JawaPos Radar | Iklan Jitu

Empat Tahun Kerja Jokowi-JK, Desa Makin Makmur

06 November 2018, 12:58:16 WIB | Editor: Saugi Riyandi
Empat Tahun Kerja Jokowi-JK, Desa Makin Makmur
Tinjau padat karya bersama Presiden. (Dok. Kemendes)
Share this

JawaPos.com - Pemerintah telah memaparkan hasil-hasil pembangunan yang dilakukan selama empat tahun kerja pemerintahan Joko Widodo (Jokowi)-Jusuf Kalla (JK). Salah satu yang menjadi fokus utama adalah keberhasilan Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi (Kemendes PDTT) dalam mengembangkan ekonomi kawasan perdesaan.

Menteri Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi (Mendes PDTT) Eko Putro Sandjojo mengungkapkan bahwa pemerintah telah menyalurkan dana desa hingga Rp 187 triliun dalam empat tahun ini. Persentase penyerapannya pun membaik. Tercatat, dana desa pada 2015 sebesar Rp 20,67 triliun dengan penyerapan 82,72 persen, tahun 2016 dengan dana desa Rp 46,98 triliun dengan penyerapan 97,65 persen, serta pada 2017 dengan dana desa Rp 60 triliun plus penyerapan 98,54 persen.

Peningkatan penyerapan itu menunjukkan bahwa tata kelola di desa membaik. Keberhasilan penyaluran dana desa juga ditentukan pendampingan yang disediakan pemerintah.

Empat Tahun Kerja Jokowi-JK, Desa Makin Makmur
Dana desa membuat ekonomi baru di masyarakat. (Dok. Kemendes)

"Kami punya 40 ribu pendamping desa. Saat ini kami juga bekerja sama dengan Forum Pertides (Perguruan Tinggi untuk Desa) beserta seratus universitas yang tiap tahun mengirim 75 ribu mahasiswa KKN tematik untuk membantu pendampingan," ujar Menteri Eko dalam Forum Merdeka Barat (FMB) 9: 4 Tahun Kerja Pemerintahan Joko Widodo-Jusuf Kalla dengan tema Peningkatan Kesejahteraan dan Kebijakan Afirmatif di Aula Sekretariat Negara, Jakarta, Selasa (23/10).

Dari segi produktivitas, dana desa sangat masif meningkatkan kegiatan ekonomi dan kualitas hidup masyarakat. Dalam aspek menunjang aktivitas ekonomi masyarakat, dana desa telah digunakan untuk membangun jalan desa sepanjang 158.691 kilometer, jembatan 1.028.225 meter, tambatan perahu 4.711 unit, 14.770 kegiatan BUMDes, 6.932 pasar desa, 179.625 penahan tanah, air bersih 942.927 unit, dan saluran irigasi 39.351 unit.

Demi menunjang kualitas hidup, dana desa digunakan untuk membangun 18.477 posyandu, 8.028 polindes, drainase 24.005.604 meter, 178.034 fasilitas MCK, gedung pendidikan anak usia dini (PAUD) 48.694 unit, embung 3.026 unit, dan 37.662 sumur.

"Dampaknya, ada peningkatan pendapatan per kapita/bulan di perdesaan. Pada 2014 sebesar Rp 572.586, kemudian 2018 ini menjadi Rp 804.011. Rata-rata peningkatan pendapatan warga desa tercatat 6,13 persen per tahun selama 2015–2017. Saya yakin tujuh tahun ke depan sudah bisa di atas dua juta,’’ kata Eko.

Dengan pertumbuhan ekonomi yang membaik, desa semakin makmur. Hal itu ditunjukkan dengan berkurangnya jumlah desa tertinggal dan menurunnya tingkat inflasi di perdesaan. Angka kemiskinan pun turun menjadi 7,02 persen pada 2018. Ditambah menurunnya tingkat pengangguran terbuka (TPT) menjadi 3,72 persen dari 4,01 persen.

"Badan Pusat Statistik mencatat, ada penurunan jumlah warga miskin hingga 1,82 juta. Sebesar 1,29 juta jiwa ada di desa. Selain itu, inflasi di desa yang pada 2015 sebesar 5,8 persen membaik di tahun ini menjadi 3,15 persen. Jumlah desa tertinggal pun berkurang dari 20.432 pada 2015 menjadi 12.397 pada 2018," jelasnya.

Eko menambahkan, program dana desa yang dicanangkan sejak 2015 hanyalah stimulan. Desa terus didorong agar mandiri dengan memiliki pendapatan yang diperoleh dari hasil pengelolaan potensi asli desa.

’’Kesuksesan program dana desa ini jadi perhatian dunia. Peraih Nobel bidang ekonomi Joseph Stiglitz juga mengapresiasi kebijakan ini. Sejumlah negara Asia-Pasifik dan kawasan lainnya siap meniru model pembangunan perdesaan yang saat ini diterapkan di Indonesia," pungkasnya.

(srs/JPC)

Berita Terkait

Rekomendasi

berita hari ini

Sign In

Belum memiliki aku? Sign Up