← Beranda

Siapa Empat Lelaki di Kebun Kurma Itu?

Ilham SafutraKamis, 29 Oktober 2020 | 20.23 WIB
ILUSTRASI - BUDIONO/JAWA POS
Jakfar mengatupkan sepasang sayap putihnya, lalu berjalan pelan demi pelan, seorang diri, di malam yang hening sekali, di Kota Madinah. Wajahnya berkilau dalam remang bulan.

---

DITATAPNYA langit yang tak bergelombang. Ditatapnya bintang-bintang yang berserak. Ditatapnya bulan yang sempurna: wajahnya cantik, sendu, teduh, niscaya sejuk, tenang, sangat damai. Setelah berkelok di beberapa sudut kota, ia kepakkan sepasang sayap putihnya, terbang tinggi. Matanya menebar berkeliling. Dilihatnya seraut wajah sedang berdiri di hadapan nisan-nisan batu yang bertebaran begitu saja bagai biji-biji jagung yang disebar di muka tanah. Wajahnya bercahaya, indah sekali, sendu sekali, teduh sekali, sangat sejuk, sangat tenang, sangat damai, dan sangat mengundang setiap hati untuk jatuh cinta.

Jakfar mendongakkan kepalanya, jauh ke angkasa yang tak bergelombang, dan memekik keras hingga membuat pasir-pasir berdebar: ’’Demi Allah, demi Allah, demi Allah, demi Allah, sungguh wajah Kanjeng Nabi SAW lebih indah daripada seindah-indahnya wajah purnama….”

Siang tadi, saat terik begitu luar biasa mendera kepala, bertudungkan sehelai kain serban merah yang telah lusuh, yang telah bertahun-tahun dipakainya, beliau bergegas ke rumah anaknya, tepatnya putrinya. Rindu sekali hatinya kepada kedua cucu kembar kinasihnya.

Balita-balita yang sangat lucu, jenaka, gemar rebahan begitu saja di dadanya, kadang lain menunggangi punggungnya bagai kuda, yang dulu sekali, di kali pertama mata mereka diterpa cahaya kota ini, sepotong kurma dimamahnya, lalu disuapkannya ke kedua bibir mungil dan hangat itu. Ya Hasan, ya Husein….

Orang-orang, saat itu, mengira beliau sedang menerima hadiah lagi dari Tuhan karena sujudnya panjang sekali. Tak seperti biasanya. Orang-orang senang hati, pastilah sebentar lagi akan ada tuturan darinya.

Tetapi, orang-orang itu kemudian berubah tersenyum-senyum sembari saling menoleh saat beliau membalikkan badan dan berkata, tidak ada hadiah dari Tuhan kali ini; sujud panjang tadi semata karena kedua cucuku ini menunggangi punggungku dan berayun-ayun bagai sedang mengendarai kuda perang.

’’Anak-anak kecil, semuanya sama belaka, selalu lucu dan menggemaskan….” bisik seseorang.

’’Iya, semua anak kecil selalu sama sederhananya, sama-sama fitrinya….” sahut temannya.

’’Iya, kita sajalah yang beraneka rupa, akibat dera pikiran dan keinginan tanpa ujung….”

Putrinya membukakan pintu. Lalu mempersilakan beliau masuk. Matanya menebar berkeliling ke sekujur isi rumah kecil yang begitu-begitu saja. Sebuah tungku tampak menyisakan debu-debu sisa pembakaran yang telah lama padam. Sebuah periuk kosong teronggok di sebelahnya. Sebuah bejana tua berisi air. Beberapa potong kayu bakar kecil-kecil. Sebuah lincak yang agak miring. Dan lantai tanah yang keras dan bergunduk di pelbagai sisinya. Lantai yang tak benar-benar rata.

’’Maaf, Ayah, kami sedang tidak memiliki makanan dan minuman….” ujarnya.

Beliau beralih menatapi putri kinasihnya: baju gamisnya yang lebar terlihat lusuh, kusam. Di sejumlah sisinya, terlihat bekas jahitan dan sulaman ala kadarnya. Tubuhnya tinggi, semampai, lebih tepatnya agak kurusan. Wajahnya begitu cerah, ceria, bagai selalu ditempati purnama.

’’Ke mana anak-anaku, Fathimah?”

Putri kinasihnya duduk di sebelah beliau; ujung gamisnya bersentuhan dengan ujung gamis ayahnya yang juga sederhana.

’’Hasan dan Husein sedang ikut ayahnya….”

’’Pergi ke mana?”

’’Bekerja, Ayah.”

’’Di mana?”

’’Di kebun kurma pojok kota. Katanya, pas pamit tadi, ada tawaran menimba air buat menyirami pohon-pohon kurma di kebun milik orang Yahudi itu….”

Photo
Photo
ILUSTRASI (BUDIONO/JAWA POS)

Beliau berdiri, menatap putrinya sebentar. ’’Aku akan ke sana, menyusul mereka….”

’’Ini sedang panas-panasnya, Ayah, sebaiknya Ayah di sini saja, mungkin takkan lama lagi mereka pulang….”

’’Tidak, aku akan ke sana saja. Aku kangen sekali sama kedua cucuku itu.”

Beliau pun pergi dari rumah amat kecil itu. Sepasang mata bening putri kinasihnya menatapi punggung sepuh yang berayun-ayun di antara langkah-langkah tegapnya. Membelah jalanan yang gersang, melintasi debu-debu yang sesekali berhamburan menyapanya dengan riang gembira.

Beliau terus melaju tenang, di bawah terik siang, meliuk ke sejumlah kelokan dan rumah-rumah yang menundukkan kepala kepadanya. Di angkasa, di langit yang sangat terang, Jakfar menatapinya dengan hati yang makin jatuh cinta.

Langkah beliau mulai memasuki jalanan yang di kanan-kirinya bertebar batang-batang kurma yang tegap dan tebal, dengan daun-daun yang berjuntaian, dan tandan-tandan buah yang berjuluran. Sepasang matanya ditebarkan ke pelbagai penjuru, mencari wajah-wajah kecil yang amat disayanginya.

Telinganya lantas menangkap suara anak-anak kecil yang tampaknya sedang bercanda. Itu pasti cucu-cucu terkasihku –ayunan kakinya dipercepat saking inginnya bisa segera memeluk keduanya. Meliuki beberapa batang kurma, melintasi sejumlah gundukan tanah dan batu serta kerikil.

Dari tepian kebun yang sangat luas, dilihatnya sepasang anak kecil sedang berlarian ke sana-sini, sembari cekikikan. Saat salah satunya terjatuh bergulingan di tanah-tanah kering, bocah satunya terkekeh sembari mendekatinya, lalu menarik tangannya, membangunkannya kembali. Lalu berlarian kembali, berkejar-kejaran. Di tengah kebun kurma yang sangat luas ini.

Lucunya anak-anak, lucunya anak-anak, gumam beliau sembari mengayunkan langkahnya, menyusuli lesatan-lesatan balita yang wajahnya serupa betul itu.

’’Hasan, Husein….”

Kedua anak kecil itu menoleh ke arah suara yang amat dikenal itu. Sontak menghambur deras dan berebut mendebumkan tubuh ke bidang dada kakeknya. Dipeluknya erat sekali kedua balita itu; keduanya pun balas memeluk seraya mendaratkan ciuman-ciuman yang bertubi-tubi ke pipi kanan dan kiri beliau.

’’Kakek sayang betul sama kalian….”

’’Hasan sayang kakek juga….” sahut bocah yang satu.

’’Husein juga sayang kakek….” sambung bocah satunya lagi.

Mereka kembali berpelukan, erat, sangat erat, sampai-sampai embusan angin pun takkan kuasa melesak dan melerai pelukan-pelukan itu.

Lelaki yang sedari tadi menimba air, yang mengetahui kedatangan mertua yang amat dicintainya itu, menghentikan pekerjaannya, menatapi lekat, lalu berjalan mendekat, kemudian mencium pipi kanan dan kirinya.

’’Mengapa kamu membawa anak-anak kecil ini ke tengah kebun di tengah siang terik begini, Ali, mereka bisa kepanasan….”

’’Aku sedang bekerja, Ayah, mereka minta ikut….”

Beliau menatapi wajah kedua anak kecil yang digendongnya di tangan kanan dan kirinya. Pada kedua mulut mungil itu, terlihat lepotan kurma-kurma. Di bibirnya, bahkan juga di pipinya.

’’Kalian sudah kenyang makan kurma?”

’’Iya, dikasih ayah,” sahut Hasan.

’’Hasan banyak sekali makannya, Kakek…” ujar Husein.

’’Husein juga banyak, Kakek….” sergah Hasan.

Beliau tertawa, kembali mendaratkan ciuman hangat ke kedua pipi dan kening cucunya.

’’Mari pulang, Ali, sudah siang begini, anak-anak juga sudah kenyang makan kurma….”

Lelaki yang menimba air sumur dengan upah sebiji kurma untuk setiap timbaan itu menyahut, ’’Ayah, jika berkenan, mohon untuk sebentar kuteruskan timbaan-timbaanku agar kubisa membawa pulang beberapa biji kurma untuk makan siang istriku….”

Beliau mengangguk, menatapi batang-batang kurma yang menghampar di kebun-kebun yang sangat luas di hadapannya.

Lelaki itu kembali ke arah sumur batu di tengah kebun, yang terletak di antara batang-batang kurma yang tumbuh ranum. Angin berkesiutan dari segala penjuru, meliut-liut di antara batang-batang, daun-daun, dan tandan-tandan buah kurma. Di langit, Jakfar menatapi keempat lelaki di kebun luas itu. Matanya berkaca-kaca, membasah, lalu pecah ke pipinya, berjatuhan ke dagu dan jenggotnya, seraya bergumam: betapa rendah hati kalian, wahai saudara-saudaraku; andai kalian mau, tentulah kalian tak perlu berada di tengah kebun kurma ini di siang terik begini; tentulah bahkan seluruh kurma di kota ini bisa kalian miliki; bahkan langit pun sangat berkenan untuk menurunkan makanan-makanan berlimpah lezat.

Beliau duduk di tepian kebun, di atas gundukan tanah. Di sebelahnya, di sisi kanannya ada Hasan, di sisi kirinya ada Husein. Keduanya terus berceloteh perihal apa saja. Kadang, Jakfar melihat keduanya saling terkekeh sedemikian lucunya, sampai membuat sang kakek pun terbahak hingga gigi gerahamnya terlihat. Berkali-kali pula, Jakfar melihat sang kakek memeluk keduanya, mengelus kepala, mencium kening, pipi, dan membersihkan tanah-tanah yang menempel di baju-baju lusuh nan sederhana itu.

Ya Allah, ya Allah, ya Allah, kekasih-Mu adalah sebenar-sebenar cinta, kasih, rendah hati, dan kesederhanaan, jerit Jakfar ke wajah langit di atas kepalanya.

’’Mohon izin tiga kali timbaan lagi, Ayah,” ujar lelaki penimba air sumur itu beberapa waktu kemudian.

Beliau mengangguk, lalu kembali bercanda dengan kedua cucu kinasihnya.

Jakfar urung mengepakkan sayapnya untuk turun ke arah mereka tepat saat lelaki penimba air itu telah berjalan ke arah kedua anaknya sembari membawa sebungkus kurma di tangan kanannya.

’’Mari pulang, Ayah, upah kurma ini sudah cukup untuk makan siang istriku….”

Mereka pun beranjak, meninggalkan kebun kurma yang membentang amat luas itu setelah melambaikan tangan ke arah lelaki tua pemilik kebun kurma yang luas itu, yang sedari tadi duduk di kejauhan. Di dada sang kakek, Husein digendong erat; di dada lelaki satunya, Hasan digendong erat. Dari mulut kecil keduanya, terdengar celotehan-celotehan, juga sesekali cekikikan-cekikikan.

Jakfar mengepak naik ke angkasa. Dari ketinggiannya kini, ia menyaksikan Kota Madinah bagaikan sekadar kumpulan pasir yang bertaburan begitu saja.

Ia memekik sangat keras hingga membuat pasir-pasir berdegup gemetar: ’’Tahukah kalian siapa gerangan lelaki mahacinta yang rela berjalan di terik siang begini dan siapa pula lelaki penimba air sumur dengan upah sebiji kurma untuk setiap timbaan di kebun milik si Yahudi itu serta siapa pula kedua anak kecil yang amat mereka sayangi itu? Sungguh jenis hati macam apakah gerangan yang masih saja meminta alasan-alasan hitam-putih untuk jatuh cinta sebertubi-tubinya kepada mereka? Allah…..

Jogja, 2 Rabiul Awal 1442/18 Oktober 2020




Penulis dan Pegiat Literasi. Tinggal di Jogja.

 

Saksikan video menarik berikut ini:

 

https://www.youtube.com/watch?v=7bi_-IS6R4I
EDITOR: Ilham Safutra