JawaPos Radar

Kemenkeu Tegaskan Kondisi Ekonomi RI Tidak Menakutkan

07/09/2018, 18:54 WIB | Editor: Saugi Riyandi
Kemenkeu Tegaskan Kondisi Ekonomi RI Tidak Menakutkan
Kondisi ekonomi Indonesia tidak begitu mengkhawatirkan (Dok. JawaPos.com)
Share this

JawaPos.com - Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mengatakan, perekonomian Indonesia saat ini mulai terasa imbasnya dari gejolak global yang mengganggu sektor keuangan. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pun ikut tersungkur hingga anjlok secara signifikan sebesar 4,5 persen meninggalkan jauh level 6.000-nya.

Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Hoesen menyatakan, tantangan ekonomi global saat ini berasal dari perang dagang antara Amerika Serikat dan Tiongkok, serta meningkatnya eskalasi krisis di Argentina, Afrika Selatan, dan Turki.

Namun, Hoesen menyebut kinerja pasar modal Indonesia masih sangat baik. Terlihat dari transaksi saham yang makin membaik.

Kemenkeu Tegaskan Kondisi Ekonomi RI Tidak Menakutkan
infografis perbandingan ekonomi Indonesia dalam 20 tahun terakhir (Rofiah Drajad/JawaPos.com)

"Masih maraknya aktivitas perusahaan yang menggalang dana melalui pasar modal," ujarnya dalam konferensi pers di Gedung BEI, Jakarta, Jumat (7/9).

Dalam kesempatan yang sama, Kepala Badan Kebijakan Fiskal (BKF) Kementerian Keuangan Suahasil Nazara menyampaikan, kondisi ini dinilainya perlu dipahami secara menyeluruh oleh para pelaku pasar. Sehingga para investor tidak mudah panik oleh sentimen yang terjadi di global.

Menurutnya, jika dilihat dari sisi fundamental ekonomi saat ini terbilang baik. "Komponen pembentuknya dari investasi, ekspor, impor, dan konsumsi. Teman-teman pelaku pasar ini yang nantinya akan ketemu langsung investor, jadi mereka perlu punya pengetahuan tentang ini," imbuhnya.

Kondisi perekonomian Indonesia dinilai masih jauh lebih baik dibandingkan negara lain dilihat dari pertumbuhan ekonomi yang sehat, inflasi yang terkendali, ruang moneter yang memadai (suku bunga dan cadangan devisa), terjaganya kepercayaan konsumen, dan stabilitas politik.

Suahasil menambahkan, tantangan pertumbuhan ekonomi Indonesia ke depannya bersumber dari dinamika perekonomian global yakni tekanan pasar keuangan akibat normalisasi moneter AS, moderasi ekonomi Tiongkok, proteksionisme, perang dagang AS dan Tiongkok, ketegangan geopolitik, dan perubahan iklim atau cuaca ekstrem.

"Strategi perbaikan defisit transaksi berjalan melalui kebijakan fiskal pengendalian impor melalui penggunaan B20, kenaikan tarif impor barang konsumsi, peningkatan komponen lokal pada proyek infrastruktur, serta mendorong ekspor dan investasi," tandasnya.

(ce1/mys/JPC)

Berita Terkait

Rekomendasi

berita hari ini

Sign In

Belum memiliki aku? Sign Up