CT: Risiko Resesi Sangat Kecil, tapi Kesenjangan Ekonomi Bisa Melebar

8 Agustus 2022, 19:09:07 WIB

JawaPos.com – Kondisi ekonomi global menghadirkan keresahan di setiap negara, termasuk Indonesia. Namun, pengusaha masih yakin bahwa ekonomi RI bakal tumbuh tahun ini. Meski demikian, bayang-bayang risiko resesi yang kecil masih ada.

CEO CT Corps Chairul Tanjung menyebutkan, risiko resesi di Indonesia sangat kecil. Alasannya, kondisi tanah air berbeda dengan negara-negara lain.

Salah satu penopang ekonomi adalah sumber daya alam (SDA) yang masih melimpah. Hal itu membuat industri tanah air berada di sisi yang diuntungkan.

“Contoh saja batu bara yang naik dari USD 40 per ton menjadi USD 400 per ton. Artinya, devisa kita juga terus berkembang,” ujarnya dalam Gala Dinner & Economic Outlook Bank Mega 2022 di Surabaya akhir pekan lalu.

Jika dibandingkan dengan inflasi negara-negara lain, Indonesia yang tercatat 4,9 persen per Juli termasuk cukup rendah. RI hanya kalah rendah dengan Tiongkok dan Jepang yang masih di kisaran 2 persen. Namun, sebagian besar negara besar sudah tembus 9 persen.

Menurut perkiraannya, harga tinggi komoditas tersebut juga masih bertahan hingga akhir tahun. Karena itu, ekonomi di Indonesia masih bakal bertahan.

Nilai rupiah pun ditengarai tak terlalu anjlok. Selama periode 1 Januari 2021 hingga 2022, rupiah melemah 4,43 persen dibandingkan dolar Amerika Serikat (USD).

Pria yang akrab disapa CT pun membandingkan dengan yen Jepang yang anjlok 21 persen pada periode yang sama. Lainnya, rupee India yang memiliki populasi besar dan sumber daya yang melimpah, pun melemah 7,39 persen.

“Masalah yang harus ditangani adalah disparitas ekonomi yang bakal melebar. Sebab, yang diuntungkan dengan naiknya komoditas adalah pengusaha. Sedangkan pekerja belum tentu naik gaji dan bisa mengimbangi inflasi,” paparnya.

Realisasi pertumbuhan ekonomi triwulan II 2022 yang mencapai 5,44 persen diyakini akan tetap terjaga. Kementerian Keuangan (Kemenkeu) optimistis sepanjang tahun ini akan tetap ada di atas 5 persen.

“PDB kuartal II 2022 melampaui ekspektasi pasar. Pencapaian itu juga semakin memperkuat level perekonomian untuk terus melaju melampaui level prapandemi,” ujar Kepala Biro Komunikasi dan Layanan Informasi Kemenkeu Rahayu Puspasari akhir pekan lalu.

Rahayu menambahkan, relaksasi aturan perjalanan yang mendorong peningkatan konsumsi masyarakat, terutama pada masa Ramadan dan Lebaran, serta kinerja ekspor komoditas unggulan yang masih sangat kuat menjadi faktor kunci pendorong pertumbuhan triwulan II. “Ke depan, perekonomian diperkirakan masih melaju dengan kuat,” imbuhnya.

Indikator yang mencerminkan pergerakan ekonomi ke depan (leading indicators) masih menunjukkan laju pemulihan yang stabil. Rahayu memerinci, indikator purchasing managers index Indonesia kukuh berada di zona ekspansi dalam 11 bulan terakhir dan menguat pada Juli 2022.

Editor : Estu Suryowati

Reporter : (bil/dee/c7/dio)

Saksikan video menarik berikut ini: