Blusukan Di Korea, Jokowi Bawa Pulang Rp 91,7 Triliun ke RI

11/09/2018, 15:02 WIB | Editor: Saugi Riyandi
Presiden Jokowi kunjungan ke Korea bawa pulang Rp 91,7 triliun (Laily Rachev/Biro Pers Setpres)
Share this image

JawaPos.com - Presiden Joko Widodo (Jokowi) saat ini tengah melakukan kunjungan kenegaraan ke Korea Selatan. Kunjungan yang dilakukan Presiden Jokowi juga merupakan kunjungan balasan dari kunjungan Presiden Korea Selatan Moon Jae-in ke Indonesia November tahun lalu.

Beberapa agenda dalam kunjungan ini, antara lain melakukan one-on-one meeting dengan beberapa perusahaan strategis Korea Selatan, menghadiri pertemuan Business Forum dengan asosiasi dan perusahaan-perusahaan Korea Selatan, serta memberikan kuliah umum di Hankuk University of Foreign Studies dan pertemuan dengan generasi muda Korea Selatan pecinta Indonesia dan generasi muda Indonesia di Korea Selatan.

Selain itu, Indonesia juga berhasil membuat kesepakatan bisnis sebesar USD 6,2 miliar atau Rp 91,7 triliun (kurs Rp 14.800) dengan perusahaan di Korea Selatan.

Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) Thomas Trikasih Lembong mengungkapkan, kunjungan Presiden Jokowi kali ini juga dimaknai dengan penandatanganan 15 nota kesepahaman dan enam komitmen investasi yang sifatnya business to business antara private sector Indonesia dan Korea Selatan, serta satu nota kesepahaman antara BKPM dengan Hyundai Motor Company.

”Dengan ditandatanganinya 15 nota kesepahaman dan enam komitmen investasi tersebut diharapkan sentimen pelaku usaha luar terhadap pasar nasional dapat menjadi lebih baik.” ujarnya dalam keterangan resmi kepada pers, seperti dikutip Selasa (11/9).

Mantan Menteri Perdagangan itu juga menyambut baik upaya-upaya untuk meningkatkan kerjasama dan investasi Korea Selatan pada sektor-sektor industri utama dan otomotif.

“Tentu saja hal ini harus direspon secara positif, apalagi kerjasama-kerjasama tersebut dapat membidik pasar ASEAN dan Australia. Hal ini harus kita manfaatkan ditambah lagi Indonesia akan punya Free Trade Agreement (FTA) dengan Australia,” tambahnya.

Ia berharap kerja sama Korea Selatan dan Indonesia khususnya di sektor otomotif diharapkan dapat mendukung masterplan industri otomotif di Indonesia dan dapat menumbuhkan industri komponen dan supply chain-nya di dalam negeri.

“Yang paling penting itu adalah meyakinkan investor bahwa Indonesia adalah tempat yang nyaman untuk berinvestasi. Kebanyakan negara yang ekonominya sedang terpuruk, karena tidak bisa menjaga sentimen pasar atau pelaku usaha,” tandasnya.

(hap/JPC)

Berita Terkait

Rekomendasi