Jejak Imigran di Georgetown, Malaysia


Kompleks Tionghoa tak bisa dilepaskan dari Malaysia, terutama di Penang. Selain Kuala Lumpur, daerah itu menjadi pecinan terbesar di dunia.

Kamis, 20 Apr 2017 10:11
PENULIS / EDITOR : DHIMAS GINANJAR

 AWAL  abad 18 membuka sejarah baru bagi warga Tionghoa di Pulau Penang. Cerita  keberadaan mereka di kota sebelah barat laut Malaysia itu berawal saat Kapten  Francis Light dari East India Company (EIC) diminta Kerajaan Inggris membuka  trading post di Pulau Penang pada 1786.

Sebagai  kota pelabuhan, Francis Light mulai membangun jalan-jalan yang dianggap  memudahkan proses naik turunnya barang dari kapal. Salah satu jalan tertua  sejak Pulau Penang diduduki Inggris sebagai pos dagang adalah King Street.  Jaraknya dengan pelabuhan dapat ditempuh sekitar 10 menit dengan berjalan.

Panjang  jalan tersebut mencapai sekitar 500 meter dengan lebar yang cukup untuk dua  mobil. Saat itu, King Street juga digunakan sebagai penghubung dengan kawasan orang-orang Eropa. Namun, memasuki pertengahan abad 19-20, warga Eropa lebih suka tinggal di pusat kota Pulau Penang.

Akhirnya,  orang Tionghoa yang perekonomiannya mulai meningkat karena perdagangan berganti  menempati Street King. Sejak itu, jalan yang dekat dengan balai Kota Penang tersebut ramai dihuni orang Tionghoa. Buktinya, mulai awal hingga ujung jalan  dipenuhi arsitektur khas Tiongkok. Yakni, menekankan pada artikulasi dan simetri bilateral yang menunjukkan keseimbangan. Misalnya, kolom dalam struktur bangunan yang genap dengan pintu masuk utama di tengah. Biasanya, ada tulisan dalam bahasa Mandarin. Beberapa rumah memiliki atap melengkung dan lancip serta aksesori berupa lampion.

Bukti  lain pentingnya King Street bagi warga Tionghoa adalah sebelas bangunan utama  yang berupa kuil serta rumah untuk asosiasi dan kongsi dagang. Misalnya, bangunan  bernama Tseng Lung Fui Kon yang menjadi tempat berkumpulnya orang Hakka asal  Guangdong.

Ada  pula Kuil Chong San Wooi Koon yang dikhususkan warga Kanton dengan nama keluarga Lau, Kuan, Teoh, dan Teo. Warga yang memiliki nama keluarga Lee akan berkumpul di Kuil Lee Sih Chong Soo. Saking beragamnya orang Tionghoa di Pulau Penang, mereka memiliki komunitas sendiri di King Street.

Jumat  malam (3/2), King Street menjadi pusat perayaan Chinese New Year di Malaysia. Sebelas bangunan tersebut menjadi pusat kegiatan. Terdapat panggung untuk menampilkan pentas tarik suara, drama kolosal, dan berjualan makanan. Ditambah kawasan sekitar, total ada 13 stage yang disiapkan untuk menyambut Tahun Ayam  Api.

Panggung  utama di ujung King Street berdekatan dengan laut. Terdapat Liong atau patung naga yang diarak anak-anak. Karpet merah terbentang mulai belakang Liong hingga patung ayam dengan sebuah taman kecil. Banyak yang berpose di sana sembari  mengharapkan keberuntungan.

Sekitar  250 meter dari panggung utama, ada displai mobil kuno yang melambangkan kesejahteraan orang Tionghoa saat itu. Layaknya perayaan Tahun Baru, banyak penjual makanan. Hal tersebut melengkapi berbagai atraksi yang disajikan warga. Kemeriahan itu tidak hanya dinikmati orang Tionghoa.

Orang  India yang tinggal di sekitar King Street juga diajak memeriahkan acara. Di Kuil Koo Saing Wooi Koon, misalnya, penari India tampil di atas panggung.  Mayoritas turis suka mencoba aneka makanan dan menonton pertunjukan tari.  ''Saya tidak tahu karakter apa yang dilukis. Tapi, saya sangat menikmati  perayaan ini,'' kata Daryl Murakami, turis asal Kanada yang wajahnya diwarnai  ala pemeran opera Tiongkok. (Dhimas Ginanjar/c18/dos)

#penang #imigran

Alur Cerita Berita


Dhimas Ginanjar
Jawa Pos 2017
Other Cover Stories
 Top