alexametrics

Banyak Bencana Alam, Pemerintah Cermati Distribusi Bahan Pangan

Agar Tak Ganggu Inflasi
2 Februari 2021, 12:57:19 WIB

JawaPos.com – Kementerian Keuangan (Kemenkeu) juga menyoroti bencana alam yang akhir-akhir ini terjadi di Tanah Air. Menteri keuangan (Menkeu) Sri Mulyani Indrawati khawatir kondisi ini dapat mengganggu inflasi dari sisi persediaan.

“Kalau supply-nya itu disrupsinya itu karena bencana alam, ya kita akan segera make sure bahwa konektivitas bisa jalan kembali, flow of goods bisa terjadi,” ujarnya dalam konferensi pers Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK) secara virtual, Senin (1/2).

Sri Mulyani mengatakan, pemerintah melakukan antisipasi kebutuhan pokok strategis seperti bahan makanan pokok, gula, minyak goreng, daging ayam, daging sapi, dan beras. Apalagi, sebentar lagi akan memasuki bulan Ramadhan dan hari raya Lebaran.

“Nanti menjelang puasa pasti intensitas untuk koordinasi di antara pemerintah, dan nanti dengan Bank Indonesia akan kita pererat lagi untuk menjaga dari sisi antisipasi supply side-nya,” ungkapnya.

Pada kesempatan yang sama, Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo juga mengaku, bahwa bencana alam yang terjadi memang mengganggu produksi maupun juga pasokan.

“Kalau yang berkaitan dengan gangguan suplai itu kan banyak berkaitan dengan kita masih mendapatkan musibah di beberapa daerah karena bencana gempa atau banjir sehingga itu mengganggu,” ucapnya..

Namun, menurutnya inflasi sejauh ini masih terbilang rendah, yang berdasarkan rilis Badan Pusat Statistik (BPS) adalah 0,26 persen pada Januari 2021 secara bulanan. Sementara secara tahunan, inflasi Januari 2021 sebesar 1,55 persen.

“Tapi, kan kita tahu bahwa tahun ini sasarannya kan 3 persen plus minus 1 persen. Insya Allah akan kita kendalikan antara 2 persen sampai 4 persen,” pungkasnya.

baca juga: Permintaan Domestik Masih Lemah, Inflasi Januari 0,26 Persen

Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Suhariyanto menyampaikan, inflasi Januari utamanya disebabkan oleh kenaikan harga cabai rawit (0,08 persen), ikan segar (0,04 persen), tempe (0,03 persen), tahu mentah (0,02 persen), dan tarif jalan tol (0,02 persen). “Cabai rawit dan ikan segar ini kalau kita lihat kenaikan harganya dikarenakan intensitas curah hujan yang tinggi karena dampak La Nina, sehingga menyebabkan banjir di beberapa sentra produksi, cuaca yang buruk juga membuat harga ikan naik,” kata Suhariyanto, Senin (1/2).

“Jadi, kenaikan harga cabai rawit dan ikan dipengaruhi supply karena cuaca buruk,” imbuh pria yang akrab disapa Kecuk itu.

Sementara itu, kenaikan harga tempe dan tahu mentah dikarenakan kenaikan harga bahan baku di pasar internasional. “Permintaan tahu-tempe tinggi, kenaikan dipicu harga kedelai,” ungkap Kecuk.

Lebih lanjut Kecuk menyampaikan, yang paling perlu diwaspadai oleh pemerintah adalah komoditas bawang merah. “Kita harapkan banjir tidak berdampak buruk, sehingga potensi tetap terjaga,” ungkap Kecuk.

Sedangkan untuk komoditas beras, catatan BPS, selama 2 tahun terakhir ini harga beras relatif sabil. BPS memperkirakan pengaruh harga beras terhadap inflasi 2021 akan tetap stabil.

“Dan saya sampaikan, pengamatan Desember 2020, produksi beras pada Januari hingga Maret akan bagus,” pungkasnya.

 

Editor : Estu Suryowati

Reporter : Romys Binekasri




Close Ads