alexametrics

Inflasi Juni 0,55 Persen, Penting Menahan Kenaikan TDL dan BBM Subsidi

1 Juli 2019, 17:12:22 WIB

JawaPos.com – Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat inflasi sebesar 0,55 persen sepanjang Juni 2019. Sementara inflasi tahun kalender tercatat 2,05 persen dan sebesar 3,28 persen untuk inflasi tahunan. Besaran inflasi itu masih dipengaruhi oleh kenaikan harga kelompok bahan makanan.

Kepala BPS Suhariyanto mengatakan komponen makanan masih besar kontribusinya pada inflasi Juni karena pada minggu pertama masih terdapat peringatan hari raya lebaran. Hal itu berdampak terhadap peningkatan harga bahan pokok yang didorong oleh tingkat kebutuhan masyarakat yang tinggi. Tapi, besaran inflasi tersebut masih cenderung terkendali.

“Inflasi sampai dengan Juni 2019 termasuk terkendali karena berbagai program pemerintah yang dilaksanakan pemerintah cukup berhasil,” kata Suhariyanto saat jumpa pers di Kantor BPS, Jakarta, Senin (1/7).

Berdasarkan catatan BPS, andil inflasi yang dihasilkan dari kelompok pengeluaran dari bahan pokok sebesar 0,38 persen dari 0,55 persen inflasi Juni 2019. Adapun harga bahan pokok yang mengalami kenaikan tertinggi adalah cabai merah dengan andil 0,12 persen dari 0,38 persen inflasi bahan pokok.

Kemudian disusul oleh ikan segar dengan andil inflasi sebesar 0,05 persen lantaran cuaca laut di daerah yang tak mendukung. Selanjutnya disusul oleh komoditas lainnya seperti cabai hijau, tomat sayur, bayam dan lainnya yang memiliki andil inflasi masing-masing sekitar 0,01 persen. “Yang lain-lain itu 0,01 persen tapi banyak,” katanya.

Kendati demikian, tak semua komoditas bahan pokok memberikan andil inflasi. Dia bilang, ada pula sejumlah komoditas yang memberikan andil deflasi kepada inflasi bulanan. Di antaranya, daging ayam ras, telur ayam ras sampai dengan bawang putih.

“Kita tahu kemarin impor bawang putih sudah besar. Jadi mencukupi kebutuhan. Begitu juga daging ayam ras dan telur ayam ras,” terangnya.

Selain karena bahan pokok, inflasi juga ada dipengaruhi oleh kenaikan makanan jadi, rokok dan tembakau, perumahan air, listrik, gas dan bahan bakar, sandang, sampai dengan pendidikan. Yang ditotal andil inflasinya sekitar 0,17 persen terhadap inflasi bulanan.

Dia mengharapkan, besaran inflasi yang ada ke depan akan jauh lebih terkendali. Apalagi pemerintah telah mengeluarkan kebijakan strategis melalui 4K. Yang artinya, keterjangkauan harga, ketersedian pasokan, kelancaran distribusi dan komunikasi efektif.

“Karena inflasi nasional terjadi di 82 kota, sehingga komunikasi antara pusat dan daerah memang harus diperbaiki,” tukasnya.

Sementara itu, Ekonom Institute for Development of Economics and Finance (INDEF) Bhima Yudhistira mengatakan bahwa tingginya inflasi pada sejumlah komoditas bahan pokok dinilainya wajar. Sebab sependapat dengan Suhariyanto, kenaikan harga bahan pokok pada Juni 2019 masih terdorong pelaksanaan hari raya lebaran pada minggu pertama.

Kendati demikian, kata dia, pemerintah mendapatkan pelajaran berharga pada besaran inflasi Juni 2019. Khususnya mengenai penanganan inflasi di sektor pangan. Meski masih tinggi, tapi beberapa komoditas mulai terlihat mengalami penurunan.

Pada komoditas bawang putih misalnya. Bhima menyatakan, telatnya pemerintah melakukan impor bawang putih dari Tiongkok pada Mei 2019 membuat inflasi komoditas bumbu dapur itu melonjak pada awal Ramadan. Namun berkat berbagai upaya pemerintah, distribusi bawang putih dapat segera tersalurkan ke pasar yang berdampak terhadap penurunan harga pada Juni 2019.

“Artinya di semester kedua ini jangan sampai pemerintah terlambat melakukan impor yang memang diperlukan untuk menjaga stabilitas inflasi dari segi pangan,” katanya.

Ke depannya, pemerintah diminta untuk tidak menaikkan harga BBM subsidi dan tarif dasar listrik (TDL) pada semester kedua.  Menurut Bhima, naiknya kedua sektor itu akan berpotensi besar terhadap naiknya inflasi kelompok pengeluaran secara keseluruhan. Termasuk membuat besaran inflasi sektor pangan akan semakin dalam.

Apalagi, kata Bhima, postur fiskal masih dalam keadaan yang kurang sehat, dengan semakin melebarnya defisit anggaran. “Kalau kedua itu dinaikan, bisa jadi inflasi di 2019 bisa melebihi target 3 setengah persen plus minus dari pemerintah,” tukasnya.

Editor : Mohamad Nur Asikin

Reporter : Igman Ibrahim



Close Ads