alexametrics

Prospek Bisnis 2020, GPEI Andalkan Komoditas Pertanian

6 Desember 2019, 11:49:52 WIB

JawaPos.com – Peluang untuk meningkatkan ekspor masih terbuka lebar. Namun, untuk mewujudkannya, Indonesia masih menghadapi sejumlah tantangan.

Untuk memaksimalkan peluang yang masih terbuka tersebut, kuncinya adalah meningkatkan daya saing. “Kalau kita lihat seperti sektor industri, terutama padat karya, dengan kenaikan UMK 8,51 persen, bahkan termasuk sektoral 10 persen, itu berat,” ungkap Ketua Gabungan Perusahaan Ekspor Indonesia (GPEI) Jatim Isdarmawan Asrikan.

Karena itulah, sebagian besar industri di ring 1 berencana melakukan relokasi ke tempat yang UMK-nya dinilai kompetitif. Bukan hanya UMK, faktor yang memengaruhi daya saing adalah biaya logistik.

Dia mencontohkan, biaya pengiriman di domestik masih jauh lebih mahal ketimbang internasional. Biaya logistik berpengaruh besar karena selama ini ditanggung eksporter.

“Jadi, daya saing Indonesia kalah oleh Thailand dan Vietnam,” ujarnya.

Padahal, banyak potensi ekspor yang terbuka luas. Misalnya, komoditas pertanian. Selama ini kontribusi produk pertanian, baik yang belum diolah maupun sudah diolah, masih mencapai 20–25 persen.

“Persoalan yang masih mendasar adalah ketersediaan bahan baku. Contohnya, kakao. Industri pengolahan kakao di Gresik membutuhkan 150 ribu ton kakao setiap tahun. Tapi, produksi Jatim tidak sampai 50 ribu ton,” paparnya.

Selain kakao, komoditas lain yang potensial adalah kopi. Dengan banyaknya pabrik kopi di Jatim, sedikitnya produksi menjadi persoalan tersendiri.

“Makanya, saya selalu katakan, hulu harus dipunyai, jangan sampai kalah dari negara lain,” tuturnya.

Meski begitu, tahun depan dia optimistis ekspor dapat tumbuh 5–10 persen. Sampai Oktober lalu, pertumbuhan ekspor hanya 1,5 persen.

“Kenaikan ini terjadi karena volume dan harga. Jadi, masih ada peluang bagus untuk mendorong ekspor,” katanya.

Karena itu, keberadaan free trade agreement (FTA) sangat penting. Terkait dengan FTA, tinggal bagaimana langkah pemerintah melobi negara lain. Menurut dia, pemerintah harus gencar membuat perjanjian dagang karena akan menguntungkan ekspor.

“Sebagai contoh, kalau sebelumnya kirim ke Eropa kena pajak, kini menjadi 0 persen. Tentu pengaruh ke harga signifikan,” jelasnya.

Selain itu, upaya untuk memperluas pasar diperlukan. Terutama dengan mengadakan pameran di negara lain. Bukan hanya pameran di dalam negeri, pihaknya juga menghelat pameran sampai luar negeri.

“Baru-baru ini kami berkunjung ke Tajikistan dan Rusia,” ungkapnya. Ke depan, pihaknya memperluas pasar hingga Afrika, Amerika Latin, Timur Tengah, dan Dubai.

GPEI Jatim

Jumlah anggota: 350 eksporter

Produk andalan ekspor: hasil laut, makanan, komoditas hortikultura, consumer goods, plastik, mebel

Editor : Estu Suryowati

Reporter : (res/c14/oki)


Close Ads