Logo JawaPos
Author avatar - Image
Rabu, 7 April 2021 | 20.41 WIB

Penurunan Kinerja FMCG jadi yang Terendah dalam Dua Dasawarsa Terakhir

Suasana salah satu penjualan pakaian ditengah pandemi covid 19 di salah satu mall di Surabaya. Rabu 27/05/2020. Foto Puguh Sujiatmiko/Jawa Pos - Image

Suasana salah satu penjualan pakaian ditengah pandemi covid 19 di salah satu mall di Surabaya. Rabu 27/05/2020. Foto Puguh Sujiatmiko/Jawa Pos

JawaPos.com - Melambatnya konsumsi masyarakat, khususnya rumah tangga, berdampak serius pada kinerja sektor ritel. Segmen fast-moving consumer goods (FMCG) terkontraksi 5,9 persen. Angka itu disebut menjadi koreksi paling dalam selama dua dasawarsa terakhir.

Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia (Aprindo) Roy Nicholas menyatakan, industri ritel nasional terpuruk tahun lalu. Dari skala 1 sampai 100, indeks kepercayaan konsumen tahun lalu berada di bawah 70.

"Omzet peritel secara umum pun turun drastis. Pada segmen pangan, terjadi penurunan sekitar 40 persen. Omzet untuk ritel nonpangan juga anjlok hingga 60 persen," terangnya kemarin (6/4).

Mengutip data Nielsen, Presiden Direktur PT Sumber Alfaria Trijaya Tbk Anggara Hans Prawira menyebutkan bahwa sektor FMCG terkontraksi 5,9 persen. Penyebab utamanya adalah penurunan daya beli masyarakat akibat pandemi Covid-19.

"Secara umum, memang pandemi ini sangat berdampak pada bisnis ritel," ungkapnya.

Anggara menuturkan, pada awal 2020, kinerja ritel sempat aman. Namun, kesulitan datang pada pertengahan 2020.

"Periode Ramadan itu biasanya menjadi masa panen retailer. Namun, 2020 sangat berat bagi kita. Sejak Juli sampai Desember, daya beli, termasuk industri ritel, relatif lemah," jelasnya.

Namun, para peritel masih menjaga optimisme. Vaksinasi, menurut Anggara, bisa memulihkan kinerja ritel. "Kita memandang vaksinasi sebagai kunci pemulihan ekonomi. Kita masih sangat optimistis 2021 bisa lebih baik daripada 2020," ujarnya.

Sebagai asosiasi, Aprindo tetap meminta pemerintah menggelontorkan insentif kepada peritel. Insentif tersebut dapat berupa kucuran stimulus dari program pemulihan ekonomi nasional (PEN) atau restrukturisasi kredit komersial.

"Secara kalkulasi, kami masih minus. Ada indikasi positif tahun ini. Namun, hasilnya masih underperformed," kata Roy.

Sementara itu, Direktur Eksekutif Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia Mohammad Faisal mengungkapkan, hingga kuartal I 2021, sektor ritel secara tahunan (YoY) memang masih terkontraksi. Namun, secara bulanan, sektor ritel semakin pulih.

"Kalau dilihat dari pertumbuhan bulan per bulan, kontraksinya makin tipis. Kalau ke kuartal II, ke Ramadan dan Lebaran, kondisinya pasti sudah lebih bagus," paparnya.

PERTUMBUHAN INDUSTRI RITEL NASIONAL

Tahun | Pertumbuhan

2017 | 3,7%

2018 | 9%

2019 | 8,5%

2020 | 1,5%

2021 | 4–4,5% *

*) Prediksi

Sumber: Aprindo

https://youtu.be/acjHz4d8qwU

Editor: Estu Suryowati
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore