← Beranda

Pemberontakan

Yuditeha06 Agustus 2024, 00.47 WIB
ILUSTRASI. (BUDIONO/JAWA POS)

 

Warga desa menilai Wiro orang baik, tidak pernah melanggar aturan, dan suka membantu orang yang kesusahan. Bahkan Wiro pernah berusaha membongkar aksi penipuan perihal tanah yang dilakukan Gondo, kepala desa ini. Namun, usaha Wiro gagal karena tidak bisa menunjukkan buktinya.

Penilaian warga terhadap Wiro seketika berubah sejak kematiannya sepekan lalu. Jasad Wiro ditemukan terkapar di pinggir jalan utama desa dalam keadaan telanjang dengan mulut penuh busa. Di dekatnya ada sebuah pesan: Seorang pezina memang pantas mati. Pesan itu membuat warga menilai Wiro tidak mampu menjaga citra dan perilakunya yang semula bersih menjadi kotor.

Meski begitu, anaknya yang bernama Danu tidak terpengaruh dengan penilaian itu. Danu tetap meyakini Wiro adalah bapak yang baik. Kepercayaan Danu atas Wiro karena dia hafal dengan tabiat bapaknya. Bahkan Danu masih ingat janji bapaknya yang pernah diceritakan kepadanya. Ketika ibunya meninggal saat melahirkan dirinya, Wiro berjanji tidak akan menikah lagi, semata karena ingin memastikan Danu tumbuh dengan kasih yang penuh. Danu pun merasakan sendiri kasih sayang Wiro, yang telah menerima dia seutuhnya. Tidak sekali pun Wiro menganggap kebisuan Danu sebagai kecacatan yang bisa menjadi penghalang Wiro untuk mengasihinya. Karena itu, kepergian Wiro membuat Danu sedih, terlebih karena Wiro tidak bisa membersamai dirinya lagi.

Pengertian itulah yang membuat Danu tidak memercayai kabar yang beredar terkait Wiro yang suka main perempuan. Justru Danu punya dugaan, bapaknya adalah korban pembunuhan yang dilakukan oleh orang-orang suruhan Gondo. Meski begitu, tak ada orang yang percaya karena Danu hanya anak bisu berusia delapan tahun.

Sekarang desa ini sedang menghadapi masa krisis alam karena musim kemarau panjang. Sebagian besar warga cemas dengan kondisi yang membuat persediaan bahan makanan warga menipis. Tapi, tidak demikian dengan Danu karena sejak dulu Wiro sudah mempersiapkannya. Wiro sangat paham siklus alam desanya hingga dia dengan sadar membuat lumbung bawah tanah untuk menyimpan persediaan bahan makanan lebih banyak untuk berjaga-jaga bila musim kemarau panjang datang. Karena itu, Danu tidak merasa khawatir. Jika warga cemas terhadap ancaman kelaparan, Danu sedih karena ditinggal Wiro.

Meski begitu, sebenarnya Danu masih punya satu orang yang selama ini bersahabat baik dengannya, yaitu Toha, pemuda yang sekitar tiga tahun lalu mendadak stres begitu mendapati istrinya mati di hutan ujung desa. Menurut kabar, sebelum istrinya dibunuh, lebih dulu telah diperkosa, tapi karena tidak ada bukti kasus itu tidak terungkap sampai sekarang. Toha menjadi sering histeris dan meracau yang membuat sebagian warga risi. Dari banyak kata yang dia ucapkan, dia paling suka menyebut nama beberapa warga.

Pada sebuah malam yang hening, desa itu tiba-tiba pecah oleh riuh. Warga geger ketika mengetahui rumah Toha terbakar hebat, sementara mereka menduga Toha sedang tidur di dalamnya. Ketika rumah telah ludes, para warga meyakini Toha ikut hangus terbakar.

Sesungguhnya yang terjadi ketika rumah itu terbakar, Wiro sempat nekat menerjang api untuk menyelamatkan Toha. Hanya Danu-lah yang melihatnya. Wiro menemukan Toha dalam keadaan pingsan yang sebagian tubuhnya terbakar. Setelah memadamkan api di tubuh Toha, Wiro membopongnya keluar. Wiro lantas menyembunyikannya, mengobati dan merawatnya. Ketika luka bakar di tubuhnya mengering, Toha memutuskan pergi dari desa, dan menjadi penghuni hutan di ujung desa, yang oleh warga dianggap tempat angker, terlebih setelah penemuan mayat istri Toha di sana. Hanya Wiro dan Danu-lah yang mengetahui keberadaan Toha itu.

Kembali pada kisah Wiro. Danu masih ingat, malam sebelum Wiro ditemukan mati, tiga orang bertamu ke rumahnya. Setelah terjadi percakapan, lantas mereka mengajak Wiro keluar. Beberapa warga melihatnya dan tidak merasa curiga karena nada bicara mereka biasa saja, bahkan sesekali terdengar gurauan sebelum semuanya masuk ke mobil.

Sebenarnya sikap orang-orang itu berbeda ketika masih di dalam rumah. Danu melihat dengan mata kepalanya sendiri perbedaan itu. Bicara mereka sangat menekan bapaknya. Karena itu, Danu tahu bahwa saat itu bapaknya sedang dalam masalah.  Namun, tampaknya orang-orang itu paham dengan karakter warga yang tidak akan percaya jika tidak ada bukti hingga ketika keluar membuat kesan yang wajar.

Baca Juga: Yang Marginal, Yang Horizontal, Yang Keras Kepala

Danu tahu, tiga orang itu memaksa bapaknya untuk menuruti apa yang mereka perintahkan, termasuk pada saat mereka keluar rumah untuk melakukan rekayasa dengan bersikap seakan-akan tidak terjadi apa-apa. Danu meyakini tiga orang itu jugalah yang kemudian mencekoki bapaknya dengan racun lalu menelanjanginya.

Namun, lagi-lagi kesaksian Danu tidak bisa tersampaikan karena dia tidak bisa bicara, dan ketika dia berusaha melakukan dengan bahasa isyarat pun, tetap tidak ada yang memahami, terlebih Danu yang waktu itu belum bisa menulis. Hanya Wiro dan Toha-lah yang mengerti bahasa isyarat itu. Padahal menurut Danu, kejahatan itu tak akan terbongkar jika dia hanya diam.

Kondisi alam desa semakin parah. Pohon-pohon besar mulai meranggas. Segala jenis tumbuhan pangan yang ditanam tidak bertunas. Bahan makanan yang ada di lumbung setiap warga telah habis. Dari hari ke hari kecemasan warga terus menebal. Jika tak segera turun hujan, bencana kelaparan benar-benar akan datang.

Tapi, lagi-lagi Danu tidak merisaukan hal itu. Satu-satunya yang terbayang dalam benaknya adalah Toha karena selain Wiro, Toha-lah yang selama ini bersedia menerimanya. Semalaman Danu memikirkan lagi nasib bapaknya, kisah Toha, lalu hidupnya sendiri. Pada saat dia kembali mengingat tiga orang yang dulu bertamu ke rumahnya, seketika di benaknya muncul ide. Danu ingin mengajak Toha bekerja sama untuk membuat rekayasa. Danu sudah tahu caranya agar Toha sepakat dengan rencana itu. Ketika dini hari menjelang, diam-diam Danu berjalan menuju hutan, tempat di mana Toha tinggal.

Selang beberapa hari sejak Danu menemui Toha, desa itu kedatangan seorang lelaki buruk rupa. Tidak ada yang mengenali bahwa lelaki itu sesungguhnya adalah Toha. Penyelamatan Wiro terhadap Toha rupanya tidak bisa menyelamatkan wajahnya. Ketika luka itu kering, wajahnya tidak dapat pulih seperti semula, bahkan menjadi sangat berbeda dengan aslinya.

Dengan tenang Toha keliling desa, menyambangi rumah-rumah warga. Pada mulanya orang-orang mengira dia pengemis, tapi setiap kali tuan rumah menemuinya dan hendak memberi uang, Toha berkata: ”Saya bukan peminta-minta. Saya sekadar ingin menyampaikan pesan orang-orang suci. Selagi masih ada kesempatan, berdoalah dan bertobatlah. Allah akan memberi kemudahan.”

Menjelang malam, usai Toha berkunjung ke rumah warga, dengan sangat hati-hati dia menuju rumah Danu lewat kebun belakang, lalu masuk di lumbung bawah tanah. Ketika tengah malam tiba, giliran Danu keluar untuk menaruh bingkisan yang berisi bahan makanan di setiap depan pintu rumah warga.

Esok harinya Toha keluar rumah, juga melalui kebun belakang, lalu kembali keliling menyambangi rumah warga. Namun, rumah-rumah itu kosong dan Toha mendapat kabar bahwa warga desa itu telah berkumpul di alun-alun. Toha gegas ke sana, dan ketika dia tiba di alun-alun, semua orang serempak menangkupkan tangan, tanda menghormati. Lantas ada orang bicara mewakili warga ”Maafkan kami yang tidak mengeri siapa engkau, tapi yang pasti kami tahu perkataan engkau terbukti. Maka kami menaruh harapan, bahkan jika engkau wali, kami semua percaya.”

Toha mengulangi apa yang pernah dia katakan bahwa dia hanya disuruh menyampaikan pesan orang-orang suci. Sementara orang yang mewakili mereka menyampaikan sebuah permintaan. Mereka berjanji mengikuti Toha jika bisa dia mengabulkan satu permintaan mereka.

”Apa yang kalian mau?”

”Kami minta hujan.”

Toha langsung memberi tanggapan bahwa jika mereka benar-benar mau berdoa, hujan akan datang. Jika pun tidak terkabul, hal yang sangat mungkin karena di desa itu ada penjahat yang bebas berkeliaran.

Apa yang Toha katakan adalah pesanan dari Danu. Danu punya keyakinan, jika para penjahat mendengar hal itu, hidupnya tidak akan tenang. Dengan begitu, dengan terpaksa mereka akan keluar dari persembunyiannya. Dan pada saat itu Danu dan Toha akan melakukan aksinya, membunuh mereka semua. Danu menyadari hal itu bukan tanpa risiko karena jika warga tahu siapa jati dirinya, atau jika hujan tidak turun, malapetaka yang lebih besar akan terjadi.

”Kami akan berdoa bersama,” sahut orang itu diikuti gemuruh sepakat dari warga.

Ketika Toha bertemu Danu dan menyampaikan kejadian itu, keduanya benar-benar bingung. ”Kenyataannya kita tidak pernah bisa membuat hujan,” bisik Toha.

Meski seluruh warga sudah berdoa, esok harinya hujan tidak datang, bahkan sampai dua hari setelahnya pun hujan tidak turun juga. Di saat Danu dan Toha sudah mulai pasrah, di hari ketiga jelang siang depan rumah Danu seketika ramai suara orang, ada suara ketukan di pintu rumah Danu.

Dalam kepanikan itu Danu memberanikan diri membuka pintunya. Begitu pintu terkuak, terlihat serombongan warga telah berdiri di teras dengan membawa empat jasad. ”Dari awal sebenarnya kami sudah tahu bagaimana mereka. Tapi, baru sekarang kami berani melakukannya,” ucap salah satu warga. (*)

*) Yuditeha, Penulis yang tinggal di Karanganyar. Pendiri Komunitas Kamar Kata.

EDITOR: Ilham Safutra