← Beranda

Dedikasi Terakhir Ricklefs untuk Jawa

Ilham SafutraMinggu, 19 Desember 2021 | 16.30 WIB
COVER BUKU
Ricklefs, dengan otoritas kepakarannya, tidak hanya berhasil menjadikan sumber lokal sebagai referensi. Tetapi juga membuka cakrawala baru dalam memperlakukan sumber-sumber lokal yang sangat kaya itu tanpa jatuh pada glorifikasi yang tidak perlu.

Oleh NAUFIL ISTIKHARI, Kepala editor di Penerbit Cantrik Pustaka, Jogjakarta

---

MINAT M.C. Ricklefs terhadap sosok Pangeran Mangkunagara I sudah bertunas sejak lama. Itu terjadi sejak sekitar 1960-an ketika ia meneliti biografi politik Pangeran Mangkubumi untuk disertasinya di Cornell University.

Interes itu sangat masuk akal mengingat dua tokoh tersebut merupakan pemain utama dalam suksesi-suksesi kerajaan Jawa sampai setelah Mataram terbelah menjadi dua. Dengan memakai sumber-sumber babad dan serat, Ricklefs berada di posisi yang sama dengan H.J. de Graaf, dan dengan demikian, juga menempuh rute berbeda dari C.C. Berg yang menilai sumber-sumber lokal Jawa tidak layak dijadikan rujukan dalam penulisan sejarah.

Ricklefs, dengan otoritas kepakarannya, tidak hanya berhasil menjadikan sumber lokal sebagai referensi. Tetapi juga membuka cakrawala baru dalam memperlakukan sumber-sumber lokal yang sangat kaya itu tanpa jatuh pada glorifikasi yang tidak perlu.

Terdapat banyak sumber lokal yang dijadikan pegangan oleh Ricklefs, tetapi yang paling pokok ada tiga, yaitu Serat Babat Pakunegaran, Babad Giyanti, dan Babad Mangkubumi. Ricklefs piawai melakukan komparasi dengan catatan-catatan pemerintah kolonial, yang jika ada peristiwa bertentangan, dia akan melakukan analisis sendiri secara kritis sehingga hasilnya dapat dicerna dengan logis.

Buku ini berisi sebelas bab yang dibagi menjadi dua bagian. Bagian pertama menghimpun bab 1–6 yang mengisahkan masa kecil Pangeran Mangkunagara I hingga petualangan fenomenalnya dalam politik kerajaan Jawa. Sedangkan bagian kedua, dari bab 7–11, memotret masa-masa tua yang tak lagi menjadi pemain kunci sampai meninggalnya pada 28 Desember 1795.

Pangeran yang bernama asli Raden Mas Said ini digambarkan sebagai sosok yang lihai berselancar di tengah gelombang suksesi kerajaan Jawa-Surakarta. Ia memberontak melawan raja, berperang melawan VOC, membangun aliansi dengan Tionghoa dan Madura, terlibat konflik sengit dengan paman sekaligus mertuanya sendiri, Pangeran Mangkubumi, setelah sekian lama berjuang bersama, berdamai dengan raja hingga ia akhirnya meninggal kesepian di istananya.

Pangeran Mangkunagara I merupakan sosok yang tangkas, berperawakan kecil, flamboyan, saleh, dengan sorot mata yang tajam, tetapi suka perempuan cantik dan gin (minuman keras) Belanda. Di saat yang sama, ia juga pengagum dan penjunjung tinggi budaya Jawa.

Dalam figur pangeran yang berjuluk ”samber nyawa” ini, Ricklefs kembali menemukan contoh terbaik dari apa yang sejak awal ia teorikan: sintesis mistik –suatu perpaduan ganjil antara kesalehan Islam dan mistisisme Jawa.

Tak kalah menarik adalah refleksi Ricklefs di bab pemungkas buku ini. Ia menyorot posisi politik keturunan Pangeran Mangkunagara I yang gagal mengambil pelajaran dari eyang mereka dan tidak pandai memanfaatkan watak dinamis dari politik sehingga kalah terhadap keturunan Pangeran Mangkubumi di Keraton Jogjakarta.

Itulah kenapa, secara politik maupun budaya, Keraton Jogjakarta pasca kemerdekaan lebih terlegitimasi oleh negara ketimbang saudara sekaligus rivalnya di Surakarta. Tentu ini merupakan sikap pemuka kerajaan secara keseluruhan, tetapi Ricklefs hanya mengingatkan bahwa ketangkasan menangkap gerak zaman adalah kompas utama dalam politik, dan azimat ini tidak terwariskan kepada anak cucunya di Surakarta.

Ricklefs mengumpulkan bahan-bahan untuk penulisan biografi Pangeran Mangkunagara I tersebut selama setengah abad lamanya. Ia secara sporadis berusaha menyatukan sumber yang berserak terkait Pangeran Mangkunagara I di tengah kesibukan mengajar dan mengisi seminar, sambil berjanji lirih kepada dirinya sendiri bahwa kelak ia harus menulis tentang pangeran flamboyan dari Surakarta ini.

Barulah saat pensiun dari National University of Singapore pada 2011, kesempatan emas untuk menunaikan sepotong janji itu datang menghampiri. Buku ini ditulis dalam masa ketika Ricklefs divonis mengidap kanker prostat yang sudah bermetastasis.

Antara 2015–2018, Ricklefs berjuang menuntaskan janjinya dengan menahan rasa sakit kanker yang terus meremukkan tulang punggungnya setiap waktu. M.C. Riklefs meninggal pada 29 Desember 2019; pada bulan dan tanggal yang nyaris sama dengan kematian tokoh yang dikaguminya, Pangeran Mangkunagara I. Dan buku ini adalah dedikasi terakhir Rikclefs untuk Jawa! (*)

---

  • Judul: Samber Nyawa: Kisah Perjuangan Seorang Pahlawan Nasional Indonesia, Pangeran Mangkunagara I (1726–1795)

  • Penulis: M.C. Ricklefs

  • Penerjemah: Muhammad Yuanda Zara

  • Penerbit: Kompas, Jakarta

  • Cetakan: I, Agustus 2021

  • Tebal: xlvi + 578 halaman

  • ISBN: 978-623-241-997-1

EDITOR: Ilham Safutra