
Suasana salah satu penjualan pakaian ditengah pandemi covid 19 di salah satu mall di Surabaya. Rabu 27/05/2020. Foto Puguh Sujiatmiko/Jawa Pos
JawaPos.com - Melambatnya konsumsi masyarakat, khususnya rumah tangga, berdampak serius pada kinerja sektor ritel. Segmen fast-moving consumer goods (FMCG) terkontraksi 5,9 persen. Angka itu disebut menjadi koreksi paling dalam selama dua dasawarsa terakhir.
Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia (Aprindo) Roy Nicholas menyatakan, industri ritel nasional terpuruk tahun lalu. Dari skala 1 sampai 100, indeks kepercayaan konsumen tahun lalu berada di bawah 70.
"Omzet peritel secara umum pun turun drastis. Pada segmen pangan, terjadi penurunan sekitar 40 persen. Omzet untuk ritel nonpangan juga anjlok hingga 60 persen," terangnya kemarin (6/4).
Mengutip data Nielsen, Presiden Direktur PT Sumber Alfaria Trijaya Tbk Anggara Hans Prawira menyebutkan bahwa sektor FMCG terkontraksi 5,9 persen. Penyebab utamanya adalah penurunan daya beli masyarakat akibat pandemi Covid-19.
"Secara umum, memang pandemi ini sangat berdampak pada bisnis ritel," ungkapnya.
Anggara menuturkan, pada awal 2020, kinerja ritel sempat aman. Namun, kesulitan datang pada pertengahan 2020.
"Periode Ramadan itu biasanya menjadi masa panen retailer. Namun, 2020 sangat berat bagi kita. Sejak Juli sampai Desember, daya beli, termasuk industri ritel, relatif lemah," jelasnya.
Namun, para peritel masih menjaga optimisme. Vaksinasi, menurut Anggara, bisa memulihkan kinerja ritel. "Kita memandang vaksinasi sebagai kunci pemulihan ekonomi. Kita masih sangat optimistis 2021 bisa lebih baik daripada 2020," ujarnya.
Sebagai asosiasi, Aprindo tetap meminta pemerintah menggelontorkan insentif kepada peritel. Insentif tersebut dapat berupa kucuran stimulus dari program pemulihan ekonomi nasional (PEN) atau restrukturisasi kredit komersial.
"Secara kalkulasi, kami masih minus. Ada indikasi positif tahun ini. Namun, hasilnya masih underperformed," kata Roy.
Sementara itu, Direktur Eksekutif Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia Mohammad Faisal mengungkapkan, hingga kuartal I 2021, sektor ritel secara tahunan (YoY) memang masih terkontraksi. Namun, secara bulanan, sektor ritel semakin pulih.
"Kalau dilihat dari pertumbuhan bulan per bulan, kontraksinya makin tipis. Kalau ke kuartal II, ke Ramadan dan Lebaran, kondisinya pasti sudah lebih bagus," paparnya.
PERTUMBUHAN INDUSTRI RITEL NASIONAL
Tahun | Pertumbuhan
2017 | 3,7%
2018 | 9%
2019 | 8,5%
2020 | 1,5%
2021 | 4–4,5% *
*) Prediksi
Sumber: Aprindo
https://youtu.be/acjHz4d8qwU

15 Kuliner Soto Ayam Paling Lezat di Surabaya dengan Kuah Kuning Pekat, Koya Memikat dan Topping Nikmat
10 Mie Ayam Paling Enak di Jogja yang Selalu Ramai Pembeli, Kuah Gurih dan Porsi Melimpah
10 Rekomendasi Mall Terlengkap di Surabaya, Surganya Liburan Anak Muda Buat Shopping
Diperiksa 2 Jam soal Penyalahgunaan AI, Freya JKT48 Serahkan Bukti Akun Baru ke Polisi
Santriwati di Pekalongan Diklaim Keluarga Hamil Tanpa Berhubungan, Masa Iya?
14 Rekomendasi Gado-Gado Paling Recomended di Surabaya, Cita Rasa Klasik Autentik dan Harga Ramah di Kantong
10 Tempat Makan Pempek Favorit di Bandung, Pilihan Menu Lengkap, Rasa Autentik, dan Perpaduan Cuko yang Kaya Rempah
Gelombang Dukungan untuk Nicko Widjaja Menguat Usai Tuntutan 11 Tahun
17 Kuliner Gado-Gado Paling Laris di Jakarta, Cocok untuk Makan Siang Bersama Teman dan Keluarga
20 Cafe Paling Instagramable di Surabaya, Tempat Ngopi yang Bukan Hanya Kuliner Enak tapi Juga Estetik
