I
Diterpa angin malam musim bediding,
seseorang tiba-tiba melompat
keluar dari dalam baliho.
Begitu sol pantofelnya beradu trotoar,
ia diam mematung sejenak.
Sepasang matanya melirik kanan-kiri.
Desir angin dan garukan daun-daun kering
di atas jalanan aspal yang lengang.
Lampu jalanan memancar sekuat tenaga.
Seorang penjual kopi tua, di seberang, terlelap
berbantal tangan di meja warungnya.
Ia merapikan jas dan meluruskan dasinya yang agak miring.
Setelah memperbaiki letak pecinya, ia menyeberang.
II
Pagi berikutnya, agak siang,
warung Pak Tua dipagar
orang-orang berbadan tegap.
Dan dikepung para wartawan.
Suara sirene pengawalan meraung mendekat.
Mobil hitam panjang berhenti di depan warung,
seseorang keluar sambil tersenyum lebar
Kilatan lampu bertubi-tubi
Pak Tua duduk diam
Apa kabar? kata orang yang keluar dari mobil
Pak Tua diam saja
Saya mau bayar kopi yang kemarin, kata orang itu lagi
Pak Tua menunjuk ke arah baliho di seberang
Orang yang keluar dari mobil,
orang berpeci itu, mengangguk.
Saya Presiden. Mau bayar kopi kemarin
Pak Tua menunjuk telinganya sendiri
Orang berpeci menengok
ke lelaki tegap di sampingnya
Lalu mengarahkan telunjuknya ke meja warung
Sekoper uang diperlihatkan kepada Pak Tua
Kilatan lampu kamera wartawan bertubi
Pak Tua mengemasi seluruh perabot warungnya.
Menggantungkan lembaran kardus
di tiang bambu penyangga atap warung.
Lembaran kardus bertulisan: TUTUP
Lalu ia ngeloyor pergi,
meninggalkan presiden, para pengawalnya, para wartawan.
Meninggalkan sekoper uang di meja warung.
Selembar kertas bergaris juga di atas meja warung,
bertulisan: AKU TAK MENDENGARMU
Agustus 2024
---
DWI PRANOTO, Esais, penyair, dan penerjemah