alexametrics

Gula Impor Banjiri Pasaran, Petani Tebu Malang Sekarat

1 Agustus 2018, 05:17:00 WIB

JawaPos.com – Petani tebu di Kabupaten Malang gigit jari. Pasalnya gula kristal putih impor mulai membanjiri pasaran dan membuat gula petani tidak laku. Harga yang lebih murah membuat pasar dan warga beralih memilih gula impor tersebut.

Dampaknya, petani tebu kembali terpuruk. Bahkan, salah satu sektor andalan Kabupaten Malang, tahun ini, mengalami keterpurukan paling parah.

Dwi Irianto Ketua Asosiasi Petani Tebu Rakyat Indonesia (APTRI) menyampaikan, petani tebu di ujung tanduk. Hal ini karena maraknya gula rafinasi impor di seluruh pasaran saat ini. “Secara langsung membuat petani tebu sekarat dan mati,” ujarnya, Selasa (31/7). 

Impor Gula Pasir
TERPURUK: Salah satu lahan tebu di Kabupaten Malang. Gula petani terpuruk karena gempuran gula impor.  (Tika Hapsari/JawaPos.com)

Dia menambahkan, harga jual gula rafinasi impor di pasaran sebesar Rp 6 ribu per kilogram. Sementara biaya pokok produksi gula lokal petani antara Rp 10.500-Rp 10.600 per kilogram.

Lantaran murahnya harga, membuat pasar dan masyarakat lebih memilih gula rafinasi yang begitu berlimpah di pasar, dibandingkan dengan gula lokal.Melihat kondisi yang membuat para petani tebu terpuruk ini,  APTRI meminta kepada pemerintah agar melakukan moratorium impor gula. 

Menurut dia, yang menjadi masalah adalah, tata niaga gula. Seharusnya, imbuh Dwi, pemerintah memiliki data valid atas kekurangan gula. Sehingga bisa mengambil kebijakan impor.

Dwi menjelaskan, kebutuhan gula setiap tahunnya hanyalah 2,7 juta ton. Sedangkan produksi gula petani mencapai 2,3 juta ton. Artinya, ada kekurangan sekitar 500 ribu ton.

“Seharusnya kekurangan ini yang pakai kebijakan impor. Jangan sampai impor gula rafinasi melebihi kekurangan tersebut,” tambah Dwi.

Dia menambahkan, untuk impor gula tahun ini sudah mencapai 1,1 juta ton plus yang baru ditandatangani sebanyak 450 ribu ton. Angka ini belum rembesannya,  sehingga total impor gula mencapai sekitar 3,6 juta ton.

Editor : Sari Hardiyanto

Reporter : (tik/JPC)

Gula Impor Banjiri Pasaran, Petani Tebu Malang Sekarat