JawaPos Radar

DPR Ngaku Was-Was Saat Rupiah Sudah Tembus Rp 13.700-an

05/03/2018, 19:37 WIB | Editor: Saugi Riyandi
DPR Ngaku Was-Was Saat Rupiah Sudah Tembus Rp 13.700-an
Dolar AS (Dok. JawaPos.com)
Share this image

JawaPos.com - Nilai tukar Rupiah terhadap Dolar Amerika Serikat (USD) masih belum menunjukkan sinyal positif. Berdasarkan kurs referensi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia (BI), nilai tukar sudah tembus Rp 13.740 per USD.

Anggota Komisi XI DPR RI, Ecky Awal Mucharam, mengaku cukup was-was dengan perkembangan Rupiah saat ini. Menurutnya, kondisi Rupiah akan berdampak terhadap inflasi dari sisi impor.

"Level Rp 13.700 itu sudah sangat tinggi. Padahal inflasi dari domestik pun sudah mulai terasa, karena pemerintah telah menaikkan BBM nonsubsidi pada Januari dan Februari lalu," ujarnya dalam keterangan tertulis, Senin (5/3).

Rupiah menjadi salah satu mata uang yang terdepresiasi cukup tinggi, bersama dengan Peso, Bath, dan Won. Sementara, APBN 2018 menetapkan nilai tukar Rupiah pada level Rp 13.400 per USD.

"Saya melihat ini sebagai ancaman serius terhadap daya beli dan pertumbuhan ekonomi. Sulit mencapai 5,4 persen kalau nilai tukar dan inflasi saja tidak beres. Tahun lalu saja, ketika inflasi lebih disumbang dari domestik saja, pemerintah hanya mampu mencapai pertumbuhan 5,07 persen. Imbal hasil SPN pun akan naik jika inflasi tinggi. Padahal, kita sudah yang tertinggi di Asean. Yang paling mengkhawatirkan adalah cicilan bunga utang," jelasnya.

Dia menambahkan, tekanan terhadap Rupiah bersumber dari perkembangan ekonomi Amerika Serikat (AS). Ekonomi AS yang tumbuh cukup baik, berdampak pada rencana besaran dan waktu kenaikan the Fed Fund Rate. Inflasi AS pada Januari 2018 mencapai 2,1 persen (yoy) sedangkan tingkat pengangguran 4,1 persen atau turun dari 4,8 persen pada 2017.

"Selain itu, AS juga berencana melakukan pemotongan pajak korporasi, sehingga menyebarkan aura positif bagi dunia usaha. Kombinasi sektor moneter dan fiskal ekspansif memberikan dampak positif bagi USD dan menyebabkan apresiasi terhadap mata uang dunia," tegasnya.

Ecky juga menambahkan bahwa rentannya gejolak nilai tukar disebabkan lemahnya fundamental ekonomi nasional. Selain itu, persoalan juga terletak pada cadangan devisa yang dinilai masih rendah dibanding negara-negara lain. Padahal, cadangan devisa menjadi amunusi meredam gejolak di pasar.

"Yuan bergerak stabil karena cadangan devisanya kuat, jadi bisa menyerap gejolak yang datang dari berbagai bersumber," tutupnya.

(hap/JPC)

Berita Terkait

Rekomendasi

berita hari ini

Sign In

Belum memiliki aku? Sign Up