---
BAGI orang Madura, terutama yang hidup di perantauan, wabil khusus yang merantau di Jawa, pasti tidak asing dengan istilah ”toron”, yang jika diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia berarti turun. Istilah ini biasanya digunakan bagi para perantau Madura yang hendak pulang kampung pada momen-momen penting, di antaranya menjelang Idul Adha atau Idul Fitri.
Tradisi toron bermakna bahwa, meskipun hidup lama di perantauan, orang Madura memiliki hubungan batin dengan tanah kelahiran mereka. Karena itu, mereka tetap menyempatkan pulang pada momen-momen penting tersebut.
Pendapat lain mengatakan bahwa tradisi toron memiliki makna betapa Jawa lebih superior daripada Madura. Hal ini dapat dilihat dari makna istilah toron itu sendiri yang berarti turun, bahwa Madura berada di bawah, sementara posisi Jawa ada di atas.
Jika kita kembali ke masa silam, secara historis, Madura pernah terlibat konflik dengan Jawa pada abad ke-17 Masehi. Saat itu, di bawah komando Pangeran Trunojoyo, Madura berperang melawan Mataram. Trunojoyo menganggap bahwa penguasaan Mataram atas Madura adalah suatu bentuk penjajahan sehingga ia melakukan perlawanan.
Di sisi lain, hal ini juga menggambarkan tentang jarak Jawa dan Madura yang begitu jauh. Bukan secara geografis, melainkan secara sosial dan budaya. Meskipun masuk dalam wilayah Provinsi Jawa Timur, Madura memiliki bahasa dan budaya sendiri. Lantas, bagaimana rezim kolonial memosisikan Jawa dan Madura?
Dalam buku ini, Jawa dan Madura diposisikan sebagai satu wilayah kekuasaan oleh rezim kolonial kendati mereka tetap mengakui ada sejumlah perbedaan, termasuk dari segi bahasa. Sementara wilayah-wilayah di luar Jawa dan Madura dipandang sebagai outer possessions (wilayah taklukan luar).
Secara garis besar, buku ini lebih banyak menyuguhkan data-data seputar Jawa dan Madura di berbagai lini kehidupan, termasuk dari segi sejarah ekonomi-politik serta sistem pemerintahan yang diterapkan rezim kolonial. Selain itu, buku ini membahas tentang suku-suku yang mendiami Jawa dan Madura serta bahasa yang digunakan.
Buku berjudul Sejarah Jawa dan Madura Abad XV–XX M: Data Rahasia Intelijen Angkatan Laut dan Departemen Luar Negeri Inggris tersebut tidak membahas tentang sejarah hubungan Jawa dan Madura yang jelimet, yang kadang ”akur” dan tidak jarang pula ”ribut”, seperti sepasang kekasih yang bertengkar karena jarak, tapi diam-diam saling mendoakan.
Secara umum, buku ini membahas tentang sejarah Jawa dan Madura dari abad ke-15 hingga abad ke-20 atau dari prakolonial, masa penjajahan, hingga menjelang revolusi. Lantas, apa yang membedakan buku ini dengan buku-buku sejarah Jawa dan Madura yang lain?
Sependek pengetahuan saya, selama ini belum ada yang membahas keduanya (sejarah Jawa dan sejarah Madura) dalam satu buku sekaligus. Buku-buku sejarah Jawa semacam History of Java karya Sir Thomas Raffles, misalnya, hanya fokus membahas tentang Jawa. Begitu pula buku-buku historiografi Madura seperti karya Kuntowijoyo yang berjudul Perubahan Sosial dalam Masyarakat Agraris Madura (1850–1940) atau buku Manusia Madura karya Mien Ahmad Rifa’i yang hanya fokus membahas tentang Madura dari segala lini kehidupan.
Selain itu, buku yang diterbitkan Zona Pustaka ini memaparkan data-data yang diperoleh tim penyusun. Dalam kata pengantar buku ini disebutkan bahwa tim penyusun mendapatkan data-data dari lembaga-lembaga penting yang masuk dalam struktur politik dan pemerintahan Inggris sebagai rezim kolonial.
Pada bagian pengantar buku juga dijelaskan bahwa ada sejumlah aktor dan agen (lembaga) yang turut berperan dalam penyusunannya, terutama dalam suplai data berkenaan dengan sejarah dan kondisi geografis dan sosial Jawa dan Madura. Departemen Luar Negeri (Foreign Office) Inggris adalah aktor utama di balik penyusunan buku ini (halaman XI).
Lalu, dalam prosesnya, departemen-departemen lain pun dilibatkan sebagai penyuplai data yang dibutuhkan. Institusi-institusi penyuplai data yang dimaksud itu, antara lain, Divisi Intelijen (Intelligence Division) Departemen Angkatan Laut (Naval Staff) yang memasok data dan informasi seputar geografi Jawa dan Madura, lalu Departemen Intelijen Perdagangan Perang (The War Trade Intelligence Department) yang dibentuk Departemen Luar Negeri telah memasok data dan informasi tentang ekonomi di Jawa dan Madura. Kemudian Bagian Geografis Staf Umum (Divisi Intelijen Militer) dari Departemen Urusan Perang menyuplai sebagian besar data untuk buku ini (halaman XI-XII).
Adapun isi buku ini meliputi sejarah, kondisi geografis, kondisi sosial, politik di Jawa dan Madura, serta wilayah-wilayah Hindia-Belanda lainnya yang masuk ke dalam outer possessions. Termasuk juga berisi tentang kontestasi, kompetisi, sekaligus kolaborasi Inggris dan Belanda dalam memperebutkan sumber daya-sumber daya, dan pengaruh di Jawa dan Madura dan sekitarnya.
Karena itu, seperti yang disebutkan dalam kata pengantar, buku ini sangat bermanfaat dan penting bagi para pencinta sejarah, dosen, dan mahasiswa studi sejarah, politik, ekonomi, serta hubungan luar negeri. Sebab, di dalamnya banyak data terkait yang digali dan diakumulasi rezim kolonial. Melalui buku ini pula, kita bisa membaca sejarah Jawa dan Madura dari dokumen rezim kolonial yang sebelumnya, mungkin, menjadi data-data rahasia bagi mereka. (*)
- JUDUL: Sejarah Jawa dan Madura Abad XV–XX M: Data Rahasia Intelijen Angkatan Laut dan Departemen Luar Negeri Inggris
- PENULIS: Great Britain, Foreign Office, Historical Section
- PENERBIT: Zona Pustaka, Jogjakarta
- CETAKAN: Pertama, April 2022
- TEBAL: xxi + 146 halaman
- ISBN: 978-623-6226-64-3
*) FAJRI ANDIKA, Pengelola www.arsipprosamadura.com