alexametrics

Keberhasilan Perjanjian Dagang Dongkrak Ekspor Non Migas Indonesia

11 Januari 2019, 07:33:38 WIB

JawaPos.com – Langkah Kementerian Perdagangan melakukan sejumlah misi dagang dan perjanjian dagang ke beberapa negara sahabat dinilai cukup berhasil. Lewat sejumlah kerja sama dagang, kinerja ekspor non migas meningkat dan mampu menahan defisit perdagangan lebih besar.

“Perjanjian-perjanjian dagang itu kan meminimalkan ketidakpastian pasar. Meski untungnya tidak banyak, tetapi lebih terjamin pembelinya,” ungkap Candra Fajri Ananda, Guru Besar Universitas Brawijaya mengenai kebijakan Pemerintah dalam melakukan perjanjian kerja sama perdagangan dengan negara sahabat di Jakarta, Kamis (10/1).

Sejumlah perjanjian dagang dan misi dagang dilakukan pemerintah sepanjang 2018, menurutnya, menumbuhkan harapan akan lebih terjaminnya tingkat ekspor beberapa komoditas andalan Indonesia ke depan.

Sepanjang 2018, Kemendag cukup aktif membuat perjanjian dagang. Tercatat sebanyak 8 perjanjian dagang telah teratifikasi. Menyusul dua perjanjian yang tengah dalam proses ratifikasi, yaitu Indonesia-Chile CEPA dan ASEAN-Hong Kong FTA and Investment Agreement.

Kemendag juga diketahui telah melakukan penandatanganan terhadap 4 perjanjian dagang kawasan. Yakni 10th ASEAN Framework Agreement on Services, First Protocol to Amend ATIGA, ASEAN Agreement on Electronic Commerce, dan Indonesia-EFTA CEP Berbagai perjanjian dagang ini diperkirakan meningkatkan ekspor hingga USD 1,9 miliar.

Tahun lalu juga, Kemendag sudah melakukan misi dagang di 13 negara, yang sebagian besar adalah pasar nontradisional. Dalam misi tersebut, transaksi yang dihasilkan mencapai USD 14,79 miliar. Jumlah ini tumbuh 310% dibandingkan transaksi misi dagang 2017 sebesar USD 3,6 miliar.

Hanya saja memang, menurut Candra, perjanjian maupun misi dagang tak bisa secara langsung secara instan menguatkan neraca perdagangan nusantara. Pasalnya beberapa harga komoditi dunia yang menjadi dagangan utama Indonesia, seperti minyak sawit dan batu bara, mengalami penurunan harga.

Sementara Ekonom dari Universitas Indonesia Lana Soelistianingsih menyebut terdapat dua faktor yang menyebabkan tekanan pada ekspor nonmigas pada 2018. Pertama, penurunan harga komoditas unggulan baik batu bara, crude palm oil (CPO), maupun karet. Sementara, 70% ekspor Indonesia masih didominasi oleh komoditas berbasis sumber daya alam.

Di sisi lain, negara tujuan utama ekspor Indonesia mengalami perlambatan pertumbuhan ekonomi. Menurutnya, pertumbuhan ekonomi China yang sebesar 6,9% pada 2017 diprediksi turun menjadi 6,7% di 2018.

“Nah, itu pengaruh sekali. Jadi ada dua faktor, harga dan volume, dua-duanya turun,” ujar Lana.

Sementara itu, di sisi impor, ekonomi Indonesia tengah mengalami ekspansi, sehingga memerlukan impor yang lebih besar. Salah satunya, berbagai barang yang diperlukan untuk pembangunan infrastruktur.

“Infrastruktur mau jadi, MRT kereta harus masuk ke sini kan, LRT masuk ke sini. Jadi sebagian besar impor kita memang mengalami kenaikan karena ada kebutuhan infrastruktur,” imbuhnya.

Ke depan, ia memproyeksikan ekspor masih mengalami tantangan yang sama. Pasalnya, perlambatan ekonomi Tiongkok masih terus terjadi. Tahun ini, pertumbuhan ekonomi China diperkirakan mencapai 6,5%.

“Kita tak bisa menekan China untuk membeli dari kita kalau ekonominya lagi melambat. Apalagi di 2019 ini China diprediksi melambat sampai 6,5%,” pungkas Lana.

Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita sendiri mengakui, meski tak tumbuh sebesar tahun 2017 lalu, ekspor non migas sampai November 2018 sudah melampau target Rencana Kerja Pemerintah (RKP) 2018 yakni sebesar 7,5% dari target 5-7%. Kemendag sendiri menargetkan peningkatan nilai ekspor non migas sebesar 7,47% atau mencapai USD 157,9 miliar pada 2019.

Untuk mencapai target, pemerintah akan semakin fokus penetrasi pasar ekspor ke negara-negara nontradisional. Pada 2018, Kemendag menurutnya berhasil mendorong peningkatan pertumbuhan nilai ekspor di non tradisional seperti Bangladesh (15,9%), Turki (10,4%), Myanmar (17,3%), Kanada (9,0%) dan Selandia Baru (16,8%).

Editor : Mohamad Nur Asikin



Close Ads
Keberhasilan Perjanjian Dagang Dongkrak Ekspor Non Migas Indonesia