanganan sampah daripada melakukan pelarangan terhadap kantong belanja plastik, yang merupakan kebutuhan sarana belanja masyarakat dan menurut survey di Cilegon dan Serang hanya sebesar 5,53 persen - 10,25 persen dari seluruh sampah.  

Daerah-daerah yang telah melaksanakan atau telah merencanakan peningkatan kinerja penanganan sampah tersebut diantaranya, Cirebon, Cilegon, Wonosobo, Kabupaten Tangerang, Kepulauan Riau, Sumatera Utara, Pekan Baru, Rokan Hilir, Tapanuli Tengah dan Natuna, yang akan menerapkan sistim pengolah sampah disumbernya sehingga tidak terjadi pencemaran baik didarat, disungai maupun dilaut.

Menurutnya, konsumsi plastik Indonesia saat ini masih rendah sehingga pemakaian plastik akan terus bertambah. Penggunaan kantong belanja plastik saat ini sekitar 16 persen dari seluruh produksi plastik di Indonesia. Industri kantong belanja plastik telah berkembang cukup lama, didominasi oleh IKM dengan jumlah tenaga kerja berkisar antara 5 – 200 orang tiap perusahaan yang secara keseluruhan berjumlah sekitar 25.000 orang.

“Industri ini akan terdampak langsung oleh pelarangan penggunaan kantong belanja plastik, sehingga akan menurunkan kinerja industri dan menambah pengangguran,” tuturnya.

Suhat menerangkan, plastik bekas pakai masih masih mempunyai nilai ekonomi yang dapat didaur ulang, digunakan ulang atau diolah ulang sehingga dapat menimbulkan usaha-usaha baru yang bermanfaat bagi masyarakat.

“Pelarangan kantong belanja plastik bukan solusi penanganan pencemaran akibat sampah baik di darat, di sungai maupun di laut, dan pencemaran akan tetap terjadi bila pengelolaan sampah tidak diperbaiki,” ucapnya.

Pihkanya mengusulkan solusi pengelolaan sampah yang lebih baik, melalui kegiatan-kegiatan yang dapat dilakukan bersama para pemangku kepentingan. 

Hal tersebut dapat berupa memberikan edukasi kepada masyarakat untuk menjaga kebersihan disekitar tempat tinggal masing-masing dengan memilah sampah dirumah dan menyerahkannya kepada Bank Sampah atau Industri Pengolah Sampah. “Untuk program ini diperlukan pembagian tempat sampah sesuai dengan jenis sampah kepada seluruh rumah tangga yang terlibat,” imbuhnya.

Lalu, Mengubah paradigma penanganan sampah dari Kumpul, Angkut, Buang ke TPA menjadi Pilah, Angkut, Olah dan Jual. Dengan penanganan ini tidak lagi diperlukan biaya angkut sampah yang mahal dan tidak diperlukan TPA.

“Menggunakan sampah kantong belanja plastik sebagai campuran aspal untuk jalan raya dan mengolah sampah plastik menjadi bahan bakar. INAPLAS telah bekerjasama dengan Kementerian PUPR, Departemen Teknik Kimia ITB dan perusahaan-perusahaan anggota INAPLAS untuk melaksanakan proyek ini,” tuturnya.

Suhat menambahkan, bisa juga membangun unit–unit Industri Pengolah Sampah pada tingkat Kelurahan atau Kecamatan bekerjasama dengan Bank-Bank Sampah yang sudah ada.

“Untuk mengimplementasikan usulan solusi dalam point 6 diatas INAPLAS bersama para mitra kerja bersedia-melakukan bimbingan teknis atau kerjasama yang bersifat non profit kepada berbagai pihak yang memerlukan,” tandasnya.

 

Editor           : Teguh Jiwa Brata
Reporter      : (mys/JPC)

Berita Terkait

Rekomendasi

berita hari ini