---
SEKUEL ketiga memoar Audrey Yu Jia Hui ini berbeda sentuhan dengan Mellow Yellow Drama (2014) dan Mencari Sila Kelima (2015). Materinya sama. A little heroic Surabaya girl. A Chinese prodigal girl.
Keluhannya juga sama: susah beradaptasi di lingkungan hipokrit dan munafik. Diskriminasi. Keterasingan. Psikosomatis di Indonesia. Studi dan bekerja di luar negeri. Buat jaga jarak dengan masalah.
Namun, langgam menulisnya makin berkembang lebih maju. Menulis merupakan peranti lunak yang menyelamatkan dia.
Menulis menjadikannya prodigal survivor. Beda dengan kaum supergenius lain di pelbagai penjuru dunia, seangkatan dia, yang wafat misterius, terlibat prostitusi, depresi berat, dan kecanduan narkoba.
Film Star Wars: Revenge of the Sith identik dengan sosok heroik Anakin Skywalker. Tokoh muda yang selalu didera kesalahpahaman dan kecurigaan masyarakat sekitar.
Hidup dalam bayang-bayang ketakutan akan kehilangan Padme, istrinya. Korban manipulasi kanselir jahat, Palpatine.
Analkin, dalam suatu pertempuran, mengalami kerusakan organ tubuh yang parah. Ia sampai dijuluki Darth Vader. Diperangkap dalam kostum mesin berwarna hitam. Mesin yang membantu Darth Vader bernapas, berbicara, dan bergerak.
Audrey Yu Jia Hui, penulis buku memoar Terobsesi Bungkus, Lupa akan Isi (2020), terinspirasi tragedi yang menimpa Anakin Skywalker. Dia merasa betapa mirip Darth Vader dengan takdir hidup yang mesti dijalaninya.
Takdir seorang genius berbakat luar biasa. Penyintas gifted yang dipaksa survive di tengah masyarakat yang munafik dan hipokrit.
Hipokrisi, sebagaimana dikisahkan berdasar pengalaman nyata Audrey, membudaya dalam keluarga, sekolah, komunitas agama, dan komunitas etnis. Kegeniusan justru membuat Audrey tertindas dan tersingkir.
Masyarakat Indonesia punya kecenderungan lebih mementingkan bungkus ketimbang isi. Suka dengan perkara artifisial ketimbang substantif.
Sangat menyukai gosip. Meributkan perkara remeh-temeh. Mencampuri urusan orang lain. Menganggap diri paling benar. Gemar menghakimi. Atmosfernya konfliktual.
Mudah tersinggung karena obsesi menjaga kesempurnaan bungkus. Segala cara akan digunakan untuk membentengi image, citra, dan reputasi.
Lupa bahwa kesempurnaan itu terletak dalam ketidaksempurnaannya. Mahasiswa berbayar mahal yang mengikuti kursus bahasa Inggris Audrey di Shanghai berbesar hati bila kekeliruan mereka diperbaiki.
Mahasiswa Indonesia yang berlepotan bahasa Inggris-nya mencak-mencak saat diberi masukan oleh Audrey. Padahal, Audrey memberikannya gratis.
Indonesia bakal terus menjadi surga bagi masyarakat yang pandai mengemas diri dengan bungkus terbaik tanpa peduli kualitas isi. Menuntut ilmu bukan demi ilmu pengetahuan itu sendiri, melainkan demi gelar, kedudukan, dan penghargaan artifisial.
Bukan karena kehausan akan ilmu, melainkan demi status sosial. Sedikit sekali orang yang mencintai ilmu pengetahuan demi ilmu itu sendiri. For its own sake. Karena itulah, plagiarisme, korupsi, dan perilaku tak seronok lainnya ditoleransi.
Masa kecilnya penuh onak dan duri. Masa remajanya terjal dan mendaki. Masa dewasanya harus berdamai dengan paradoks dan kontradiksi. Sedari kanak-kanak dipaksa, terpaksa, dan terbiasa menjalani hidup soliter. Lebih banyak menyimpan diri di kamar untuk belajar.
Cara berpikirnya sering disalahpahami. Dia gadis nasionalis yang amat mencintai Pancasila. Audrey, pada 2008, salah satu penerima penghargaan 72 Ikon Prestasi Indonesia.
Semua persoalan bersumber pada status supergenius keturunan Tionghoa. Dia pernah mengibaratkan dirinya sebagai pesawat supersonik. Tapi, saat trouble, yang tersedia hanya bengkel sepeda.
Karena itulah, dia banyak menghabiskan waktu untuk belajar secara otodidak. Audrey menderita psikosomatis saat berada di Indonesia.
Sejak usia belasan tahun, dia lebih suka belajar dan bekerja di luar negeri. Amerika, Singapura, Prancis, dan Tiongkok. Di luar negeri dia menemukan banyak manusia yang bisa mengerti, menghargai, menyukai, dan mendukung pemikirannya. Di Indonesia lebih banyak mendapat stigma sebagai orang kurang waras.
Menulis merupakan terapi terbaik bagi Audrey. Ketimbang mengemukakan pendapat secara lisan di hadapan khalayak umum.
Buku ini merupakan serial ketiga memoarnya. Sekuel lanjutan dari Memoar Mello Yellow Drama (2014) dan Mencari Sila Kelima (2015). Buku-bukunya telah diarsipkan berbagai perpustakaan internasional. The Library of Congress, Yale University, Cornell University, UC Berkeley, Ohio University, The National Library of Australia, Leiden University, University of Melbourne, dan semua perpustakaan umum Singapura.
Qiu Jin (1875–1907), seorang tokoh emansipasi, berasal dari Xiamen, Fujian. Bersama Xu Xilin, karibnya, pernah memandangi bintang-bintang di langit melalui teleskop. Jaraknya puluhan, jutaan, atau miliaran tahun cahaya. Saat cahayanya mencapai bumi, bintang-bintang itu sudah lama mati.
Xu Xilin bilang kepada Qiu Jin, ’’Bintang-bintang itu mirip perjuangan kita. Saat ini mungkin kita merasa sia-sia. Kelak setelah kita tiada, hasil perjuangan kita justru masih menerangi para tunas bangsa.’’
Impian dan cita-cita patriotik Audrey setali tiga uang dengan dua emansipatoris dari Xiamen. Saat ini yang dirasakannya kesedihan, kesakitan, dan kesengsaraan.
Kelak buah cita-cita nasionalismenya bakal dinikmati insan tanah air. Indonesia yang adil dan beradab. Masyarakatnya menyantuni substansi, bukan melulu mengagungkan kemasan. (*)
- JUDUL BUKU: Terobsesi Bungkus, Lupa akan Isi
- PENULIS: Audrey Yu Jia Huvi
- PENERBIT: Bentang Pustaka, Jogjakarta, Desember 2020
- TEBAL: xii + 183 halaman
*) J. SUMARDIANTA, Guru sosiologi SMA Kolese De Britto Jogjakarta