Logo JawaPos
Author avatar - Image
Selasa, 10 Oktober 2017 | 03.06 WIB

Pebisnis Johnny Andrean Ungkap Nasib Sektor Ritel Indonesia

Johnny Andrean - Image

Johnny Andrean

JawaPos.com – Pebisnis handal Johnny Andrean memiliki tangan dingin dalam menyukseskan tiga brand bisnis ternama miliknya. Sebut saja salon Johnny Andrean, BreadTalk Indonesia, dan J.Co Donuts and Coffee. Johnny optimis, di tengah perubahan gaya hidup masyarakat serbadigital, tak berpengaruh besar terhadap usahanya. Pasalnya, grup bisnis produk yang dia gawangi, mewajibkan konsumen datang langsung ke gerai miliknya.


“Untungnya nih, untungnya grup kami, mewajibkan konsumen datang. Jika ingin roti yang masih fresh from the oven, lembut di mulut, harus datang ke BreadTalk. Delivery atau dipesan online berbeda rasanya. Begitu pula dengan salon, pelayanannya tentu berbeda jika pelayanan di rumah. Lalu di J.Co,” tegas Johnny dalam peluncuran roti komodo terpanjang di Gandaria City Mall, Senin (9/10).


Johnny mengungkapkan cerita usai kunjungannya dua hari dari Amerika Serikat. Dia sadar dan mengakui bahwa tren belanja masyarakat dunia kini berubah. Perkembangan belanja digital membuat masyarakat enggan datang ke gerai, mal, untuk berbelanja. Akibatnya, dia melihat pemandangan yang begitu berbeda saat mengunjungi mal di Amerika Serikat.


“Saat ini banyak orang bilang ekonomi turun, sales daya beli turun. Tapi ada yang bilang enggak juga, yang ada adalah beralih. Tapi saya rasa, benar juga ya. Belanja online itu luar biasa. Saya melihat betul di AS dan Australia mal di sana sepi pengunjung,” ungkapnya.


Johnny mengungkapkan banyak desainer ternama yang sebelumnya menjual karyanya di gerai-gerai mal kini memilih menarik produk mereka. Justru kini mereka memilih untuk menjual secara online. Johnny juga mencontohkan anaknya yang malas pergi ke mal, namun tetap berbelanja dari rumah.


“Departemen store terkenal di sana di San fransisco dulu penuh, kini tokonya banyak area dikosongkan. Desainer pull out produk mereka. Enggak ada lagi yang dipajang, separuh sudah kosong. Anak saya saja asyik main smartphone di kamar, tetapi tiap hari ada saja paket kiriman belanjaan. Ini luar biasa,” ujar Johnny.


Lalu bagaimana nasib di Indonesia? Johnny menyebut Indonesia juga dalam bahaya. Kini di desa atau kampung saja sudah menggunakan smartphone dan internet. Berbagai ecommerce seperti Tokopedia juga luar biasa berkembang.


“Itu dilirik semua. Alibaba masuk semua. Indonesia punya 250 juta penduduk yang siap belanja. Pengiriman pun sudah cepat. Kalau pebisnis tak kreatif siap-siap saja,” tukasnya.


Johnny memahami pebisnis kini lebih suka menjalankan usaha mereka secara online karena tak perlu mengeluarkan biaya produksi yang tinggi. Dengan bisnis online, pengusaha tak perlu mengeluarkan kocek besar untuk membayar karyawan dan tak perlu membayar uang sewa gerai.


“Bahkan Hari Belanja Online di China atau di Eropa bisa jutaan dolar omzetnya per hari. Karena itu yang masih prospektif saya rasa adalah food and beverage atau kuliner. Biar gimanapun, masyarakat masih lebih suka ke mal untuk makan. Karena makan di tempat jauh lebih fresh rasanya, ketimbang elektronik atau fesyen yang bisa dipesan online,” jelas Johnny.

Editor: Administrator
Tags
Artikel Terkait
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore