Rasa Rendang Sama, Pedasnya Yang Beda


MENGUNJUNGI Georgetown belum lengkap bila tidak melahap aneka kulinernya. Tiga etnis yang hidup rukun di sana, yakni Melayu, Tionghoa, dan India, membuat kawasan berpenduduk 740 ribu jiwa tersebut kaya aneka makanan Belum lagi kuliner Eropa yang ikut meramaikan jalanan kota itu.Indonesia...

Rabu, 19 Apr 2017 19:24
PENULIS / EDITOR : DHIMAS GINANJAR

MENGUNJUNGI  Georgetown belum lengkap bila tidak melahap aneka kulinernya. Tiga etnis yang  hidup rukun di sana, yakni Melayu, Tionghoa, dan India, membuat kawasan  berpenduduk 740 ribu jiwa tersebut kaya aneka makanan Belum lagi kuliner Eropa  yang ikut meramaikan jalanan kota itu.

Indonesia  diwakili masakan padang. Ada beberapa rumah makan padang di sana. Namun, yang  paling tua dan melegenda kelezatannya adalah Restoran Nasi Padang Minang yang  terletak di pusat kota. Kedai makanan itu ada sejak 1969.

''Keluarga  kami berasal dari Batang Kapas, pesisir selatan Sumatera Barat. Makanya, saya  punya nama Minang,'' ujar Agus Salim, 65, Jumat (3/1). Dia adalah generasi  kedua yang ikut menjaga kelangsungan hidup rumah makan padang yang berlokasi di persimpangan Jalan Transfer dan A.S. Mashoor itu.

Agus  lupa pastinya. Yang jelas, saat Perang Dunia Kedua, banyak orang Sumatera yang pindah ke Malaysia. Biasanya melalui Medan. Termasuk keluarganya yang memilih tinggal di Kedah. Pada 7 September 1952, Agus Salim lahir di sana. ''Tante saya  lantas ke Penang sebelum 1969,'' ucapnya.

Perempuan  itu bernama Siti Hajar binti Hussein. Dia memilih tinggal di Penang bersama orang-orang Minang yang mengadu nasib di kota pelabuhan itu. Untuk menyambung hidup, dia membuka restoran. Lokasinya sama seperti 48 tahu lalu. Di bawah International Hotel.

Menurut  Agus, awalnya makanan yang dijual rumah makannya bukan masakan padang. Sebab,  orang Melayu tidak begitu suka pedas. Jadinya, menu yang dijual waktu itu  mengikuti lidah orang Melayu yang kebanyakan sayur-sayuran. "Setelah itu,  kami masukin sikit-sikit (sedikit-sedikit) makanan Minang di menu"  terangnya.

Agus  bercerita, awalnya tidak mudah membuka restoran khusus makanan padang di Penang. Sebab, kebanyakan orang Melayu saat itu lebih suka memasak sendiri. Apalagi, masyarakat di kawasan utara Malaysia tersebut telanjur mengenal  makanan khas di sana, nasi kandar. Yakni, hidangan nasi putih yang disajikan  dengan banyak masakan kari khas Tamil India.

Namun,  kata Agus, Siti Hajar tidak mau menyerah. Dia meyakini masakan padang bisa  cocok di lidah orang Melayu dan pendatang. Untuk itu, dia perlu mendatangkan bumbunya dari tanah Sumatera. Hal itu ditujukan agar tetap bisa mendapatkan  cita rasa khas Minang. "Dulu kami harus beli banyak dari Medan. Sekarang  kapal feri susah ke sini. Jadinya mahal" terangnya.

Untung,  kini di Penang sudah banyak yang berjualan rempah-rempah yang dibutuhkan untuk  membuat bumbu masakan Padang. Tinggal meracik sendiri. "Tidak ada yang  berbeda, hanya tingkat pedasnya yang dikurangi," ucapnya.

Begitu  menemukan formulasi yang pas, terkait bumbu dan rasa pedasnya, rumah makan asli  Tanah Minang itu jadi jujukan warga untuk makan pagi, siang, hingga malam. Lauk  yang paling disukai adalah daging rendang.

"Resep  di tempat kami tak pernah dicampur. Makanan Minang ya Minang. Melayu ya  Melayu" urai pensiunan pegawai negeri yang mengurusi aset Kerajaan  Malaysia itu.

Rumah  makan tersebut kini memiliki delapan pekerja, termasuk seorang koki khusus yang  didatangkan dari Tanah Minang. Mereka masih satu keluarga besar."Makanan  yang kami jual juga murah. Tak ambil untung banyak" jelasnya.

Jika  dibandingkan dengan restoran lain, harga yang dipatok Agus bisa lebih murah sekitar RM 3 (Rp 9 ribu) per porsi. Misalnya, nasi padang dengan lauk daging  rendang saja dihargai Rp 12 ribu. Namun, bila ditambah sayur dan lauk lainnya,  bisa Rp 21 ribu per porsi.

Komitmen  untuk menghadirkan makanan Minang dan Melayu di restoran itu masih terjaga  sampai saat ini. Dalam sehari, Agus selalu menyiapkan 30 menu yang dipajang di  kaca etalase.

Buka  mulai pukul 10.00, restoran padang tersebut mengalami puncak ramai saat jam makan siang, pukul 12.00-13.00. Biasanya menu favorit adalah ikan cencaru dan rendang. Dalam tiga jam, sedikitnya 200 orang makan di situ secara bergantian. 

'Buka  hari-hari, (kalau) letih tutup. Masa pelancongan tidak bisa tutup karena jadi wang (uang, Red)" katanya. 

Meski  sudah banyak yang kenal, keluarga besar belum berencana membuka cabang. "Kami khawatir rasanya tidak sama. Juga, tidak ada tenaga" terangnya.

Selain  Agus, ada Zulkifli yang mendapat tugas sebagai kasir, mencatat menu pilihan pembeli, serta membungkus makanan yang akan dibawa pulang. Pria 30 tahun itu merupakan generasi ketiga yang setia bekerja di restoran tersebut."Ibu  meninggal empat tahun lalu. Saya tetap di sini" ujarnya. (*/c5/ari)

#rendang

Alur Cerita Berita


Dhimas Ginanjar
Jawa Pos 2017
Other Cover Stories
 Top