JawaPos Radar

Mereka Para Eksekutif Indonesia di Silicon Valley

Laporan Michelle Lai dari San Francisco

02/09/2017, 19:03 WIB | Editor: Dwi Shintia
Mereka Para Eksekutif Indonesia di Silicon Valley
DEDIKASI: Nadia Anggraini, Sid Sridhar, dan Sonita Lontoh. (MICHELLE LAI/JAWA POS)
Share this

JawaPos.com - Ada banyak eksekutif asal Indonesia yang meniti karir di Silicon Valley, tempat di mana gairah teknologi dan bisnis berpadu untuk mengubah dunia. Berikut sekelumit cerita dari tiga eksekutif di sana yang punya kepedulian terhadap perkembangan start-up.

Sonita Lontoh, Vice President of Strategic Marketing Siemens-Digital Grid
Butuh Ekosistem Start-up Kuat

Dibesarkan di Jakarta, Sonita Lontoh mengambil studi di Berkeley, AS. Setelah lulus, dia membangun perusahaan game online yang berbasis di Bay Area dan Beijing. Dua tahun kemudian, dia menjual perusahaannya. Setelah kemudian bekerja di beberapa perusahaan teknologi dan kuliah lagi, dia meraih gelar master di bidang teknik dan pemasaran dari MIT dan Kellogg. Sonita pun kemudian berkarir menjadi eksekutif Internet of Things (IOT) yang fokus pada sektor industri dan energi.

Mereka Para Eksekutif Indonesia di Silicon Valley
PENULIS: Michelle Lai. (MICHELLE LAI FOR JAWA POS)

Sonita masih menjalin hubungan erat dengan tanah airnya. Dia juga membantu perusahaan-perusahaan dari Silicon Valley ke Indonesia, memfasilitasi kunjungan antarnegara yang dilakukan para pengusaha dari kedua negara untuk saling belajar. Program tur tersebut dinamakan Aliansi Teknologi SVA (SVA Tech).

SVA Tech juga membawa penggiat start-up dari Asia Tenggara ke Bay Area (area metropolitan di Teluk San Francisco, termasuk Silicon Valley di dalamnya, Red) untuk bertemu para inkubator, modal ventura, serta penggiat start-up lainnya. Beberapa perusahaan yang telah mengikuti tur itu, misalnya, Bukalapak dan Happy 5.

Para pengusaha dari perusahaan-perusahaan tersebut belajar tentang pengembangan teknologi dan memperluas basis investor. Mereka juga berbagi dengan penggiat start-up yang mempunyai kesamaan dengan industri mereka. Mereka saling berbagi mengenai cara memecahkan masalah.
”Saya percaya, hal yang paling penting untuk dipelajari para pebisnis start-up dari Silicon Valley adalah cara untuk tumbuh besar dengan cepat,” katanya.

Beberapa start-up Indonesia telah membangun koneksi dengan Silicon Valley. Contohnya, Tokopedia, yang valuasinya naik USD 100 juta dan telah mendapatkan investasi dari modal ventura di Silicon Valley, Sequoia Capital.

Ditanya tentang apa yang bisa membuat start-up Indonesia berkembang, dia menjawab ada dua hal. Pertama, yang bisa meningkatkan layanan perusahaan berbasis teknologi seperti teknologi, logistik, dan ekosistem start-up yang kuat. E-commerce perlu menyediakan solusi untuk orang yang tidak punya kartu kredit. Soal logistik, bergantung infrastruktur di Indonesia. Soal ekosistem, itu terkait dengan bagaimana para investor, mentor, dan pengusaha saling berinteraksi dan mendukung satu sama lain.  

Hal kedua adalah aturan pemerintah. Investor dan pengusaha baru bisa berkembang jika ada regulasi yang jelas. ”Investor asing sering kali ragu untuk berinvestasi karena aturan mainnya tidak selalu jelas,” ujarnya. Ketika sudah jelas pun, terkadang aturan itu berubah di tengah jalan. Ketika modal sulit masuk, pertumbuhan pengusaha akan menciut, padahal Indonesia adalah pasar yang potensial.

Nadia Anggraini, Analytics dan Insights di Uber
Bekerja di Start-up Itu Bergengsi

Lahir di Medan, Nadia mulai bersekolah di Singapura di usia 9 tahun. Lalu, dia kuliah di Wharton School di University of Pennsylvania. Setelah lulus, dia bekerja di perusahaan pembiayaan mikro, Kiva, di Bali. Nadia juga sempat bekerja di perusahaan investasi sosial, The Roberts Enterprise Development Fund (REDF). Kemudian, dia pindah ke San Francisco dan bergabung dengan perusahaan konsultan The Boston Consulting Group (BCG).

Nadia punya passion di bidang pembangunan internasional. Dia berharap suatu saat bisa kembali ke Indonesia memberi dampak positif kepada jutaan orang.

Setelah bekerja di BCG dan REDF, Nadia kembali ke Jakarta dan bekerja di PR Rekan Usaha Mikro Anda (RUMA) serta Grab Taxi. Dia meraih gelar master dari Stanford di bidang pembuatan kebijakan dan selalu ingin bekerja di negara berkembang.

Terdorong keinginan untuk mengembangkan keterampilan bisnis dan teknologi yang sangat kuat, Nadia pun kembali ke San Francisco. Dia masih ingin pulang ke rumah suatu hari nanti dan terlibat dalam pembangunan internasional.

Pernah bekerja di start-up dengan dua ekosistem yang berbeda seperti di Bay Area dan pemula di Indonesia, Nadia memandang perbedaan antara keduanya. Di Bay Area, menemukan kecocokan produk dan market itu merupakan suatu hal yang dikejar dengan sungguh-sungguh. ”Di Indonesia sering kali yang penting adalah mencari tahu tantangan operasional, bukan berinovasi pada produk,” tuturnya.

Menurut Nadia, kunci perbedaannya adalah, di Silicon Valey, bekerja di start-up adalah hal yang bergengsi. Bahkan meski orang tersebut gagal. Bergabung dengan start-up tahap berikutnya bukanlah langkah karir yang berisiko tinggi dalam pengertian itu. Sebaliknya, bekerja di start-up di Indonesia biasanya bukan hal yang bergengsi. Dan, sering kali perusahaan itu seperti bersaing di tahap awal.

’’Kegagalan di level profesional lebih sering terjadi,” ujarnya. Di Bay Area, Nadia tetap berhubungan dengan teman-teman dari komunitas WNI. Dia pun merasa lebih menjadi orang Indonesia di Bay Area. 


Sid Sridhar, Finance Lead di Wave (International Money Transfer)
Insinyur Hebat dan Infrastruktur Baik

Sid lahir di India dan pindah ke Jakarta ketika berumur 5 tahun. Dia bersekolah di Jakarta sampai dia kuliah di AS, tepatnya di The Wharton School at the University of Pennsylvania. Setelah lulus, dia bekerja di sebuah bank investasi sebelum meraih gelar MBA di The Kellogg School of Management.

Sejak itu, Sid mentransisikan karirnya ke perusahaan raksasa teknologi seperti Google dan Uber, mengurusi valuta asing, treasury, dan payments. Dalam prosesnya, Sid telah bekerja di dua perusahaan tersebut secara global dan berpindah-pindah, termasuk ke Indonesia.

Sid tetap berhubungan dengan WNI di San Francisco. Sebagai alumnus Jakarta International School, dia bersosialisasi dengan komunitas alumni. Sebagai tambahan, salah seorang GM Uber lama yang bekerja dengannya, Alan Jiang, membangun Uber Indonesia dan biasa mengadakan happy hour di markas Uber untuk sekelompok WNI. Dia juga kembali ke Indonesia setahun atau dua tahun sekali, ke tempat tinggal orang tuanya.

Sementara itu, di Uber, Sid menghabiskan 25 persen waktunya untuk memecahkan masalah terkait keuangan di Indonesia. Timnya menghabiskan waktu di Indonesia untuk memilih mitra pembayaran dan mengurusi hal lain terkait infrastruktur pembayaran.

Sid memiliki pengalaman mendalam di bidang keuangan dan financial technology (fintech). Dia percaya, tantangan utama yang dihadapi fintech di Indonesia adalah ketergantungan yang berlebihan pada sektor perbankan dan infrastruktur yang ada. ”Bank terkadang bisa menghalangi perkembangan fintech karena mereka akan kehilangan pasar saat fintech sampai pada titik di mana mereka dapat benar-benar mengganggu para pemain lama,” kata Sid.

Secara umum, untuk memupuk ekosistem teknologi yang dinamis dan sukses di Indonesia, Sid yakin hal yang amat standar sangatlah diperlukan: insinyur hebat, infrastruktur yang lebih baik, pikiran tentang kepemimpinan, serta modal dan inkubator yang efektif seperti Y Combinator dan 500 Startups. (*)

rin/c17/sof

Berita Terkait

Rekomendasi

berita hari ini

Sign In

Belum memiliki aku? Sign Up