JawaPos Radar | Iklan Jitu

Warga Perbatasan Dilarang Transaksi Pakai Ringgit

08 September 2017, 07:31:09 WIB | Editor: Ilham Safutra
Warga Perbatasan Dilarang Transaksi Pakai Ringgit
Masyarakat transaksi yang menggunakan mata uang asing (RIKO ADITYA/RADAR NUNUKAN/JawaPos.com)
Share this

JawaPos.com - Tinggal di perbatasan dan lebih dekat dengan negara tetangga, Malaysia, membuat warga Kecamatan Nunukan, Tarakan, Kalimantan Utara (Kaltara) lebih terbiasa menggunakan mata uang Ringgit Malaysia (RM) untuk bertransaksi.

Kini transaksi seperti ini mulai mendapat sorotan. Masyarakat dilarang untuk menggunakan mata uang asing untuk transaksi. Selain dilarang pula pakai permen untuk pengembalian uang.

Sesuai surat pengumuman yang disebarkan, masih banyak keluhan masyarakat tentang adanya transaksi jual beli tanpa menggunakan rupiah. Juga, maraknya praktik pengembalian uang dalam bentuk permen. Bahkan, ditemukan pelaku usaha yang menolak pembayaran dengan menggunakan koin. Selain itu, di wilayah Kecamatan Nunukan, masih ditemukan pembayaran dengan mata uang ringgit. Hal tersebut sangat bertentangan dengan Undang-Undang (UU) Nomor 7/2011 tentang Mata Uang.

Warga Perbatasan Dilarang Transaksi Pakai Ringgit
Ilustrasi (Pixabay.com)

Salah seorang pedagang yang ditemui media ini, Rusmi, mengaku sering melakukan pengembalian dengan meng­gunakan permen. Hal itu dilakukan dengan tidak sengaja karena kebetulan tidak memiliki uang pecahan kecil. "Sebelum dikembalikan dengan permen, ditanya dulu kepada pembeli, apakah ingin menerima permen atau tidak. Jika tidak, akan diusahakan mencari kembalian dengan uang," katanya.

Sementara itu, untuk penggunaan mata uang logam, dia telah menerimanya, kecuali ringgit. "Kalau mata uang logam, saya terima. Tapi, untuk ringgit, saya tidak terima. Sebab, mau digunakan untuk apa," lanjutnya.

Sementara itu, Camat Nunukan Harman menyatakan bahwa peraturan penggunaan mata uang telah lama ada. Namun, di Kecamatan Nunukan, ditemukan praktik pelaku ekonomi dengan menggunakan transaksi selain rupiah. Terkadang, mereka melakukan pengembalian dengan permen. "Aturan tersebut sedang disosialisasikan kepada pelaku ekonomi di Kecamatan Nunukan agar masyarakat dapat mengetahuinya," ujar Harman kepada Radar Nunukan (Jawa Pos Group) pada Kamis (7/9).

Menurut dia, jika para pelaku ekonomi terus melakukan praktik tersebut saat ini, hal itu sangat berpotensi melanggar aturan. Kini keluhan mulai banyak datang dari masyarakat. 

(nal/eza/c16/ami)

Berita Terkait

Rekomendasi

berita hari ini

Sign In

Belum memiliki aku? Sign Up