Logo JawaPos
Author avatar - Image
Minggu, 20 Oktober 2024 | 16.00 WIB

Kiai Sili (Sebuah Otobiografi)

ILUSTRASI. (BUDIONO/JAWA POS) - Image

ILUSTRASI. (BUDIONO/JAWA POS)

Aku terlahir cukup sehat dari ibu yang sehat, namun aku tak punya nama, aku tak suka itu! Tak punya nama memang lazim untuk kami, yang hidup berkelompok dengan bapak yang meletakkan air mani di banyak puki.

SAAT kutanyai ibu, ia menjawab, ”jangan berlebihan,” lain kali, ”jangan aneh-aneh.” Tetap saja aku ingin punya sebuah nama, seperti Salihin yang ditimang-timang orang tuanya di teras depan rumah, sesekali aku melihatnya saat mengekori ibu. Aku juga ingin seperti Sarjono yang setiap pagi bersepeda ke sekolah, lain kali aku ingin seperti Muhamad yang dipuja sekalian umat.

Aku tumbuh besar sambil mendambakan sebuah nama, iri dengki kepada mereka yang memilikinya.

Saat dewasa, aku sudah melupakan semua itu. Aku terlalu lelah bekerja di sawah dan di ladang. Dan pekerjaan sialan itu tidak banyak memberi manfaat untukku. Hingga suatu sore, ketika burung-burung gagak kawin, aku jatuh sakit, badanku rasanya membara, aku tak sanggup pulang, tengkurap di pinggir jalan, kupikir aku akan mati saat itu, gelap!

Tiga bulan setelahnya, aku terbangun di sebuah rumah berdinding papan beratap rumbia, di bantaran sungai. Ibuku bukan ibuku, bapakku bukan bapakku, badanku bukan badanku, aku tak sekuat dulu, tapi aku tak peduli, karena aku punya sebuah nama. Mereka memanggilku Mulyono.

Dari tak bisa apa-apa, aku belajar banyak hal: menangis, tersenyum, duduk, merangkak, bangun, berlari untuk bertahan hidup.

Aku menyadari masih menyimpan kemarahan lama, pada mereka yang memaksaku bekerja seharian di sawah, lain hari bekerja di ladang. Mereka berhak melakukan itu hanya karena memiliki nama. Akan kubalas mereka, percayalah!

Membalas dendam ternyata tidak semudah dugaanku. Dunia yang memiliki nama lebih rumit dari duniaku dulu. Mereka membuat aturan untuk melanggarnya, mereka memuji padahal membenci, mereka menjilat dan bermanis muka. Jika ingin berhasil dengan mudah, mereka tidak boleh menganggapmu berbahaya, atau sebuah ancaman, dan mulailah berpura-pura. Itulah kiat untuk menguasai dunia yang memiliki nama.

Menurut etika dunia yang memiliki nama, tidak boleh meletakkan air mani di banyak puki, setidaknya secara terang-terangan karena itu dianggap tidak bermoral. Pada musim hujan tahun 1986, aku menikahi seorang perempuan, Arwa.

Di dunia orang-orang yang mempunyai nama, mereka sangat memuja sesuatu yang disebut moral. Di depan orang-orang yang mengenalmu jadilah orang yang menjunjung itu, berpakaianlah dengan pakaian yang mereka pakai, makanlah makanan yang mereka makan, kemudian dirimu dianggap menjadi bagian dari mereka. Ketika dirimu menjadi bagian mereka, mereka akan membantumu mewujudkan keinginanmu. Benar tidaknya itu, aku butuh lingkup kecil untuk melakukan percobaan.

Beruntung, perusahaan menugaskanku di tempat terpencil di ujung Sumatera di kaki gunung Burni Telong. Orang-orang yang tinggal di sana miskin, kotor, dan terbelakang. Sebenarnya Arwa yang terpelajar sedikit keberatan untuk mengikutiku, namun kami butuh lahan praktik. Orang-orang yang tinggal di kaki gunung itu sungguh lugu. Penampilan sederhana kami, senyum ramah yang selalu mengembang di bibir kami, dengan lekas membuat orang-orang itu mengakui kami sebagai bagian dari mereka. Kami diupacaraadatkan resmi menjadi sanak mereka.

Mereka kerap mengantar hasil kebun ke rumah. Tomat, bawang, sayur, dan kentang kami tak perlu beli. Bubuk kopi juga mereka antar, bahkan aku bisa mengirim sebagai hadiah untuk sanak keluarga di pulau seberang.

Tanah di kaki gunung berapi itu sangatlah subur. Pohon-pohon pinus tumbuh menjulang di sepanjang lereng. Pohon-pohonnya ditebang untuk dijadikan bahan baku kertas. Uangnya dikantongi perusahaan, orang-orang di sana tetap hidup melarat dan bodoh. Itu lebih baik daripada mereka banyak bertanya.

Setelah beberapa bulan di tempat terpencil itu, di mana orang-orang membuang kotoran dengan menggali lubang di dekat rumah mereka, menimbun kembali dengan tanah, persis kucing, istriku tidak tahan lagi dan memilih untuk pulang ke kampung halaman. Aku langsung mengantarnya kembali ke pulau seberang, dan kemudian istriku hamil. Aku harus kembali ke tempat tugas. Demi calon anakku, percobaanku di tanah terpencil itu tak boleh gagal.

Aku mulai sering bermimpi, seorang perempuan paro baya meletakkan mahkota dua kubah berujung datar di atas kepalaku. Semua sempurna kecuali warna tembaganya mengingatkanku pada kehidupanku di dunia yang tak memiliki nama.

Editor: Ilham Safutra
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore