Tunggu Garam dengan Uang Utang


Siapa pun pasti berharap mendung segera berganti terang. Termasuk para petani garam di Surabaya. Kemarau panjang yang ditunggu-tunggu para petani garam itu akhirnya di depan mata. Matahari mulai terik, pertanda bahwa panen para petani segera melimpah. Meskipun hujan kadang-kadang masih...

Selasa, 04 Jul 2017 18:14
PENULIS : GALIH ADI PRASETYO | EDITOR : SURYO EKO PRASETYO

Siapa pun pasti berharap mendung segera berganti terang. Termasuk para petani garam di Surabaya. Kemarau panjang yang ditunggu-tunggu para petani garam itu akhirnya di depan mata. Matahari mulai terik, pertanda bahwa panen para petani segera melimpah. Meskipun hujan kadang-kadang masih lewat.

Sejoli Mantongan

LADANG garam membentang di wilayah ujung barat Surabaya, tepatnya di Kelurahan Romokalisari, Kecamatan Benowo. Di selatan kawasan tambak itu, sebentuk bangunan megah berdiri: Gelora Bung Tomo. Tak jauh di sekitar tersebut, ada bukit sampah milik TPA Benowo.

Kamis (22/6) hamparan ladang itu masih kosong. Belum ada garam. Namun, di sana sudah terlihat kehidupan. Sebuah rumah, atau lebih tepatnya gubuk, berdiri di antara hamparan ladang garam. Dindingnya terbuat dari gedek (anyaman bambu). Tiangnya bambu dan gentingnya tanah.

Lantainya tentu bukan keramik. Alas gubuk berukuran 3 x 7 meter persegi itu juga tanah. Di sanalah Saha bersama istri, anak, menantu, dan cucunya tinggal.

Gubuk itu berjarak 200 meter dari jalan raya. Pendek saja. Tapi, tak mulus. Untuk menuju gubuk, orang harus meniti pematang ladang garam. Harus hati-hati. Jaga keseimbangan. Kalau tidak, kaki bisa ambles ke lumpur. Karena itu, lebih baik nyeker daripada pakai alas kaki.

Gubuk itu punya pendingin udara alami. Yakni, lewat lubang-lubang kecil pada dinding gedek. Di situlah angin kerap menelusup masuk menyambangi penghuni gubuk. ”Ya, gini kondisi rumahnya. Kecil dan sempit,” ucap Saha.

Gubuk Saha disekat menjadi tiga bagian. Ada ruangan berukuran 1,5 x 3 meter yang berfungsi sebagai dapur. Ruangan sisanya dibagi dua dengan sekat tripleks. Pintunya hanya sehelai kain mirip kelambu.

”Yang sebelah utara itu kamar anak dan menantu saya. Yang ini tempat saya tidur,” ujar istri Saha, Nainah, sambil duduk di atas kasurnya.

Saha adalah satu di antara puluhan mantongan yang datang ke Surabaya. Mantongan merupakan sebutan bagi penggarap lahan garam musiman. Mereka datang dari wilayah Madura, terutama Sumenep.

Ketika musim panas tiba, mantongan akan datang menemui petani garam di Surabaya. Dalam kerja sama tersebut, petani garam hanya pemilik lahan. Sementara itu, mantongan menggarap ladang garam. Mirip buruh tani yang tidak ikut memiliki areal persawahan. Penggajiannya memakai sistem bagi hasil saat garam dipanen. Mantongan mendapat sepertiga. Sisanya untuk pemilik lahan.

Ketika sudah tercapai kesepakatan, para mantongan akan tinggal di sebuah gubuk yang didirikan di tengah ladang. Bahannya seadanya. Yang penting bisa jadi tempat terlelap selama musim ladang. ”Biasanya, sampai bulan sebelas (November, Red) di sini,” ujar Saha, lelaki umur 65 tahun.

Mantongan akan menjadi penanggung jawab hingga garam siap jual. Selama proses tersebut, para petani atau pemilik lahan akan pasrah pada mantongan. Para pemilik baru akan cawe-cawe saat proses jual beli garam.

Tentu, rumah itu bersahaja. Listrik tidak ada. Saha memanfaatkan aki dan lampu LED yang dilengkapi sel surya. ”Beli lampu LED yang bisa dicas (maksudnya di-charge atau diisi ulang, Red) dengan dijemur. Cuma Rp 45 ribu,” ungkap pria asal Kelurahan Mujikantang, Sumenep, Madura, itu.

Sebelum ada lampu seperti itu, kehidupan Saha saat malam hanya mengandalkan ublik alias lampu minyak dari botol bekas minuman energi.

Mantongan selalu membawa keluarga. Terutama istri. Sebagai kawan, nge-cas, mungkin… ’’Kalau nggak ngajak istri, nggak bisa kerja,’’ ungkap Saha.

Nainah, istri Saha, punya andil besar selain urusan dapur. Saat musim panen, para istri ikut mengangkut garam dan menaruhnya ke karung. Nah, mantongan juga akan mendapatkan penghasilan dari upah mengangkut dan mengemas garam. Masing-masing punya perhitungan sendiri.

Selama bekerja, mantongan akan mendapatkan pinjaman dari pemilik lahan. Besarnya Rp 200 ribu per pekan. Itu bekal makan dan minum. Saat panen, mereka totalan. Bagi hasil akan dikurangi utang.

Sekali produksi, setiap petak ladang garam menghasilkan 125 karung. Per karung berisi 50 kilogram garam. ”Total sekitar 6 ton hasilnya,” ujar Saha.

Sekali musim garam, biasanya Saha membawa pulang duit Rp 10 juta. Itu pendapatan bersih setelah dipotong biaya hidup yang sudah dipinjami oleh pemilik lahan. ”Itu hasil di sini. Enam bulan,” ujarnya.

Damai di Ladang Garam

Saha berbelanja dua atau tiga hari sekali. Biasanya, ke Dusun Gendong yang masuk wilayah Kelurahan Romokalisari. Mereka hanya perlu berjalan kaki lima menit dari gubuk. Di dusun itu pula, mereka membeli air untuk kebutuhan sehari-hari. Biasanya, mereka menghabiskan empat jeriken air ukuran 50 liter setiap hari. Tiap jeriken air dibanderol seribu perak. Selain itu, mereka kerap berbelanja ke Pasar Benowo.

Tiap mantongan diberi jatah menggarap dua blok ladang garam. Setiap blok berisi 12–16 petak meja garam. Masing-masing berukuran 10 x 30 meter. Tiap blok itulah yang disebut sebagai mantong. ”Tiap petani biasanya dapat dua mantong,” ujar Saha.

Setiap hari Saha turun ke ladang mulai pukul 06.00. Biasanya, dia hanya memperbaiki tanggul di sekeliling mantong. Kadang juga menyiapkan kincir untuk memompa air.

Kincir dengan baling-baling berukuran 3 meter itu bergerak dengan bantuan angin. Sistemnya sederhana. Saat berputar, kincir akan mengangkat air dari kanal masuk ke meja garam. ”Ini semuanya bikin sendiri. Tekniknya turun-temurun dari dulu,” jelas Saha.

Mantong yang dikelola Saha berjarak cukup jauh dari laut. Sekitar 3–4 kilometer. Karena itu, mereka benar-benar memanfaatkan air pasang. Kincir akan terus-menerus berputar dan menyedot air saat pasang. Beberapa mantongan bahkan menggunakan mesin diesel.

Secara tradisional, produksi garam diawali dengan menyiapkan ’’air tua’’. Itu adalah istilah untuk air yang sudah punya kandungan garam sangat tinggi. Air tua tersebut didapatkan dari air laut yang dimasukkan ke ladang dan dibiarkan menguap. Sisa air yang tertinggal akan berkadar garam tinggi. ’’Tapi, airnya harus terus diawasi,’’ ungkap Saha.

Air tua itu setidaknya punya ukuran 21 baume (be). Itu adalah satuan untuk menunjukkan kandungan garam dalam air. Semakin tinggi nilai be, semakin bagus. ’’Butuh satu bulan, biasanya air tua sudah jadi,’’ kata Saha.

Enam Bulan Bekerja, Dapat Rp 10 Juta

Salah satu ciri khas kehidupan mantongan adalah saat malam tiba. Mereka tetap menikmati hidup tanpa listrik. Jauh dari keramaian. Sesekali terdengar klakson dari kendaraan yang melintas di jalan tol.

Kunang-kunang pun tak enggan melintas dan berkedip-kedip genit. Sungguh, pemandangan yang langka di tengah belantara beton Surabaya.

Malam itu, angin berembus kencang. Badan terasa mengerut. Menggigil.

Tidak lama, Nainah datang membawa minuman hangat. ”Ini khas Madura. Kalau ada tamu ke sini, pasti dikasih. Namanya wedang pokak. Bahannya asam jawa, gula jawa, dan jahe,” ujar Saha.

Suasana sangat temaram. Kamar Saha hanya diterangi cahaya ublik malam itu. Sebuah kelambu menutupi tempat tidurnya. ”Kalau nggak dikasih itu, ya nyamuknya banyak,” kata Nainah, perempuan 51 tahun.

Tidak ada hiburan yang bisa dinikmati. Selain hanya bercengkerama dengan keluarga. ”Mau apa lagi? Paling cerita-cerita saja. Kalau ngantuk, ya lekas tidur,” ujarnya.

Mantongan bukan orang sembarangan. Mereka telah turun-temurun mewarisi keahlian sebagai seorang pembuat garam. Proses pembuatan garam memang terlihat mudah. Tapi, prosesnya cukup panjang dan membutuhkan kesabaran.

Apalagi saat musim seperti sekarang. Sulit memprediksi apakah kemarau akan panjang atau tidak. ”Sekali kena air hujan, produksinya gagal,” ucapnya.

Ya, dengan tambahan hujan, air yang sudah kadung asin akan kembali tawar. Air tua itu akan kembali jadi ’’air muda’’.

Setelah musim garam berakhir, para mantongan akan kembali ke pekerjaan mereka sebelumnya. ”Kalau saya, jadi tukang becak sehari-harinya,” kata Saha. (Galih Adi Prasetyo/c6/dos)

Anak-Anak Berlebaran di Atas Ladang

HAMPIR separo badannya terendam lumpur. Lailatul Jannah namanya. Bocah 8 tahun itu dengan cekatan mengambil tanah dari dasar ladang garam yang tergenang air. Lalu, ditumpuklah tanah berwarna abu-abu itu hingga menjadi tanggul setinggi 20 sentimeter.

Sesekali dia mengusap keringat yang mengucur. Namun, Lailatul tidak lelah. Tak jua mengeluh. Justru, yang terdengar adalah tawa. Canda.

Lailatul memang sudah terbiasa membantu ayahnya bekerja di ladang garam. Ayahnya, Samsuri, 33, adalah mantongan di Kelurahan Romokalisari. ’’Sudah lama saya nggarapmantong. Sudah dari orang tua dulu. Anak-istri saya ajak ke sini juga,’’ ujar Samsuri.

Karena itu, Lailatul menghabiskan liburan sekolah dengan ikut menggarap garam. Bocah kelas IV SD tersebut sudah terbiasa. Bersama orang tuanya, dia tinggal di sebuah gubuk bambu berukuran 3 x 5 meter. ’’Habis libur nanti balik ke Sumenep lagi,’’ ujar Lailatul sambil sibuk mengambil lumpur.

Sebagaimana tempat tinggal Saha, gubuk Samsuri juga beralas tanah. Dan, Lailatul harus tidur di tikar pada lantai tanah tersebut. Itu harus dirasakannya hingga November.

Makan juga seadanya. Biasanya Samsuri menjaring ikan di kali tepi mantong. Ikan itulah yang akan diolahnya bersama anak dan istrinya.

Cerita lain didapat dari Dimas Hariyanto, bocah kelas I SD, yang tengah memainkan tablet milik orang tuanya. Itulah satu-satunya hiburan. Dimas memang harus diboyong karena tidak ada yang momong di kampung halamannya, Sumenep. ’’Ya dibawa saja,’’ kata kakek Dimas, Saha.

Tentu, Dimas harus membolos sekolah selama itu. ’’Ya mau gimana lagi? Masih kelas I. Jadi, nggak apa-apa. Di sini paling diajari baca-tulis,’’ kata Saha.

Semua Warga Kampung Jadi Mantongan

Dimas merasakan kehidupan di tengah ladang garam sejak berumur 8 bulan. Bahkan, ada mantongan lain yang membawa anak atau cucunya yang masih berupa bayi merah.

Tradisi itu memang tidak paten. Kalau si anak sudah bisa mandiri di kampung, dia tidak akan lagi diajak merantau sebagai mantongan. Biasanya, kata Saha, saat anak kelas V atau VI SD.

Mantongan memang merupakan pekerjaan turun-temurun. Hal itu diungkapkan Saha yang juga berayah seorang mantongan. ’’Saya cuma lulusan SD. Dulu langsung jadi mantongan ikut orang tua. Saya dulu juga sama kayak Dimas ini,’’ kenangnya.

Sekarang anak Saha mengikuti jejaknya. Menantunya pun ikut. Ya, itu satu-satunya keahlian mereka.

Pada zaman Belanda, Kabupaten Sumenep menjadi sentra mantongan. Saat tambak garam kian berkurang, mantongan pun menyebar ke berbagai daerah untuk bekerja temporer. Salah satunya ke Surabaya. Namun, saat ini pekerjaan itu mulai ditinggalkan generasi yang lebih muda. Mereka memilih pekerjaan lain. Termasuk merantau ke ibu kota.

Pengorbanan mantongan cukup besar. Terutama saat mereka harus berlebaran di atas tambak garam. Mau pulang ke mana? Toh, anak-cucu juga ikut diboyong ke tambak. Pulang kampung? ’’Juga, nggak ada orang. Lha wongmantongan semua,’’ ujar Saha.

Saat Lebaran itu, mereka hanya saling berkunjung, meniti pematang ladang garam, ke mantongan yang lain. Cukuplah untuk menambal kangen. Juga, tetap menjalin silaturahmi sesama mantongan perantau.

Bagaimanapun, mereka adalah ujung tombak produksi garam. Mereka menjaga tata cara produksi itu selama ratusan tahun. Secara tradisional. Meskipun untuk itu, beberapa orang mengesampingkan pendidikan formal anak-cucunya. (gal/c7/dos)

Komoditas Garam di Surabaya

Mantongan boleh jadi merupakan profesi atau pekerjaan tradisional. Tapi, penggarapan garam tak boleh terus-menerus tertinggal oleh zaman. Muhammad Nur Aini berupaya memajukan para petani itu.

GARAM seolah sudah menjadi bagian keseharian hidup Muhammad Nur Aini. Dia memang penyuluh dan pendamping petani garam di Surabaya.

Kamis siang (22/6) itu, Inung, sapaannya, bertemu dengan beberapa mantongan di pinggiran ladang. Mereka duduk bersama di tepi jalan.

Inung terlihat menggores-gores tanah dengan aneka gambar berbentuk persegi. ’’Ya gini kalau saya sosialisasi. Medianya pakai tanah,’’ terang Inung.

Sejak 2012, Inung menjadi penyuluh garam. Saat itu dia diangkat sebagai Tenaga Pendamping Desa Pengembangan Usaha Garam Rakyat (TPD Pugar). Pada 2016 dia menjadi Tenaga Penyuluh Bantu Pengembangan Usaha Garam Rakyat (TPB Pugar).

Tahun ini Inung juga berperan sebagai enumerator (petugas pencacah) Pugar di Surabaya. Dia kerap memberikan pengetahuan anyar tentang pertanian garam. Salah satunya adalah soal geoisolator.

Geoisolator adalah lembaran plastik berwarna hitam yang digunakan sebagai alas untuk menampung air tua. Plastik tersebut dibentangkan di petak-petak ladang garam. Warna hitam akan mampu menyerap panas lebih cepat.

Dengan geoisolator, produksi garam bisa lebih cepat. Hasilnya juga lebih banyak. ’’Tujuh hari sudah bisa panen,’’ katanya.

Berkat ilmu yang dia miliki itu, Inung bisa bertemu dengan petani garam dari berbagai daerah. Dia pun terus memberikan pengetahuan ke petani garam tentang cara produksi yang lebih efisien dan efektif.

Menurut dia, saat ini pertanian garam di Surabaya sedang dihadapkan pada berbagai permasalahan. Salah satunya adalah bahan baku. Sungai yang menjadi saluran utama air laut masuk ke tambak garam mengalami penyempitan. ’’Pembangunan kompleks pergudangan menjadi salah satu penyebabnya,’’ ujar bapak dua anak itu.

Menurut Inung, hal tersebut mengancam kelangsungan pertanian garam di Surabaya. Inung berharap ada langkah normalisasi untuk sungai tersebut. Jika tidak, petani akan merugi. Mereka harus mengeluarkan biaya lebih banyak. Salah satunya untuk diesel.

Harga garam menjadi problem. Di tingkat petani, harga itu fluktuatif. Naik-turun. Seharusnya, kata Inung, ada aturan baku soal itu. Sekarang harga jual garam berkisar Rp 450 per kilogram. Kalau panen raya, harganya bisa drop menjadi Rp 300.

Inung juga menyosialisasikan ke masyarakat bahwa memproduksi garam itu mudah. Dia mencontohkan dengan membuat sebuah petak garam berukuran 2 x 1 meter di Rusun Romokalisari. Petak tersebut diberi plastik geoisolator. Kemudian, air tua dituangkan ke dalamnya. Tidak sampai sehari, butiran garam mulai muncul dan bisa digunakan.

Muhammad Nur Aini, Penyuluh dan Pendamping Petani Garam di Surabaya

Memang, meskipun Surabaya adalah kota perdagangan dan jasa, masih ada wilayah pertanian garam. Yakni, di Kecamatan Benowo. Wilayah tambak tersebut menyebar ke Kelurahan Romokalisari, Tambak Osowilangun, dan Sememi. Luas totalnya 200 hektare.

Lalu, di Kecamatan Pakal ada tambak di Kelurahan Sumberejo dan Babat Jerawat. Luasnya 400 hektare. Sedangkan di Kecamatan Asem Rowo, ada 20 hektare tambak garam di Kelurahan Tambak Sarioso.

Inung sekarang mengembangkan teknologi baru untuk memproduksi garam. Biasanya untuk membuat air tua, dibutuhkan waktu yang lama. Hingga satu bulan. Tapi, Inung menyimpan air tua sisa produksi tahun ini. Sisa air tersebut akan digunakan untuk musim garam tahun depan. Dengan itu, proses produksi juga menjadi lebih ngebut.

Air tua tersebut disimpan di tempat berukuran 5 x 20 meter dengan tinggi 2 meter. Rangkanya terbuat dari bambu. Seluruh sisinya, termasuk atap, ditutup dengan plastik. Di dalamnya ada kolam yang dilapisi dengan plastik geoisolator. Di kolam itulah, air tua tersebut disimpan. ’’Sebelumnya pernah nyoba dan berhasil. Namun, bentuk bangunannya yang keliru,” terang pria 44 tahun tersebut.

Pada uji coba sebelumnya, rangka bangunan berbentuk segi tiga. Mirip atap rumah. Namun, bentuk konstruksi prisma segi tiga itu tidak tahan angin. ’’Kalau angin besar, plastiknya gampang robek karena tekanannya besar,” ujar pria lulusan Jurusan Perikanan, Fakultas Pertanian, Universitas dr Soetomo tersebut.

Sekarang Inung mengubah konstruksinya. Bentuknya tetap seperti rumah. Tapi, atapnya tidak lagi berbentuk prisma. Atap itu hanya miring di satu sisi. Dengan demikian, tekanan angin tidak begitu besar dan plastik tidak mudah sobek.

Teknik tersebut bisa menjadi solusi saat cuaca semakin tidak menentu. Daripada waktu sebulan hanya habis untuk menunggu air tua. Dengan cadangan air tua itu, para petani bisa memangkas waktu produksi. Dengan demikian, hasilnya lebih meningkat.

Inung berharap perannya sebagai TPB Pugar bisa memajukan kesejahteraan para petani dan mantongan di Surabaya. Sebab, garam masih menyimpan peluang sebagai salah satu andalan ekonomi warga kota. (*/c7/dos)

#garam #pakal #mantongan

GALIH ADI PRASETYO
Jawa Pos 2017
Other Cover Stories
 Top