Srikandi-Srikandi Penakluk Bara Api Surabaya


Dinas Pemadam Kebakaran (PMK) Kota Surabaya punya tim khusus yang diisi oleh kaum hawa, namanya regu Srikandi . Para perempuan tersebut tak segan berjibaku menaklukan si jago merah. Slogan pantang pulang sebelum padam dipegang teguh oleh mereka.

Sabtu, 22 Apr 2017 05:50
PENULIS : DIDA TENOLA | EDITOR : DHIMAS GINANJAR

Dinas Pemadam Kebakaran (PMK) Kota Surabaya punya tim khusus yang diisi oleh kaum hawa, namanya regu Srikandi . Para perempuan tersebut tak segan berjibaku menaklukan si jago merah. Slogan pantang pulang sebelum padam dipegang teguh oleh mereka.

Pos PMK Kota Surabaya di Pasar Turi terlihat lengang pada Jumat siang (21/4). Mobil-mobil besar berwarna merah terparkir di garasi yang luasnya seukuran kira-kira seperempat lapangan bola. Tidak ada sirine yang meraung-raung ketika JawaPos.com mendatangi markas tersebut.

Sejumlah kru terlihat cuma mengecek mobil, slang, dan perlengkapan pemadam lainnya. Ada pula yang memanasi mobil, agar mesin tak gampang berkarat. Di antara para pria yang berada di sana, terdapat perempuan yang menarik perhatian. Ada yang mengenakan pakaian oranye terang, ada pula yang mengenakan seragam dinas berwarna biru gelap.

Mereka adalah para srikandi. Tugasnya sama dengan yang lain, berangkat memadamkan api di lokasi kebakaran. Dari total 764 personil PMK di Kota Pahlawan, 39 diantaranya adalah perempuan. Mereka semua siap terjun pada situasi apapun ketika dibutuhkan.

Sejak Mei 2012, PMK Kota Surabaya secara khusus membentuk regu Srikandi. Ketika itu, mereka menyadari bahwa perempuan punya andil penting saat menangani kebakaran. ”Sebab saat berada di lapangan, PMK tidak cuma memadamkan api. Kami harus punya peran humanis di tengah-tengah warga yang menjadi korban kebakaran,” tutur Kepala Dinas PMK Kota Surabaya Chandra Oeratmangun.

Awalnya Chandra melihat anak buahnya yang perempuan lebih banyak bekerja di belakang meja. Padahal, mereka butuh banyak tenaga ketika menghadapi sebuah kebakaran. Apalagi kalau kebakaran besar. Sudah bisa dipastikan bahwa tenaga personil PMK itu bakal banyak terkuras.

Belum lagi, mereka harus membagi konsentrasi, antara memadamkan api dan mengurus korban kebakaran. Problemnya, tidak gampang untuk menenangkan para korban tersebut. Apalagi kalau sampai harta benda mereka ludes, ikut terbakar api. ”Nggak jarang ibu-ibu maupun anak-anak itu histeris. Kalau tidak didampingi, bisa mengganggu proses pemadaman,” imbuh perempuan asal Ambon tersebut.

Chandra lantas berinisiatif untuk membentuk regu khusus yang berisikan perempuan. Awalnya, cuma ada lima orang personil perempuan yang siap. Kemudian dibukalah seleksi. Mereka yang ikut proses tersebut benar-benar dilatih. Mulai cara mengemudikan kendaraan PMK yang bodinya besar, mengangkat dan memasang selang, mengatur tekanan air, mempelajari strategi pemadaman sebuah bangunan, pertolongan gawat darurat, hingga vertical rescue (evakuasi di gedung bertingkat dengan teknik rapling).

Biasanya, para srikandi tersebut selalu turun dalam kebakaran berskala besar. Indikator skala besar antara lain saat kebakaran berlangsung lebih dari satu jam, terdapat korban jiwa, menjadi perhatian media massa. Saat seperti itu, PMK Surabaya biasanya mengerahkan 200-300 personil termasuk para srikandi tersebut.

Saat berada di lapangan, para srikandi itu sudah dilatih untuk mandiri. Tanpa menunggu perintah dari petugas pria, mereka sudah tahu apa yang harus dilakukan. Tak jarang juga mereka bahkan membantu petugas pria.

Misalnya saja ketika api tidak cepat padam. Otomatis tenaga petugas akan berkurang. Mengangkat slang air yang beratnya 30-50 kg tentu bakal membuat capek. Nah, saat itulah biasanya srikandi akan mengambil alih.

Mereka akan membawa perbekalan. Mulai nasi sampai air mineral. Para cewek tangguh itu memberikan kesempatan kepada kru laki-laki untuk beristirahat sejenak. ”Makannya tentu di area yang steril dan aman dari api. Begitu yang cowok istirahat, para srikandi ini akan langsung memegang slang tanpa disuruh,” terang perempuan yang dipanggil Baruna I oleh anak buahnya itu.

Bagi PMK, kehadiran Srikandi tersebut bukan cuma pelengkap. Mereka sudah menyatu dengan lainnya. Menaklukan api adalah tantangan yang tidak gentar mereka hadapi.

Selain membantu di lapangan, kehadiran mereka juga pemanis di tengah histeria warga yang panik. Meskipun terkadang ada juga yang meremehkan perannya, tapi mereka tak terlalu ambil pusing. Cepat padam berarti pekerjaan tuntas. Saat tuntas, jerih payah para srikandi tersebut terbayar lunas. (did/JPG)

Chandra Oeratmangun

Rajin ke Lapangan dan Belajar dari Youtube 

LIMA tahun sudah Chandra Oeratmangun menjadi komandan pemadam kebakaran di Metropolis. Selama ini, dia sudah dianggap layaknya seorang ibu sendiri oleh anak buahnya. Awalnya memang canggung saat pertama kali dirinya harus berjibaku memadamkan api.

Perempuan kelahiran 6 Oktober 1960 itu menuturkan, kunci keberhasilannya dalam memimpin adalah rajin ke lapangan. Tanpa hal itu, dirinya tidak akan pernah tahu apa yang dirasakan oleh bawahannya. ”Karena ini kerja lapangan. Sering ada di lokasi kebakaran akan membuat anak-anak percaya diri. Tidak main perintah tapi harus paham betul situasinya,” ujar Chandra.

Nah, untuk memahami situasi itu Chandra terbiasa terjun langsung. Bahkan dia juga terbiasa berada di tengah-tengah api yang berkobar. Tidak sekadar dekat di kantor, tapi dia juga membiasakan diri agar dekat dengan bawahannya saat berada di lapangan.

Dari sana, insting Chandra saat berhadapan dengan kebakaran jadi terlatih. Dia tahu, harus memberi instruksi apa. ”Awal-awal di PMK ya sama sekali nggak tahu ilmunya, sama seperti bayi baru belajar jalan toh. Tapi kalau membiasakan diri ada di lokasi kebakaran, jadi paham-paham sendiri,” ucap perempuan berkaca mata tersebut.

Hal yang mendasar yang dipelajarinya saat masa awal bertugas di PMK adalah mengetahui arah angin. Itu jadi ilmu dasar. Jangan sampai PMK tidak tahu. ”Selain itu saya juga sering nonton youtube,” lanjut ibu dengan tiga orang anak tersebut.

Chandra melek teknologi. Lewat youtube dia belajar cara-cara penanganan kebakaran di berbagai negara. Menurutnya, perlengkapan pemadam kebakaran di Surabaya tak terlalu beda jauh dengan di luar negeri. Di Surabaya, mereka punya satu mobil Scania Bronto Skylift 55. Kendaraan tersebut punya tangga yang bisa menjulur tinggi mencapai 52 meter. Biasanya, dipakai untuk memadamkan kebakaran besar di gedung-gedung bertingkat.

Saat berada di lokasi kebakaran, suara Chandra begitu lantang. JawaPos.com pernah menyaksikan langsung bagaimana alumnus Fakultas Hukum Universitas Atmajaya Jogjakarta itu memberi komando. Arahannya tegas, namun dia juga selalu memikirkan keselamatan anak buahnya. ”Awas itu agak menjauh, kayaknya sudah rapuh atapnya. Dibloking dari sisi Barat saja,” perintahnya dalam sebuah kebakaran di Surabaya Pusat beberapa bulan lalu.

Di bawah kepemimpinannya, PMK Kota Surabaya cepat tanggap saat menerima laporan kebakaran. Respond time mereka terhitung cepat berkisar antara 7-10 menit pasca mendapat laporan. ”Standar nasional 15 menit. Saya memang pacu anak-anak untuk cepat datang ke lokasi,” tegas nenek seorang cucu tersebut. (did/JPG)

Anise Mulyati.

Saking Semangatnya, Tidak Tahu Kalau Hamil

DI antara para Srikandi yang ada di Pos Pasar Turi, penampilan Anis Mulyati memang mencolok. Perutnya membuncit. Ya, arek Kenjeran itu memang sedang mengandung anak keduanya. Usia kehamilannya sudah menginjak bulan ketujuh.

Lucunya, Anis baru mengetahui bahwa dirinya hamil saat usia kandungannya memasuki bulan keempat. Perempuan lulusan Administrasi Niaga Universitas Pembangunan Nasional (UPN) Veteran Surabaya itu bahkan sempat ikut memadamkan api meski sedang hamil.

”Saya nggak tahu kalau hamil hahaha. Rasanya cuma nggak enak badan aja,” kelakarnya sambil menutupi giginya menyembunyikan malu.

Kala itu, 24 Agustus 2016, terjadi kebakaran hebat di sebuah toko furniture di Jalan Gemblongan. Meskipun sudah merasa kurang fit, Anis tetap nekat berangkat. Semangatnya tidak luntur begitu tahu kebakaran itu membuat teman-temannya sedikit kewalahan.

Setelah tiba di lokasi, dia langsung berinisiatif untuk naik ke lantai 3 gedung yang ada di sebelah bangunan yang terbakar. ”Saya bawa slang sendiri sampai atas. Ukurannya 20 meter, beratnya 30 kg,” ceritanya.

Begitu selesai memadamkan api, dia langsung lemas. Seingatnya pandangannya menjadi gelap. Kepalanya pening dan nyaris ambruk. Begitu kebakaran selesai, dia langsung ke rumah sakit.

Sampai di situ dia masih tidak sadar kalau mau punya momongan lagi. Perempuan yang sudah punya seorang buah hati itu lantas pergi ke dokter tiga bulan kemudian. ”Ternyata saya sudah hamil empat bulan. Mudah-mudahan anak ini nanti tangguh kayak ibunya,” ucapnya penuh harap. (did/JPG)

Iswati

Nyaris Terlambat Menyelamatkan Diri

MENINGGALKAN pekerjaan mapan dan bergabung dengan pemadam kebakaran adalah jalan hidup yang dipilih oleh Iswati. Perempuan berparas manis berkawat gigi itu rela bergumul dengan asap. Padahal, sebelumnya Iswati bekerja di dunia yang bagi kebanyakan orang sangat menyenangkan, yakni di perkapalan.

”Sebenarnya juga nggak kebayang kalau di PMK juga bakal tugas lapangan. Soalnya daftarnya bagian administrasi,” cerita ibu tiga orang anak tersebut. Setelah tim Srikandi terbentuk, mau tidak mau Iswati pun ikut terjun.

Adaptasinya cepat, sebab dia sudah terbiasa menangani situasi-situasi genting. Saat bertugas di lapangan, nyali Iswati cukup besar. Dia hampir kehilangan nyawa apabila dirinya tidak diingatkan oleh Chandra. Dua tahun silam, terjadi kebakaran di komplek pergudangan yang ada di kawasan Pakal. Saat itu, Iswati bersama seorang rekannya berada di tengah-tengah bangunan.

Mereka tidak menyadari bahwa tiang pancang atap bangunan tersebut bakal ambruk. Dari jarak 10 meter, Chandra sudah meneriakinya. Namun, mereka tetap fokus untuk menjinakkan si jago merah. Akhirnya, Chandra menarik selang itu. Tujuannya agar mereka segera pergi.

Benar saja, tak sampai semenit setelah mereka keluar, ruangan itu benar-benar ambrol. ”Ada yang sempat merekam, setelah dilihatin videonya saya bersyukur. Sebagai pemadam kebakaran kerjanya memang cari pahala namun juga berisiko tinggi,” papar putri pasangan Kanari dan Manten itu. (did/JPG)

Norma Yunita

Juru Kemudi yang Lihai Membelah Macet

DI belakang mobil PMK yang meraung-raung membelah kemacetan, tentu ada seorang juru kemudi yang piawai. Norma Yunita adalah salah satu sosok tersebut. Dia mampu mengemudikan kendaraan besar secara terampil.

Saat pertama kali ditunjuk untuk membawa mobil PMK, Norma langsung tertantang. Dia ingin membuktikan bahwa perempuan juga jago saat membawa mobil berjuluk gajah air yang biasanya mengangkut 10 ribu liter air. ”Tangan saya sampai keseleo pas awal-awal mindahkan persneling dan memasang slang,” cerita perempuan yang masih melajang tersebut.

Sebagai juru kemudi, Norma memang tidak hanya sekadar menyetir. Dia juga harus memasang dan mengontrol air yang disemprotkan ketika memadamkan api. Kekuatan air yang berkisar antara 7-10 bar harus diawasi betul oleh sulung dari lima bersaudara tersebut. Jangan sampai slang tersebut terlepas di tengah-tengah proses pemadaman.

Membawa kendaraan besar sebenarnya sama saja. Norma hanya diberi pelatihan selama dua hari. Setelah itu, dia belajar otodidak dan mahir dengan sendirinya seiring intensitasnya bertugas di lapangan.

Menurutnya, ketika membawa kendaraan besar itu, dia kerap diperhatikan oleh pengguna jalan. Mereka memang kerap penasaran karena tahu yang ada di balik kemudi itu adalah perempuan. ”Kadang saya sampai salting sendiri. Biasanya kerudung saya pakai buat nutupin muka,” kata dara kelahiran 14 Juni 1984 tersebut. (did/JPG)

Ayu Sulistyowati

Peraga Simulasi yang Telaten dan Tanggap

SEBAGAI Srikandi PMK, Ayu Sulistyowati sering menghabiskan waktunya di luar kantor. Meskipun tidak ada kebakaran, dia akan tetap mobile. Tugasnya di bidang pendidikan dan pelatihan (diklat), mengharuskannya menyambangi beberapa instansi.

Perempuan asal Malang itu merupakan peraga simulasi. Biasanya dia memberikan materi seputar penanggulangan kebakaran. ”Mulai antisipasi kebakaran sampai mengajarkan memadamkan api saat kondisi darurat,” jelas Ayu.

Dia mencontohkan, misalnya saja kasus kompor mleduk. Kebanyakan kasus tersebut disebabkan karena regulator tabung gas. Banyak masyarakat yang salah kaprah soal pengamanan.

Ayu menceritakan, biasanya ada yang menaruh batu bata di atas regulatot. Tujuannya, agar regulator tidak gampang goyah. Padahal itu keliru dan malah berakibat fatal. ”Bebannya malah berat. Malah bisa rusak regulatornya,” terang anak tunggal pasangan Jumai dan Sulastri itu.

Selain regulator tabung gas, kebakaran biasanya dipicu korsleting listrik. Kasusnya bisa berupa instalasi yang kebanyakan daya. Atau bisa juga charger handphone yang terlalu panas. ”Setelah dicharge harus dicabut. Kalau nggak bisa panas dan berujung kebakaran,” tambahnya.

Sebagai seorang peraga simulasi, tak jarang Ayu digoda. Biasanya hal itu terjadi saat dirinya mendatangi SMA. Para pelajar cowok tak jarang menggodanya. Namun Ayu menganggap hal itu sebagai hal yang lumrah sebab mereka masih beranjak gede. (did/JPG)

#dinas pemadam kebakaran kota surabaya #srikandi penakluk bara api

Dida Tenola
Jawa Pos 2017
Other Cover Stories
 Top