← Beranda

Yang Kelak Retak dan Penyair Membikinnya Abadi

Ilham SafutraMinggu, 3 April 2022 | 10.55 WIB
COVER BUKU
Solihin Utjok, sebagaimana umumnya penyair, ”membangun yang semula dianggap musykil dan tidak mungkin menjadi mungkin.” Imaji yang menghidupkan dan menjadikan hidup sesuatu yang mati dan/atau yang tidak tercatat.

---

PERISTIWA-PERISTIWA akan selalu datang dan pergi. Baik yang menarik, berkesan, maupun yang layak untuk dilupakan. Bagi penyair, ragam peristiwa itu seakan minta ditangkap untuk dijadikan ingatan, lalu kenangan yang kekal.

Penyair akan menangkap suatu peristiwa sebagai momen puitik (imaji), yang mungkin oleh orang lain, barangkali, dianggap tidak mengesankan untuk diceritakan kembali atau dikenang sebagai ”keabadian” dalam bentuk lain. Coba perhatikan bagaimana Goenawan Mohamad (GM) saat ia mendapatkan momen puitik atau sebuah ilusi (?) dari sebuah alat minum teh bagi masyarakat Tegal, yaitu poci. Barangkali bagi masyarakat yang bukan penyair, yang diberi ”kelebihan” sense of poetic atau kelebihan menangkap momen-momen puitik, tentulah tidak membekas.

Ilusi poci langsung menggoda sekaligus membangun rangsangan puitik GM untuk menjadikan ”abadi”. Saya terkesan dengan puisi GM ini, terutama baris yang saya kutip ini: ”apa yang berharga pada tanah liat ini/selain separuh ilusi?/sesuatu yang kelak retak dan kita membikinnya abadi” (”Kwatrin tentang Sebuah Poci”, GM).

Pada sebagian puisi Solihin Utjok, penyair Lampung yang bermukim di Kota Metro, dalam buku puisi tunggal terbarunya, Sebait Syair untuk Tuhan, juga tergugah oleh momen-momen atau peristiwa-peristiwa puitik yang menyergap atau yang tiba-tiba dirasa. Momen puitik yang ”datang/dirasa” penyair ini, momen sunyi. Istilah Ari Pahala sebagai imaji sunyi (periksa ”Imaji Sunyi Syair Solihin”, halaman xi–xvi).

Solihin memilih sunyi, sebuah perenungan. Seperti daun yang bercerita, beginilah cara penyair berdialog: ”sehelai daun bercerita padaku/aku hanya menemani waktu.” (”Sajak Pepohonan”, halaman 42).

Seperti daun yang bercerita padanya, demikian Solihin ingin bercerita kepada pembacanya, yakni ”hanya (ingin) menemani waktu”. Waktu apa? Bisa keabadian, dapat pula waktu yang fana.

Puisi adalah sejarah atau suara lain dari peristiwa. Begitu kira-kira yang dapat saya tangkap dari ucapan Octavio Paz. Artinya, puisi yang lahir dari sebuah peristiwa dan dialog penyair (yang batin, yang imaji) dengan suatu kejadian yang dilihat maupun dirasa/didengar, kemudian diremuk-hancurkan dalam imajinya dan dituangkan dalam puisi sebagai sejarah yang lain. Sejarah yang didekati secara dialektika atau pengalaman-pengalaman pembaca yang menyertai.

Penyair ”membangun yang semula dianggap musykil dan tidak mungkin menjadi mungkin.” Imaji yang menghidupkan dan menjadikan hidup sesuatu yang mati dan/atau yang tidak tercatat.

Puisi-puisi imaji yang bernada sunyi dalam kumpulan puisi Solihin Utjok ini, saya kira, mendominasi. Karena itu, saya sepakat dengan pernyataan Ari Pahala Hutabarat dalam pengantar pembuka.

Solihin tampak berupaya hendak melupakan kenangan –masa silam/waktu lampau– tapi kenangan itu selalu muncul dan minta diperhatikan/dipedulikan. Seperti ”poci” dalam puisi GM, yang menginginkan meminta ”kita membikinnya abadi” –setidaknya dalam puisi. Penyair sebagai ”penyuara sejarah yang lain” telah berperan menulis sejarah baru.

Pada puisi ”Di Tikungan Jalan Paling Hening”, yang saya meyakini hal yang amat biasa, terutama bagi orang yang dekat dengan gereja. Lonceng gereja akan berdentang empat kali dalam satu jam, ditambah 28 kali pada tengah malam. Tetapi, di Australia justru lonceng gereja berbunyi 222 kali yang berdampak diprotes warga (Tempo, 12 Februari 2015).

Suasana dentang lonceng gereja itu direkam oleh Solihin dan dibikin anyar menjadi abadi:

lonceng gereja berdenting

malam terbaring

di tikungan jalan paling hening

Metro, 2016

Apa yang dapat kita peroleh dari puisi yang hanya tiga baris berbentuk tak rata itu? Kecuali keheningan yang mistis, dan bahwa ”hidup akan terus berdetak/berdenting” sampai batas waktu yang sudah ditetapkan. Ajaran bisa diperoleh dari mana pun, bahkan dari dentang lonceng gereja, atau beduk dan azan berkumandang.

Solihin telah mencoba merawat yang akan ”retak” menjadi setidaknya bisa dikenang sebagai kenangan. Pada puisi lainnya, Solihin pun ingin ”keluar” dari kesunyian menuju ”ruang hibuk” membicarakan jalan dan keriuhan. Ini bisa dibaca dalam puisi yang dipasang pada halaman pertama: ”Namanya Ali Topan”.

Yang menarik lainnya dari puisi-puisi dalam Sebait Syair untuk Tuhan ini, cara penyair menghidupkan kembali kata (diksi) yang sudah jarang dipakai dan kita dengar. Di sini banyak kita temukan: terpegun, layung, ruyup, lecap, kelintaran, temuras, menyering, belecak, kolokasi, dan masih ada lagi.

Kata-kata yang masih aneh terdengar atau terbaca, ada dua kemungkinan yang bisa dilakukan, menjelaskan semacam catatan atau di halaman glosarium. Tetapi, ada pula yang dibiarkan untuk memberi keluasan (kerjaan?) pembaca untuk mencari sendiri.

Terakhir, saya melihat adanya kurang konsisten Solihin Utjok dalam hal penulisan tanda semisal (-) untuk kata sambung. Kadang ia gunakan, di lainnya tidak. Satu contoh saja: ”di gedung - gedung walet” / ”diselubungi debu debu”. Saya tulis sesuai dari buku. (*)





  • Judul: Sebait Syair untuk Tuhan (Kumpulan Puisi)

  • Penulis: Solihin Utjok

  • Penerbit: Lampung Literatur, 2021

  • Epilog: Ari Pahala Hutabarat






*) ISBEDY STIAWAN ZS, Sastrawan kelahiran Tanjungkarang, Lampung. Pengampu di Lamban Sastra Isbedy Stiawan ZS.

 

 
EDITOR: Ilham Safutra