alexametrics
Peringati Hari Anti Korupsi

Sri Mulyani Cerita Kelamnya Birokrasi Indonesia 15 Tahun Lalu

3 Desember 2019, 11:53:40 WIB

JawaPos.com – Memperingati hari anti korupsi, Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati bercerita bahwa Indonesia sempat dilanda krisis integritas pada 15 tahun silam. Hal tersebut sempat membuat terjadinya korupsi diseluruh birokrasi.

“(Saat itu) Korupsi sudah masuk ke dalam suatu sistem. Kita semua berjamaah melakukan korupsi. Birokrasi yang tidak korupsi di luar in line. Value sudah dirubah yang salah menjadi benar,” ujarnya di gedung Ditjen Pajak Jakarta, Selasa, 3 Desember 2019.

Kemudian, dirinya yang saat itu menjabat sebagai Menteri Keuangan berdiskusi dengan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) untuk memulai pemberantasan korupsi dari sektor lembaga strategis.

“Dalam situasi seperti itu kita berpikir keras bagaimana memulainya. Kalau ditanya dari bawah sampai yang paling tinggi bilang susah. 15 tahun lalu itu. Lalu kita memulai reformasi birokrasi. Mungkin kita mulai dari institusi yang paling strategis hanya pajak dan bea cukai kemudian Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) dan Mahkamah Agung (MA),” tuturnya.

Menurutnya, saat ini penyebab utama terjadinya korupsi karena gaji yang tidak memenuhi kebutuhan hidup sehingga mengharuskan mereka untuk mencari pendapatan dari sumber lainnya. “Kalau ngga korupsi enggak bisa hidup. Jadi harus menerima sumber lainnya. Anda melayani tapi mukanya Pengen dikasih. Kalau ngga bayar lebih ngga akan dilayani,” ucapnya.

Namun, saat ini, Sri Mulyani mengklaim, budaya seperti itu sudah tidak ada lagi. Sehingga para birokrat tidak mendapat tekanan yang meruntuhkan integritas.

“Kita (sudah) hilangkan begitu. Sehingga birokrat kita tegak melayani. Milenial kita sudah bebas, jadi dari awal sudah tidak punya warisan masalah. Milenial ini semangatnya harus kita matangkan. Calon pemimpin yang bersih,” tegasnya.

Sri Mulyani menekankan, korupsi merupakan musuh nyata yang dapat menghancurkan suatu negara. Hancurnya suatu negara bukan berasal dari geopolitik ataupun perang dagang, melainkan hancurnya integritas dalam diri seorang pemimpin atau seorang yang mengemban amanah.

“Ngga perlu musuh dari luar tapi musuh dari diri sendiri yang bisa efektif dan manjur meruntuhkan negara. Integritas bukan suatu yang berubah. Sesuatu yang anda yakini ngga ada yang boleh di perjualbelikan. Karena identik dengan hati anda,” tutupnya.

Editor : Bintang Pradewo

Reporter : Romys Binekasri



Close Ads