JawaPos.com - Terduga teroris asal Desa Kerandon, Kecamatan Talun, Kabupaten Cirebon yang ditangkap oleh tim Densus 88 Polda Jabar, pada Sabtu (25/6) lalu, merupakan pemuda belia yang baru dua tahun lulus sekolah negeri di Kota Cirebon.
Bahkan, pria berinisial SAP, 20, tersebut diketahui sempat berkuliah di Universitas Muhammadiyah Cirebon (UMC), akan tetapi tidak selesai karena Drop Out (DO).
Kepala Desa Kerandon, Kecamatan Talun, Kabupaten Cirebon, Warnawan mengungkapkan, SAP merupakan anak semata wayang dari pasangan Sarika dan Mimil yang bekerja sebagai penjual Angkringan di Jalan Cipto Mangunkusumo, Kota Cirebon.
Warnawan mengaku, penggeledahan di rumah orang tua SAP di Blok Serang RT 02 RW 03 Desa Kerandon itu membuat kaget masyarakat, karena kejadian desanya didatangi puluhan polisi dengan senjata lengkap pertama kali terjadi.
"Kejadiannya pas mau Maghrib sore kemarin. Saya pun sedang berada di luar rumah waktu itu. Pas saya dateng, ada keramaian tapi sudah selesai. Memang kabarnya SAP ditangkap polisi karena terlibat teroris," ujarnya kepada awak media di kediamannya, Minggu (24/6).
Sebelum penggeledahan di rumah orang tua SAP, Warnawan sempat ditelepon oleh pihak Kepolisian Resor Cirebon menyampaikan terkait penggeledahan tersebut. Dari hasil pencarian penggeledahan rumah yang ditinggali SAP, tim Densus 88 anti-teror Polda Jabar membawa sejumlah buku dan kitab.
Warnawan membenarkan jika SAP merupakan penduduk asli warganya. Secara pergaulan dan kesehariannya, SAP memang agak tertutup akhir-akhir ini, akan tetapi tidak terlihat tanda-tanda bila terlibat jaringan terorisme.
"Ya benar, SAP penduduk asli sini. Secara pergaulan dan pertemanannya baik, tidak menyangka kalau terlibat itu (teroris). Saya belum tahu persis kepribadiannya seperti apa. Tapi, waktu kecil sering main futsal bareng ke sini, sama anak-anak. Bahkan sering main sepeda bareng dengan teman sebayanya," ujarnya.