Metropolis dari Pelabuhan Rakyat


Menurut catatan sejarah, Surabaya berkembang dari pelabuhan. Awalnya adalah pelabuhan rakyat di Kalimas dengan kapal-kapal bisa masuk hingga tengah kota. Kini kawasan pelabuhan terus berkembang besar di kawasan utara. Ya, pelabuhan rakyat itu menjadi salah satu awal perkembangan...

Jumat, 30 Jun 2017 04:37
PENULIS : FERLYNDA PUTRI SOFYANDARI DAN BRIANIKA IRAWATI | EDITOR : SURYO EKO PRASETYO

Menurut catatan sejarah, Surabaya berkembang dari pelabuhan. Awalnya adalah pelabuhan rakyat di Kalimas dengan kapal-kapal bisa masuk hingga tengah kota. Kini kawasan pelabuhan terus berkembang besar di kawasan utara. Ya, pelabuhan rakyat itu menjadi salah satu awal perkembangan metropolis.

PELABUHAN KALIMAS

TAK kurang dari seratus kapal tradisional berimpitan di Pelabuhan Rakyat Kalimas. Ada yang panjangnya 7 meter. Yang paling besar sepanjang sekitar 15 meter. Tali-tali menjulur dari atas kapal ke tiang penambatan.
Rata-rata kapal itu kosong. Hanya satu dua anak buah kapal yang terlihat di bibir kapal. Mereka nongkrong. Beberapa juga memperbaiki bodi kapal.
Pelabuhan Rakyat Kalimas berada di timur Terminal Jamrud. Tepatnya di antara kantor Pelindo III dan Markas Armada Maritim Timur (Armatim).
Pelabuhan Rakyat Kalimas memanjang sepanjang Sungai Kalimas. Sekitar 2 kilometer dari muara.

Tempat Sapi-Sapi Mendarat

Di sisi barat Pelabuhan Kalimas, terdapat banyak gudang. Ada beberapa gudang yang memang sudah lama ada. Maklum, pelabuhan tersebut merupakan pelabuhan lama. Bahkan, bekas gudang masih bisa terlihat hingga sekitar Jembatan Merah.
Di antara kapal tradisional itu, ada yang mengangkut puluhan sapi dan kuda. ”Ini kapal dari NTT (Nusa Tenggara Timur, Red),” kata Fatoni, nakhoda kapal.
Puluhan ternak tersebut memang ditujukan untuk menyuplai kebutuhan ternak di Jawa. Sapinya akan dikirim ke Jakarta melalui jalan darat. Sedangkan kuda-kuda yang kurus itu akan diboyong ke objek wisata Gunung Bromo. Pria 43 tahun tersebut memang sudah rutin mendapat orderan mengirim ternak. ”Kali ini ada sapi yang mati satu. Tapi tidak berani buang. Biar yang punya tahu,” jelasnya.
Hari itu, Minggu (18/6), Humas Pelindo Tanjung Perak Mukhammad Syaifulloh ikut berjalan-jalan di pelabuhan yang menjadi salah satu cikal bakal Surabaya tersebut. (lyn/bri/c10/dos)

TERMINAL TELUK LAMONG

SISI barat Surabaya punya Terminal Teluk Lamong (TTL) yang merupakan perluasan Pelabuhan Tanjung Perak. Terminal itu terutama untuk bongkar muat barang. Arus perdagangannya meliput area domestik hingga internasional.

Untuk memasuki terminal yang berlokasi di Jalan Raya Tambak Osowilangon tersebut, pengunjung menghadapi pengamanan ketat. Terutama kendaraan pengangkut barang. Emisi gas buang truk diperiksa. Kalau tidak memenuhi persyaratan, truk dari luar diganti dengan truk yang sudah disediakan oleh TTL.

”Karena kami mengusung konsep eco-friendly. Termasuk teknologi yang kami gunakan,” ungkap Corporate Communication Section Head TTL Reka Yusmara.

Hampir semua alat di TTL digerakkan secara otomatis. Hanya beberapa bagian yang memang membutuhkan tangan manusia secara langsung. Misalnya, di dermaga peti kemas. ”Pemindahan peti kemas dikontrol oleh tangan manusia langsung,” ujarnya.

Itu bertujuan untuk mengantisipasi gelombang air laut yang membuat badan kapal tidak stabil saat bersandar. Sistem semi-otomatis itu membuat produktivitas lebih tinggi. Yakni, 2,5–3 kali lipat jika dibandingkan dengan sistem konvensional.

Pelabuhan Ramah Lingkungan

Transaksi di TTL menggunakan sistem online. ”Tidak ada konsumen yang masuk ke area ini,” jelasnya. Setelah berhasil booking via online, hanya sopir pengangkut kontainer yang membawa barang ke TTL. ”Sebelumnya, sopir juga harus terdaftar,” tambahnya.

Saat berada di puncak crane, dengan ketinggian sekitar 40 meter, Anda dapat melihat ujung Surabaya Timur. Ada pula Jembatan Suramadu yang terlihat apabila cuaca cerah. Wilayah crane tersebut berbatasan langsung dengan laut lepas. Itu menciptakan sensasi goyang saat berada di atas crane. Tidak dianjurkan bagi seseorang yang takut ketinggian.

Sementara itu, kapasitas kinerja handling curah kering adalah 2.000 ton per jam. ”Kalau ekspor, prosesnya hanya memakan waktu 7–10 menit. Kecuali kalau ada truk yang bermasalah pada emisi,” ungkap Reka. Transaksi di TTL beroperasi selama 24 jam, 7 hari kerja.

Menurut Reka, puncak arus terjadi pada Kamis hingga Minggu. ”Bisa tiga kali lipat lebih banyak dibandingkan hari biasa,” jelasnya. Itu membuktikan bahwa perdagangan semakin berkembang pesat. (lyn/bri/c6/dos)

TERMINAL NILAM-MIRAH-JAMRUD

SUASANA Terminal Jamrud paling riuh. Maklum, sedang musim mudik. Gapura Surya Nusantara (GSN) ramai oleh para pemudik maupun pengantar. Apalagi, ada program mudik gratis dari pemerintah Jawa Timur yang menambah keramaian terminal.

Terminal Jamrud Utara dibagi menjadi beberapa area. Yang paling timur digunakan untuk kapal penumpang domestik dan internasional. Sudah beberapa kali kapal pesiar bersandar di GSN. ”Selain itu, bongkar muat kargo umum dan curah kering dari luar negeri,” ujar Kepala Humas Fernandez A. Ginting.

Terminal Jamrud Selatan tak jauh beda. Banyak kontainer. Namun, ukuran kapalnya lebih kecil ketimbang Terminal Jamrud Utara. Sedangkan Terminal Nilam terletak di timur Terminal Jamrud. ”Yang masuk pelabuhan memang harus yang punya kepentingan,” jelas Ginting.

Ginting menjelaskan bahwa Terminal Mirah dibagi menjadi dua, yakni Terminal Multipurpose Nilam Timur dan Terminal Konvensional Nilam. Terminal Multipurpose Nilam Timur untuk bongkar muat peti kemas domestik. Hanya melayani pengiriman dalam negeri. ”Sedangkan Terminal Konvensional Nilam diperuntukkan pelayaran samudra, antarpulau, komoditas kargo umum, curah kering, dan curah cair,” ungkap Ginting.

Pintu-Pintu Penumpang

Hari itu empat unit container crane sedang bekerja. Katrol untuk mengambil kontainer tersebut mirip permainan mengambil boneka di area permainan anak. Pengemudi crane yang berada di semacam menara harus mengepaskan pengait ke peti kemas. Ketika sudah pas, peti kemas diangkat dan dipindahkan ke dalam kapal. Waktu itu ada kapal Meratus Kapuas yang sedang bersandar.

Di Terminal Mirah terlihat belasan mobil tanpa pelat nomor sedang keluar dari kapal. Semuanya baru. Dari Jakarta. Setiap pekan, tak kurang dari 500 unit mobil baru tiba di terminal tersebut. Sedangkan sepeda motor justru banyak yang ke luar Jawa. Sekitar 600 unit yang dikirimkan lewat Terminal Mirah. ”Terminal ini memang akan difokuskan untuk pelayanan bongkar muat kargo umum, mobil, dan pelayanan offshore,” papar Ginting. (lyn/bri/c10/dos)

#pelabuhan rakyat #pelabuhan kalimas #terminal teluk lamong #terminal nilam #terminal mirah #terminal jamrud

FERLYNDA PUTRI SOFYANDARI DAN BRIANIKA IRAWATI
Jawa Pos 2017
Other Cover Stories
 Top