Kompresor Ban Jadi Tabung Napas


Ini trik murah meriah. Cerdik. Ala MacGyver, sosok cerdik dengan peralatan yang memanfaatkan benda-benda sekitar, ala serial televisi ’80-an hingga ’90-an.

Selasa, 08 Aug 2017 13:00
PENULIS : GALIH ADI PRASETYO | EDITOR : MIFTAKHUL F.S

Ini trik murah meriah. Cerdik. Ala MacGyver, sosok cerdik dengan peralatan yang memanfaatkan benda-benda sekitar, ala serial televisi ’80-an hingga ’90-an. Tapi, yang dilakukan para pencari kerang di utara Surabaya ini relatif berbahaya.

----

FAJAR masih belum muncul, namun mata Suratno sudah enggan terpejam. Sementara itu, Mariati, istrinya, menyiapkan bungkusan berisi lauk dan nasi untuk sarapan serta makan siang suaminya. Tak lupa kopi dan beberapa gorengan juga menjadi bekal tambahan.

Sebuah jeriken 5 liter berisi solar disiapkan pula oleh Mariati. Lalu, jeriken itu ditempatkan dalam sebuah bak plastik. Diameternya 1 meter. Demikian juga bekalnya yang dibungkus kresek itu. Jadi satu di bak.

Ratno, sapaannya, berprofesi sebagai nelayan kerang. Pekerjaan tersebut dilakoni sejak 1980. Selama 37 tahun itu, Ratno menyelam hingga dasar laut untuk mencari kerang.

Tak sembarangan, kedalaman penyelamannya bervariasi. Mulai 10 meter hingga 30 meter. Sekali selam, Ratno bisa menghabiskan waktu hingga 30 menit di dasar untuk memenuhi keranjang kerang yang dibawa.

Napasnya? Slang sepanjang 50 meter siap mendukung hidup Ratno selama di dasar. Udaranya dipompa langsung dari kompresor yang biasanya digunakan untuk tambal ban.

Matahari dari timur mulai menampakkan siluet cahaya. Bergegas Ratno mengambil bak biru itu. Disungginya menuju perahu kayu yang sudah terombang-ambing oleh gelombang pasang.

Segera dia menceburkan diri ke laut sambil menyeret bak yang mengapung. Kalau tidak pakai bak, bekal Ratno akan semakin ’’gurih’’ terkena air laut. Ya, pagi itu gelombang sedikit tinggi. Bibir pantai ke perahu hanya berjarak 3 meter. Namun, kalau jalan ke sana, setengah badan sudah tenggelam.

Dia pun segera naik ke perahu. Sesaat kemudian, Romadhoni, teman seperahu Ratno, datang menyusul. Biasanya Ratno melaut sendiri. Namun, kali ini tidak. Sejak sebulan terakhir, Dhoni, sapaan Romadhoni, ikut berlayar bersama Ratno.

Mesin diesel milik Dhoni rusak. Sementara waktu, dia numpang ke Ratno untuk berlayar. ’’Ngumpulkan uang dulu buat beli mesin baru,’’ ujar pria 30 tahun itu.

Perahu kayu milik Ratno bisa dibilang paling besar di antara yang lain. Panjangnya 8 meter. Lebar lambungnya 1,75 meter. Rata-rata kapal lain memiliki panjang 7,5 meter dengan lebar 1,75 meter.

Tujuh tahun sudah perahu itu menemani Ratno menerjang ombak dan mengais rezeki bersama. Perahu tersebut dicat biru dan garis putih di tepinya. Sementara itu, di tengah perahu ada papan yang biasa digunakan untuk tempat duduk. Lengkap dengan atap dari terpal yang menjaga dari panas terik matahari. ’’Kalau tanggal merah, disewakan buat perahu wisata. Makanya, saya kasih bangku di tengah,’’ ujar Ratno.

Mesin diesel dengan kekuatan sembilan tenaga kuda yang terletak di sisi kanan belakang perahu tersebut hampir setua usia kapal. Itu menjadi nyawa bagi perahunya. Beberapa bagian diesel juga sudah usang. Misalnya, pipa knalpot yang sudah keropos. Belum lagi tangki bahan bakar yang dibungkus dengan baju bekas. ’’Itu ada olinya. Biar tidak mudah berkarat kalau kena air laut,’’ kata pria 57 tahun itu.

Suara ’’cekikikan’’ mesin diesel mulai membuat perahu bergerak. Perahu tersebut melaju pelan. Jika diadu, kecepatan antara kapal dan orang dewasa hampir sama. Hanya sekitar 5 kilometer per jam. Untuk sampai ke tempat penyelaman, dibutuhkan waktu 1,5 jam. Artinya, jarak yang ditempuh sekitar 7,5 kilometer arah timur perahu bersandar.

***

Sesampai di titik selam, ternyata sudah ada lebih dari 20 perahu yang tersebar di sekitar perahu Ratno. Ada nelayan selam, nelayan terung, nelayan rajungan, dan nelayan ikan.

Ratno pun mulai menggunakan kostum selam hasil kreasi sendiri. Yakni, tiga lapis kaus lengan panjang dan celana training. Kaus kaki pun ikut dirangkap tiga. Begitu juga sarung tangan.

Awalnya, seluruh jari Ratno dipasangi potongan sarung tangan yang hanya menyisakan bagian jari. Kemudian, dia mengenakan sarung tangan utuh. Terakhir, balon seukuran jari dipasang di sepuluh jarinya. Tentu saja, jarinya berhias warna-warni balon. Jari itu seperti, permisi, pakai kondom...

’’Kerang yang mau diambil tajam. Kalau misalnya balon dan sarung tangan sobek, masih ada lapisan lagi yang melindungi jari,’’ ujar pria kelahiran Lamongan itu.

Kemudian, sebuah penutup kepala dikenakan. Bahannya berasal dari kaus bekas. Hanya ada dua lubang seukuran jari telunjuk untuk matanya agar bisa melihat. Satunya lagi seukuran mulut, cukup untuk masuknya regulator pernapasan.

Tekanan yang besar di dalam laut membuat Ratno harus menggunakan pemberat agar bisa tetap berada di dasar tanpa harus ngoyo. Sabuk dari karet ban bekas ditambah pemberat dari timah dipasang mirip ikat pinggang. ’’Beratnya ini sampai 5 kilogram,’’ katanya.

Terakhir, Ratno memakai sepatu karet. Di bagian bawah sepatu kanannya, ada besi sepanjang 20 sentimeter. Besi itu pipih dengan ujung meruncing. Fungsinya menahan diri jika sewaktu-waktu ada arus yang mengempaskannya. Lagi-lagi, sepatu itu hasil kreasi sendiri.

’’Ada yang masang di kanan dan kiri. Kalau saya, cukup kanan saja. Kalau ada arus, kaki kanan ditancapkan ke karang atau pasir di dasar. Buat nahan biar tidak terbawa arus,’’ tutur bapak lima anak tersebut.

Setelah semua siap, Ratno menyalakan diesel lain. Diesel dengan tabung berukuran panjang 50 sentimeter dan diameter 20 sentimeter itu adalah sebuah kompresor seperti milik tukang tambal ban.

Mau memompa pelampung? Salah. Kompresor itu adalah penyuplai udara bagi Ratno dan Dhoni saat menyelam.

Kompresor berkekuatan seperempat PK tersebut, selama beberapa jam ke depan, menjadi sumber udara. Bahaya? Tidak bagi mereka. Selama 27 tahun menjalani profesi itu, belum ada bahaya yang pernah mengancam Ratno.

’’Sebelum mesinnya dimodifikasi, udaranya kecampur bensin dan oli. Itu bisa bikin pusing saat di dasar,’’ ujarnya. Berdasar pengalaman itu, Ratno meminta kepada penjual kompresor agar posisi diesel dan lubang pengisap udara pada kompresor diubah.

Awalnya, posisinya bersebelahan. Itulah yang mengakibatkan penyelam kadang pusing. Sebab, udara yang diisap bercampur dengan asap.

Setelah semua beres, Ratno melilitkan slang ke badannya. Dia pun siap terjun ke laut lepas. Namun, siapa sangka, tiba-tiba saja mesin diesel itu los. Gir penggerak mesin lepas. Otomatis tak ada udara yang terpompa dalam tabung. ’’Paku penahannya patah,’’ kata Ratno.

Segera dia mengambil beberapa peralatan seperti obeng, palu, dan paku untuk memperbaiki kompresor itu. ’’Ya wis seperti ini kalau melaut. Semuanya kudu siap. Ya nelayan, ya bengkel juga,’’ tutur warga Kedung Cowek, Kecamatan Bulak, itu, lantas tertawa.

Dibantu Dhoni, Ratno mulai mematri gir yang mengsle itu. Tidak sampai 10 menit, kompresor siap digunakan lagi. ’’Wis beres, ayo berangkat,’’ ujarnya.

Kalau pas nyelam, diesel mati lagi, bagaimana? ’’Ya, gampang saja. Nanti kan kelihatan tekanannya menurun. Nah, pas itu harus segera naik,’’ katanya enteng.

Rata-rata Ratno dan Dhoni menyelam selama 15–30 menit. Bergantung seberapa banyak kerang yang didapat. Semakin cepat mendapat kerang, semakin cepat naik ke atas permukaan. Dalam sehari, mereka berdua bisa 5–6 kali menyelam. ’’Bergantung dapatnya kerang,’’ tambah Dhoni.

***

Sebelum ada kompresor, Ratno dan nelayan lain menggunakan bambu untuk menyelam. Saat melaut, nelayan akan membawa bambu dengan panjang minimal 6 meter. Saat sampai di titik pencarian, bambu tersebut ditancapkan ke dasar laut. Setelah itu, nelayan akan menyelam ke bawah dengan berpegangan bambu tersebut. Berpegangan pada bambu untuk menyelam lebih menghemat waktu dan tenaga.

Seutas tali menjadi pengaman. Tali itu diikat di pinggang dan bambu. Hal itu dilakukan sebagai penanda posisi bambu. Setelah sampai dasar, nelayan mulai berenang dan mencari kerang. Namun, nelayan tidak bisa bertahan lama. Paling lama hanya empat menit. ’’Kalau pakai bambu sekitar tahun 1980-an,’’ kenang lelaki kelahiran Lamongan itu.

Karena risiko yang besar dan tidak maksimal, para nelayan beralih menggunakan tabung oksigen untuk selam. Sekali menyelam dengan tabung bisa sampai dua jam. Namun, ada biaya ekstra yang harus dikeluarkan nelayan. ’’Isi ulangnya Rp 10 ribu per tabung. Nggaknutut sama hasilnya,’’ ujar Suratno.

Memang, para nelayan tertarik memakai tabung lantaran meniru penyelam profesional. Penggunaan tabung selam berlangsung pada 1995. ’’Gak sampai sebulan sudah gak dipakai lagi. Lhawong itu untuk rekreasi, bukan untuk cari uang,’’ katanya.

Akhirnya, ada nelayan yang menggunakan kompresor. Awalnya dimulai dari wilayah Sedayu Lawas, Lamongan, dan Semarang. Namun, waktu itu ada kejadian nelayan di Semarang meninggal karena tidak bisa mengatur aliran udara dari kompresor. Regulatornya bikinan sendiri. ’’Akhirnya kita tiru. Tapi, pakai regulator khusus selam,’’ tuturnya.

Penggunaan kompresor di kalangan nelayan Pantai Bulak dimulai sejak 1995 hingga sekarang. Pengalaman ternyata mengajari mereka banyak hal, termasuk bagaimana bekerja dengan cara yang efisien. ’’Sekarang pakai kompresor sudah enak dan nggak ada masalah sama sekali,’’ ujarnya yakin. (*/c19/dos)

Risiko Penyelam Kompresor, Napas Aman, eh, Kecantol Kapal

JawaPos.com- Di dasar laut, Ratno hanya mengandalkan indra peraba untuk mencari kerang. Caranya meraba-raba pasir. Kalau sudah ketemu, barulah senjata Ratno keluar. Namanya, jangan kaget, gantholan.

Memang, alat itu hanya digunakan untuk meng-ganthol (kait, Red) kerang. Bentuknya melengkung mirip celurit. Tapi, bahannya kawat besar. Dengan begitu, kerang bisa terambil dengan mudah.

Ada tiga jenis kerang yang biasa dikumpulkan Ratno dan nelayan lainnya. Yakni, kerang manuk, kerang baling-baling, dan kerang bulu.

Harga setiap komoditas berbeda. Daging kerang manuk dijual terpisah. Harganya Rp 35 ribu per kilogram. Daging itu berbentuk bulat pipih. Warnanya putih. Harga masing-masing berbeda karena memiliki ukuran yang berbeda pula.

Kerang manuk, misalnya. Dagingnya dijual secara terpisah. Daging kerang dijual seharga Rp 35 ribu per kilogram. Dagingnya berbentuk bulat pipih dan berwarna putih. Biasa disebut scallop. Isi perut kerang itu dijual seharga Rp 5 ribu per kilogram.

Sementara itu, kerang baling-baling dijual Rp 20 ribu per kilogram dan kerang bulu Rp 25 ribu per kilogram. Kerang tersebut tidak hanya dijual untuk pasar tradisional. Sebagian besar malah dipasok ke restoran. Pengepul besar biasanya mengirim kerang itu hingga ke Batam.

Penghasilan Ratno dari hasil mencari kerang pun tidak pasti. Sebab, kerang tidak bisa diprediksi secara pasti. Biasanya, per hari Ratno bisa membawa 5 kilogram kerang. Kalau untung, dia bisa membawa 12 kilogram.

Kadang dia juga harus berlayar lebih jauh dari tempat biasanya untuk mencari kerang. Kalau di perairan Surabaya mendapat sedikit, otomatis dia harus pindah. ’’Biasanya sampai Sedayu Lawas di Kabupaten Gresik, bahkan Noreh di Kabupaten Sampang,’’ ujarnya.

Dalam menjalankan profesi itu, Ratno sering menemui hal-hal yang bisa saja menghilangkan nyawanya. Misalnya, ubur-ubur. Ada jenis ubur-ubur kotak. Kalau sudah terkena rambutnya, orang tidak akan bisa bangun selama seminggu. ’’Jangankan kena rambutnya, terkena bekas airnya saja kulit bisa melepuh. Saya sudah pernah kena ubur-ubur itu,” katanya.

Selain ubur-ubur, Ratno sering menemui ular laut. Ular laut memang dikenal dengan bisanya yang sangat beracun. Meski demikian, menurut Ratno, selama tidak mengganggu, orang tidak akan digigit. ’’Sering ketemu, terus saya pegang nggak apa-apa,’’ ujarnya.

Hewan berbahaya lain yang sering ditemui Ratno adalah ikan pari dan ikan sembilang. Ikan pari memiliki senjata di ekornya yang tajam, sedangkan ikan sembilang memiliki patil yang tajam.

Ratno menilai hewan-hewan berbisa seperti itu tidak terlalu mengancam nyawanya. Dia lebih mengkhawatirkan kapal yang lalu lalang di perairan tersebut. Maklum saja, tempat nelayan mencari ikan berada di wilayah yang dilintasi jalur pelayaran dari dan menuju Pelabuhan Tanjung Perak.

Sudah ada dua nelayan yang kehilangan nyawa akibat ditabrak kapal. Kejadiannya, saat menyelam, mereka tidak tahu ada kapal yang lewat. Kapal tersebut kecantol slang kompresor nelayan. Akibatnya, nelayan itu kehabisan napas di air. Peristiwa tersebut terjadi pada 2003 dan 2005.

Menurut Ratno, sering sekali ada kapal yang lewat di luar jalur pelayaran. Mereka masuk ke wilayah nelayan biasa mencari ikan. Saat diingatkan dengan senter, kapal-kapal itu tidak mau mendengar atau merespons. ’’Baru kalau kami nyalakan obor dan bawakan jeriken berisi solar, mereka mau menghindar. Mereka takut kalau obornya kami lempar ke mereka,’’ kata Ratno. (gal/c19/dos)

#trik macgyver #nelayan kerang pantai bulak

Galih Adi Prasetyo
Jawa Pos 2017
Other Cover Stories
 Top