JawaPos Radar

Moeldoko, Anak Dusun si Panglima 'TANI'

11/07/2018, 19:30 WIB | Editor: Saugi Riyandi
Moeldoko, Anak Dusun si Panglima 'TANI'
Kepala Staf Kepresidenan Moeldoko (Dok. JawaPos.com)
Share this image

JawaPos.com - Anak dusun yang berkarier cemerlang. Itulah julukan yang pas bagi Jenderal TNI (Purn) Moeldoko. Selain melejit dikarirnya sebagai Panglima TNI, Moeldoko belakangan tengah fokus untuk mengembangkan sektor pertanian di Indonesia.

Dunia pertanian bukan hal asing baginya. Dia adalah salah satu anak seorang petani yang sukses dan menjadi negarawan. Anak dusun yang menjadi negarawan, mungkin kata-kata ini yang pantas diterima dirinya.

Kisah Moeldoko ini tertuang dalam buku yang berjudul 'Panglima TANI Moeldoko: Anak Dusun Yang Jadi Negarawan'. Kesuksesan Moeldoko saat ini, tidak instan begitu saja didapatnya. Moeldoko lahir dari keluarga miskin sehingga sejak kecil terbiasa kerja keras dan berjuang.

Dulu, orang tuanya serba kekurangan untuk membiayai anak-anaknya yang cukup banyak. Pendapatan orang tuanya pun tak menentu hingga membuat hidup keluarga ini seperti terjebak dalam rimba kemiskinan.

Dirinya kerap kesulitan jika ingin memakan nasi beserta lauk pauk yang cukup kala masih kecil. "Sering saya ambil ubi dari kebon sebelah (rumah) dulu," ujar Moeldoko dikutip dari buku tersebut, Rabu (11/7).

Sebagai anak langgar, dalam hidup yang serba prihatin, Moeldoko menghadapinya dengan lebih banyak mendekatkan diri kepada Yang Maha Kuasa. Dia sering bertirakat dengan melaksanakan puasa sunah setiap Senin dan Kamis. Hal itu terus dilakukannya secara rutin walau pun sambil membantu kakaknya mengangkat batu dan mengangkut pasir dari sungai. Meski serba kekurangan, orang tuanya berharap anak-anaknya jadi orang berguna.

Semasa kecil, Moeldoko termasuk anak yang cekatan dan pekerja keras. Bahkan, sejak kecil ia sudah bekerja mengangkut batu dan pasir dari kali setiap pulang sekolah.

Moeldoko tak pernah berhenti belajar. Selain sering mengikuti pendidikan kemiliteran di lingkungan TNI termasuk Lemhannas, Moeldoko juga terus menimba ilmu di dunia pendidikan umum. Itulah yang mengantarnya meraih gelar doktor ilmu administrasi pemerintahan dari Universitas Indonesia.

Sejak itu pada namanya selalu disematkan gelar Dr Moeldoko. Ayahnya mendidik Moeldoko dmengan keras. Sementara ibunya membimbingnya dengan penuh kasih sayang dan kelembutan. Kontradiksi tersebut pada akhirnya menjadi sebuah paradok dalam dirinya. Dia bisa tegas namun juga dapat memiliki empati pada lingkungannya.

Moeldoko termasuk melejit dalam karirnya. Sejak kecil dirinya sudah bercita-cita menjadi tentara. Maka ketika lulus SMA, dia pun kemudian masuk Akabri. Setelah lulus karirnya melejit sejak menjabat Kasdam Jaya (2008). Bahkan pada 2010, dia mengalami tiga kali rotasi jabatan dan kenaikan pangkat mulai dari Pangdiv 1/Kostrad (Juni-Juli 2010), menjadi Pangdam XII/Tanjungpura (Juli-Oktober 2010) dan Pangdam III/Siliwangi (Oktober 2010-Agustus 2011).

Tak sampai dua bulan berikutnya, Moeldoko naik pangkat menjadi Letnan Jenderal dengan jabatan Wakil Gubernur Lemhannas. Kemudian, pada Februari 2013 Moeldoko menjadi Wakasad dan naik lagi jadi Kasad pada 22 Mei 2013 dengan pangkat bintang empat (jenderal). Lalu, hanya tiga bulan berikutnya setelah menjabat Kasad, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono menetapkannya sebagai calon tunggal Panglima TNI.

"Sikap saya sangat jelas, tegas, dan tidak kenal kompromi dalam menjaga kedaulatan NKRI. Saya Jenderal TNI Moeldoko siap memimpin TNI," tegasnya.

Saat pensiun dari TNI, Moeldoko ditunjuk untuk menjabat sebagai ketua umum Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI) periode 2017 hingga 2020. Pengukuhan Moeldoko dilaksakan pada pelaksanaan Rapat Pimpinan Nasional (Rapimnas) HKTI pada 2017. Maka seusai meninggalkan dinas keprajuritannya ia pun memilih menjadi petani. Pengalaman itulah yang dijadikan sebagai modal dalam memimpin HKTI.

Selama menjabat, Moeldoko berharap HKTI bisa menjadi mitra strategis dan positif pemerintah dalam hal ketahanan pangan. Harapan baru bagi rakyat dengan mewujudkan kesejahteraan dan kedaulatan pangan.

Menteri pertanian, Amran Sulaiman, pernah memuji Moeldoko sebagai ketua umum HKTI yang telah berbuat banyak untuk pertanian Indonesia. "Seandainya ada 100-200 jenderal seperti Pak Moeldoko yang turun ke pertanian, bisa bergetar ini Indonesia," kata Amran.

Karena dinilai kredibel dan berpengalaman, setelah sekitar tiga tahun pensiun dari TNI, Moeldoko dilantik oleh Presiden Joko Widodo sebagai Kepala Staf Presiden (KSP) menggantikan Teten Masduki pada 17 Januari 2018. Moeldoko mengaku siap melaksanakan tugasnya sebagai KSP secara profesional.

Menurutnya, salah satu tugas KSP adalah menyelesaikan masalah yang terjadi dalam pelaksanaan program-program prioritas nasional, termasuk juga percepatan untuk pelaksanaannya. Selain bertani, Moeldoko juga banyak melakukan aktivitas bisnis.

Salah satu bisnis inovatif dan visionernya adalah mendirikan pabrik bus bertenaga listrik. Bus buatan dalam negeri ini diberi MAB (Mobil Anak Bangsa). Sebagai pemiliknya, dia berencana memberikan 5 lerss sahamnya untuk anak Indonesia yang siap berkontribusi dalam mengembangkan teknologi di era modern.

Moeldoko juga aktif di ranah ekonomi syariah. Bersama putranya ia mendirikan fintech syariah yang berorientasi membantu pelaku bisnis UMKM. Dan ia juga merupakan wakil ketua dewan pembina Pengurus Pusat Masyarakat Ekonomi Syariah (MES).

(hap/JPC)

Berita Terkait

Rekomendasi

berita hari ini

Sign In

Belum memiliki aku? Sign Up