← Beranda

Petaka di Jembatan Cincin Lama Widang-Babat yang Tewaskan Satu Sopir

Ilham SafutraRabu, 18 April 2018 | 22.23 WIB
Jembatan Widang-Babat perbatasan Tuban Lamongan Jawa Timur, di atas aliran sungai Bengawan Solo, Selasa (17/4) sekitar pukul 11.00 ambrol.

JawaPos.com - Dibangun pada 1970-an, Jembatan Cincin Lama, Widang-Babat, Tuban, Jawa Timur, hanya bisa menahan beban 40 ton. Namun, kemarin (17/4) tiga truk besar berbobot 120 ton lewat bersamaan. Jembatan pun ambruk. Menewaskan seorang sopir truk.


---


TRAGEDI itu terjadi pukul 10.45 WIB. Jembatan yang menghubungkan Kecamatan Babat, Lamongan, dengan Kecamatan Widang, Tuban, tersebut tiba-tiba ambruk. Tiga truk besar plus satu sepeda motor yang melintas seketika ikut nyemplung ke Su­ngai Bengawan Solo Dua di antara tiga truk yang tercebur mengangkut limbah smelter. Sedangkan satu truk lainnya memuat pasir. Muhlisin, sopir truk bermuatan limbah smelter, tewas di lokasi kejadian. Dia tergencet bodi truk.


Saiful Arif dan Samsul Arif, sopir dua truk lainnya, selamat. Demikian pula Ubaidilah Masum dan Muhammad Rizal Afifudin, pengendara sepeda motor. Mereka selamat.


''Informasi yang kami terima, satu korban meninggal dunia, sedangkan yang lain selamat,'' kata Kapolres Lamongan AKBP Febby Dapot Parlindungan Hutagalung kepada Jawa Pos Radar Lamongan.


Jembatan Cincin memiliki dua sisi. Sisi timur merupakan bangunan baru, sedangkan jembatan sebelah barat adalah jembatan lama yang mulai dibangun pada 1970-an. Bangunan lama dinamakan Jembatan Cincin Lama, sedangkan yang baru disebut Jembatan Cincin Baru.


Jembatan dengan panjang 260 meter dan lebar 7 meter itu terbagi atas lima segmen (bentang). Segmen pertama hingga keempat masing-masing memiliki panjang 55 meter, sedangkan segmen kelima 40 meter. Yang ambruk kemarin adalah segmen ketiga yang berada di tengah sungai.


''Kami sedang melakukan penyelidikan untuk menentukan penyebab jembatan ambruk,'' kata Febby. ''Penyidikan nanti di­tangani Polsek Widang karena lebih dekat di sana,'' lanjutnya.


Ambruknya jembatan berawal saat truk tronton yang dikemudikan Saiful Arif berjalan di depan truk tronton yang di­kemudikan Muhlisin. Lalu, diikuti truk bermuatan pasir yang dikemudikan Samsul Arif. Di belakang truk, Ubaidilah Masum memboncengkan Muhammad Rizal Afifudin.


''Saya menyadari jika ada truk yang akan menyalip. Lalu, jembatan ambruk,'' tutur Saiful Arif saat dimintai keterangan di Mapolsek Widang, Tuban.


Suara ambruknya jembatan cukup keras. Terdengar hingga jarak 200 meter dari lokasi. Yusron, warga Babat, mengung­kapkan, dirinya dan warga yang lain langsung menuju ke lokasi kejadian untuk menyelamatkan korban. Namun, evakuasi Muhlisin cukup sulit karena posisinya tergencet di dalam truk.


''Cukup kaget melihat jembatan sudah dalam keadaan seperti ini. Setelah saya berenang ke dalam, ternyata juga ada motor,'' ujarnya.


Hingga berita ini ditulis, petugas masih sulit mengevakuasi ketiga truk. Crane dari JOB-PPEJ Soko, CV Berdikari Jenu, belum mampu mengangkat beban truk yang tercebur di Sungai Bengawan Solo. Namun, petugas terus berupaya mengevakuasi tiga kendaraan bertonase berat tersebut.


Dirjen Bina Marga Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) Arie Setiadi Moerwanto mengakui, Jembatan Cincin Lama Babat adalah jembatan lama. Jembatan tipe Callender Hamilton Bridge tersebut dibangun pada 1970-an.


Dalam catatan PUPR, jembatan Babat terdiri atas dua ruas kembar, Cincin Lama dan Cincin Baru. Dibangun mulai 1970-an dan selesai pada 1990-an. Material jembatan diimpor dari Inggris. Pada 2000 Kementerian PUPR membangun Jembatan Cincin Baru tepat di sampingnya.


Arie menjelaskan, Jembatan Cincin Lama memiliki kapasitas beban 40 ton. Saat insiden terjadi, ada dua truk pengangkut limbah smelter dan satu truk pasir bermuatan penuh yang melintas. Berat masing-masing diperkirakan 40 ton. ''Jadi, bebannya sekitar 120 ton. Tapi, masih akan dihitung besok,'' kata Arie kemarin.


Dia menyatakan, setiap tahun Kementerian PUPR melakukan kegiatan pemeliharaan jembatan. Seluruh jembatan, terutama yang berada di jalur-jalur utama, rutin diperiksa dan diperbaiki.


Umumnya, jembatan-jembatan di Pulau Jawa bisa menahan beban hingga 40 ton. ''Kondisi jembatan baik. Tapi, ya kalau kelebihan muatan, jadi tidak baik,'' kata Arie. 

EDITOR: Ilham Safutra