JawaPos.com - Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI) menyatakan belum saatnya tarif lintas raya terpadu (LRT) Jabodebek diterapkan sesuai dengan harga dinamis atau harga normal. Menurut Ketua YLKI Tulus Abadi, penerapan tarif dinamis baru bisa dilakukan apabila kebutuhan ideal bagi konsumen sudah terpenuhi.
Sementara saat ini, headway atau waktu tunggu kedatangan LRT Jabodebek masih lama mencapai 1 jam dan rangkaian yang dioperasikan hanya sebanyak 8 rangkaian.
"Belum (tepat untuk menerapkan tarif dinamis LRT). Diterapkan itu kalau sudah menjawab kebutuhan ideal bagi konsumen," kata Tulus Abadi saat ditemui di Kawasan Melawai, Jakarta Selatan, Kamis (16/11).
Menurut Tulus, jika tarif dinamis diterapkan, maka secara otomatis akan membuat ongkos LRT menjadi mahal. Jika hal itu terjadi, maka LRT sudah pasti akan ditinggalkan konsumen.
Dalam hal ini, kata Tulus, masyarakat akan lebih memilih untuk menggunakan transportasi lain. Seperti Transjakarta, KRL, dan sepeda motor.
"Kalau misalkan tarif dinamis (diterapkan) tapi tarifnya (jadi) mahal, makin ditinggalkan konsumen, makin nggak laku karena banyak opsi yang lain sebenarnya. Ada Transjakarta, ada KRL atau lari ke sepeda motor," jelasnya.
Lebih lanjut, Tulus menyarankan agar tarif LRT tetap diberlakukan dengan harga subsidi. Kebijakan ini akan mendukung komitmen pemerintah untuk mengurangi kemacetan dan mendorong masyarakat untuk menggunakan transportasi umum.
Adapun usul YLKI, tarif LRT Jabodebek bisa kembali diberlakukan promo dengan kisaran harga Rp 5.000 atau Rp 10.000. Promo tersebut perlu dilakukan sampai headway LRT kembali menjadi normal.
"Menurut saya kalau pemerintah konsen dan konsisten mengurangi kemacetan, ya mau enggak mau harus subsidi. Kan bisa dialihkan dari subsidi BBM misalnya. Kalau BBM aja yang notabene pemakainya orang kaya, disubsidi. Kok untuk public transport tidak disubsidi," pungkasnya.
Sebelumnya, Operasional light rail transit (LRT) Jabodebek yang baru diluncurkan akhir Agustus lalu. Secara jumlah dikurangi akibat terjadinya pengikisan (aus) pada roda-roda kereta.
Akibat roda aus itu, banyak rangkaian LRT kini harus parkir untuk menjalani perawatan. Saat ini, dari 18 rangkaian kereta (rangkaian kereta), hanya 8 yang beroperasi penuh.
Sementara itu, mulai 1 Oktober 2023 hingga akhir Februari 2024, tarif promo LRT berlaku menjadi minimal Rp 3.000 dan maksimal Rp 20.000 per orang untuk tarif terjauh. Sedangkan jika tarif normal diberlakukan harga rute terjauh mencapai Rp 28.000 per orang.