alexametrics

Kawasan Hortikultura Dikoneksikan dengan Pasar Dalam dan Luar Negeri

10 Juli 2019, 21:03:05 WIB

JawaPos.com – Kementerian Pertanian (Kementan) terus melakukan berbagai terobosan untuk memacu produksi, mutu hasil panen, dan ekspor produk hortikultura. Terutama di era digital saat ini. Salah satu yang gencar dilakukan adalah mengkonsolidasikan kelembagaan usaha petani di kawasan-kawasan produksi hortikultura yang terhubung langsung dengan jejaring ekspedisi kargo, gudang, serta sistem pemasaran berbasis daring (online).

Direktur Jenderal (Dirjen) Hortikultura Kementan Suwandi menuturkan, kebijakan Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman untuk meningkatkan ekspor dan hilirisasi produk diyakini dapat memacu pertumbuhan produksi. Di samping itu, bisa mencapai perbaikan mutu hasil panen dan memperluas akses pemasaran bagi para petani hortikultura.

“Kini untuk meningkatkan skala ekonomi usaha tani, kami tengah menghimpun dan korporasikan kelompok tani kecil-kecil di kawasan hortikultura. Di sana mereka membentuk badan usaha sejenis koperasi. Dengan begitu bisa diseragamkan dan diatur produksinya. Begitu juga dengan cara berbudidaya hingga pengelolaan pascapanen dan pemasarannya,” ujar Suwandi saat membuka Pertemuan Nasional Perencanaan Hortikultura di Jogjakarta (10/7/2019).

Suwandi menjelaskan, mengkorporasikan kelompok tani kecil pada prinsipnya agar biaya produksi petani bisa efisien. Di samping itu, kualitas dan produktivitas optimal sekaligus terhubung dengan sistem logistik serta pemasaran.

Terkait kawasan produksi hortikultura khususnya aneka cabai dan bawang merah akan diprioritaskan untuk pengembangan di luar Pulau Jawa. Untuk wilayah Jawa fokus ke hilirisasinya.

“Kami terus mendorong dan menumbuhkan Pasar Lelang di setiap kawasan produksi. Sudah berjalan pasar lelang di 13 kabupaten sentra cabai. Pasar Lelang ini gunanya untuk memotong rantai pasok, menciptakan satu harga di satu kawasan serta petani bisa dapet uang langsung karena sifatnya cash and carry,” jelasnya.

Saat ini untuk komoditas cabai sudah berkembang. Nantinya disusul komoditas lain yang rentan fluktuatif harganya seperti bawang merah.

Kementan juga gencar menghubungkan para petani hortikultura dengan pelaku usaha untuk pemasaran hasil produksi baik secara langsung maupun lewat daring.

“Kita sudah punya aplikasi pemasaran daring yang mengintegrasikan petani hortikultura by name by address dengan pelaku usaha, eksportir dan 30 puluhan startup produk pertanian. Nama aplikasinya Sartika atau Sistem Informasi Agribisnis Hortikultura,” tegasnya.

“Aplikasi ini sangat memudahkan pelaku usaha mendapatkan informasi ketersediaan produk. Petani juga terbantu memasarkan produksinya,” tambahnya.

Lebih lanjut Suwandi menekankan, terhubungnya kawasan produksi hortikultura dengan sistem ekspedisi dan logistik ini diyakini akan memacu pertumbuhan ekspor dan produksi nasional. Hasil pertanian harus didukung dengan fasilitas cargo yang terjangkau harganya supaya lebih kompetitif. Pasar induk atau wholeseller didesain lebih modern, bersih dan ekonomis supaya kualitas produk terjaga, aktivitas transaksi lebih lancar.

“Kita optimalkan pemanfaatan gudang penyimpanan (warehouse, red) berkapasitas besar yang dilengkapi sistem rantai-pendingin seperti yang sudah dibangun di Surabaya, Makasar, Medan dan kota-kota pelabuhan lainnya serta terkoneksi wholeseller yang menyajikan produk Indonesia di Singapura, Malaysia, Hongkong, dan pusat pasar luar negeri lainnya,” terangnya.

“Konektivitas sistem agribisnis dari hulu hingga hilir di dalam kawasan dengan pasar ini menjamin pertanian Indonesia lebih maju dan unggul dalam pentas pertanian dunia, sebagaimana arahan Mentan Andi Amran Sulaiman untuk mendorong ekspor dan mewujudkan Visi Indonesia sebagai Lumbung Pangan Dunia 2045,” pinta Suwandi.

Editor : Ilham Safutra



Close Ads