← Beranda

Durhaka! Anak Ini Kurung Ibunya di Gubuk Mirip Kandang Ayam

Estu SuryowatiRabu, 28 Maret 2018 | 12.15 WIB
ilustrasi kandang ayam. Foto adalah lokasi kandang ayam yang terbakar di Dusun Padangrejo, Desa/ Kecamatan Umbulsari, Jember.

JawaPos.com  – Ungkapan surga di telapak kaki ibu tampaknya tak berlaku bagi MM (60) warga Kelurahan Mansapa Kecamatan Nunukan Selatan.  Meski sudah menjadi ibu dan nenek, dia justru membiarkan ibu kandungnya SS (80) tidur di bangunan kayu yang menyerupai kandang ayam persis di samping rumah sang anak.


Ukurannya berkisar 3x4 meter. Meski tak dipasung, pintu tempat SS bernaung harus digembok, agar dia tak bisa berkeliaran dan membuat rumah berantakan.


Mendengar kabar tersebut, Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, Pengendalian Pendudukan dan Keluarga Berencana (DP3AP2KB) Nunukan langsung mendatangi lokasi itu pada Rabu (21/3) lalu beserta Camat Nunukan Selatan dan Lurah Mansapa.


Dinas terkait langsung memberikan pengarahan MM  agar membongkar tempat ibunya berdiam diri selama ini.  MM berjanji akan menempatkan sang ibu yang telah membesarkannya itu di tempat yang layak.


“Sudah kami kunjungi juga. Anaknya sudah dinasihati dan mengikuti saran yang kami berikan,” kata Kepala DP3AP2KB Nunukan Faridah Aryani, dikutip dari Radar Tarakan (Jawa Pos Grup), Rabu (28/3).


Saat menyambangi SS, kondisinya memang sangat memprihatinkan. Meski berada di belakang bangunan rumah sang anak, tetapi tempat itu sungguh tidak layak untuk manusia.


“Kami sangat prihatin dan meminta anak dari orang tua itu membongkarnya. Karena tidak layak untuk ditempati,” ujar Faridah.


Lebih lanjut Faridah menjelaskan, kasus ini memang sudah tersebar seantero Nunukan. Dalam kesempatan ini Faridah menjelaskan bahwa SS tidak dipasung.


 “Makanya, nama dan alamatnya kami tidak ingin menyampaikannya. Karena, ini terkait aib keluarga yang bersangkutan. Sebab, seorang anak tak mampu merawat ibunya dengan baik. Apalagi yang bersangkutan telah mengakui perbuatannya dan memperbaikinya,” ujar mantan Camat Nunukan Selatan ini.


Diakui, pihaknya sebenarnya syok atas temuan tersebut. Sebab, kejadiannya di Kecamatan Nunukan Selatan.


Informasi yang diterima, kejadian tersebut juga sudah lama. Sayangnya, tetangga korban tidak ada yang berani melaporkannya.


“Temuan ini karena adanya laporan warga juga. Sebelum ke lokasinya, kami meminta lurah dan camat periksa kebenaran informasinya. Setelah benar, akhirnya didatangi,” bebernya.


Setelah penemuan itu, pemantauan terhadap kondisi SS terus dilakukan. Menurutnya, kejadian ini tak akan terjadi jika warga di sekitar tempat tinggal korban berani melaporkannya ke aparat.


Pasalnya, tindakan yang dilakukan warga Kelurahan Mansapa ini sudah sangat kejam. “Bukan hanya soal kasus orang tua jompo ini saja. Tapi, terhadap kasus kekerasan anak dan perempuan. Harusnya masyarakat sekitar peka dan peduli dengan lingkungannya,” ungkapnya.


Kepala Bidang Pemberdayaan Perempuan DP3AP2KB Nunukan Ari Sugiastuti menambahkan, di zaman sekarang ini masyarakat itu lebih banyak memikirkan soal ekonomi dibanding sosial. Bahkan, hal-hal sepele di dalam keluarga terkadang tak digubris lagi.


“Dari informasinya, kejadian ini sudah lama. Warga sekitar yang ingin melaporkan merasa takut karena menurut mereka ini persoalan keluarga. Padahal, hal itu tidak benar. Seharusnya disampaikan karena orang tua harus dilindungi. Termasuk jika tidak memiliki keluarga atau yang terlantar,” tambahnya.


Dengan adanya persoalan ini, masyarakat khususnya aparatur pemerintah agar lebih fokus lagi dalam memantau situasi di lingkungan. Bagi masyarakat, sangat diimbau untuk memperhatikan situasi dan kondisinya. Karena, masyarakat inilah yang sangat memahami tempat tinggalnya.


“Hal ini menjadi pelajaran untuk semuanya. Masyarakat itu harus peka dengan lingkungannya. Apapun tindakan kekerasan terhadap anak dan perempuan wajib dilaporkan agar mendapatkan penanganan yang tepat,” pungkasnya.


Usai dipindahkan lima hari berselang, ternyata SS tidak juga ditempatkan di rumah. Meski gubuknya sudah dibongkar.


Dia kini tinggal di kios bahan bakar minyak (BBM), kios itu sengaja tak ditinggali sang anak, karena hanya tempat berdagang saja. Ketika malam SS tetap tinggal sendiri di kios.


Berdasarkan informasi yang diterima media, SS terus menangis sejak dipindahkan ke kios milik sang anak Senin (26/3). Warga sekitar juga tak menampik jika anak SS kerap kali berlaku kasar kepada sang ibu.


“Sudah didatangi dari pihak kecamatan dan lurah. Awalnya, di samping rumahnya. Dibongkar tempatnya dipindahkan lagi. Orang tua itu harus dijaga. Bukan dibiarkan begitu. Kasihan, apa lagi ibu kandungnya sendiri,” ujar salah seorang warga yang enggan dikorankan namanya.


Ia menceritakan, aksi itu sebenarnya telah lama terjadi. Sebab, saban hari jeritan kesakitan dan tangisan nenek SS terdengar. Apalagi saat malam hari. Setiap warga yang lewat selalu mendengarnya.


Namun, tak satupun yang berani menegur. Apalagi melepaskannya. Sebab, sang anak justru marah saat ditegur.


“Katanya ini urusan keluarga. Makanya, kami diam. Kasihan juga sebenarnya,” ungkapnya.


Radar Tarakan mencoba menyambangi kios sang anak MM, saat ditanya mengenai kondisi ibunya, wanita tersebut mengakui ibunya sudah tua dan memiliki penyakit umum yang juga dirasakan orang tua lainnya.


“Beginilah penyakit orang tua. Uzurlah. Selalu mau keluar. Makanya tidak dibiarkan,” ujarnya singkat saat ditanyakan.


Terlihat, wanita tua itu seperti meminta tolong. Ia berusaha berdiri sekuat tenaga. Namun ditahan oleh MM agar tidak berdiri dari tempatnya. Bahkan, diminta kembali ke tempat tidur dan tidak menangis lagi.


“Memang begini pak kalau lihat orang. Selalu meminta dikeluarkan,” ujar MM dengan menggunakan bahasa Bugis.


Terpisah, Camat Nunukan Selatan, Baharuddin D Sutte membenarkan adanya peristiwa tersebut. Ia mengaku tak menyangk, ada seorang anak yang menempatkan ibu kandungnya di tempat yang tak layak. Kini, kondisinya itu terus dipantau. Lurah Mansapa diminta memantau juga.


“Akan terus dipantau kondisinya juga. Karena, sudah diminta dari pemberdayaan perempuan,” ujar saat ditemui media ini di kantor Bupati Nunukan kemarin.


Menurutnya, MM seharusnya tidak memberlakukan ibunya seperti itu. Apalagi termasuk orang mampu. Hal ini terlihat dari usaha yang dimiliki.


Memiliki rumah sewa dan kios jualan. Jika memang tidak mampu merawat ibunya, seharunya dibawa ke panti jompo. Jika tidak ingin membawanya, dirawatlah sewajarnya.


“Sudah disampaikan juga. Dan, tinggal bagaimana ibunya itu menyikapinya. Jika perlakuannya di luar kewajaran, maka ada tindakan yang dilakukan,” pungkasnya.

EDITOR: Estu Suryowati