“Semenjak kedatangan guru baru sangat membantu kami, dalam memotivasikan belajar di sekolah kami. Semenjak ada guru kami giat belajar di dalam kelas, apa yang kami tidak tahu, menjadi tahu karena berkat guru baru,” tulis siswa kelas sembilan SMP Satu Atap 02 Pulau Sabira Murni Yati, melalui secarik kertas yang diterima oleh Jawa Pos.
Ucapan terima kasih ini diberikan kepada para guru baru yang datang beberapa bulan silam. Ya, Jakarta bukan hanya daratan, di luarnya masih ada Kepulauan Seribu dengan masyarakatnya. Mereka juga memiliki hak-hak atas kehidupan, termasuk pendidikan.
Dari luasnya hamparan Kepulauan Seribu, ternyata ada sekolah yang letaknya berjarak sekitar 120 KM dari daratan. Sekolah ini menjadi sekolah terluar dari DKI Jakarta. Lokasinya bahkan lebih dekat dengan Lampung yang berada di Pulau Sumatera. Meski demikian, mereka tetap menjadi bagian dari DKI Jakarta. Yaitu SD-SMP Negeri Satu Atap 02 Pulau Sabira.
Berada di pulau terpencil tentu akan memiliki perbedaan yang amat mencolok dengan daratan. Jumlah siswa misalnya. Di daratan, setiap sekolah jumlahnya bisa mencapai angka seribu orang. Namun di sana, siswanya bisa terhitung dengan jari.
Untuk siswa SD saat ini hanya 69 orang, terdiri dari 17 siswa dari kelas 1, delapan siswa kelas 2, 13 siswa kelas 3, 15 siswa kelas 4, tujuh siswa kelas 5, serta sembilan siswa kelas 6. Sementara SMP lebih sedikit lagi, hanya 25 orang. Terdiri dari kelas 7 ada delapan orang, kelas 8 ada lima orang, serta kelas 9 ada 12 orang.
Meski terbilang sedikit, mereka tetap berhak mendapatkan pelayanan yang baik. Karenanya, tetap harus ada guru yang memberikan transfer ilmu. Sejauh ini, ada 22 guru yang sudah mengabdi di sana.
Terdiri dari 14 guru SD, sisanya untuk guru SMP. Namun nyatanya terasa sulit jika hanya mengandalkan guru yang berasal dari dalam Pulau Sabira sendiri. Untuk mengatasi hal itu, perlu ada tambahan guru yang harus siap melayani.
Apalagi, khusus untuk SMP, sebelumnya ada sedikit guru yang mengajar. Melihat kekurangan, Dinas Pendidikan DKI Jakarta menambah tujuh orang guru baru pada awal tahun 2018.
“Lima orang guru baru berasal dari banyak daerah. Ada yang berasal dari Brebes, Kuningan, Sumatera Utara, termasuk Jambi. Namun, saya pribadi memang orang pulau, dari pulau Panggang,” kata guru IPS SMP Satu Atap 02 Pulau Sabira, Sakron Fauzi.
Status ‘anak pulau’ diakuinya membuatnya tidak terlalu kaget dengan kondisi di lapangan. Namun, sebelum mengambil keputusan untuk mengajar di sini, tetap saja ia perlu berpikir ulang. Mengingat, pulau tersebut merupakan yang terluar dari Kepulauan Seribu dan sebelumnya belum pernah berkunjung ke pulau ini.
“Kalau di internet info yang tersebar lebih menyeramkan. Namun, ternyata tidak seperti yang dikira. Di sini orang-orangnya pada ramah. Bukan hanya murid, namun masyarakatnya juga welcome dengan masyarakat luar,” sebut alumnus FKIP Uhamka itu.
Sebelumnya, Sakron sempat mengajar di SMAN 8 Bekasi, yang berlokasi di Pekayon Jaya, Bekasi. Empat bulan mengajar di sana, lalu menerima pinangan Dinas Pendidikan untuk mengabdi di pulau terluar, tentu kondisinya amat berbanding terbalik.
“Paling terasa itu soal informasi. Kami posisi terjauh kerap telat dalam mendapatkan informasi yang seharusnya didapatkan,” sebut Sakron.
Namun, untungnya kini mulai ada jaringan internet cepat, bahkan 4G yang berasal dari dua provider besar. Di tahun-tahun sebelumnya, jaringan menjadi hal mahal yang sulit didapat. Dampaknya, para siswa menjadi sulit untuk mengakses beragam informasi dari luar.
Bukan hanya jaringan, listrik pun mulai beroperasi dengan baik, siang-malam. Tahun lalu, listrik umumnya hanya menyala pada siang hari, itu pun hanya dalam rentang beberapa jam saja. Sulitnya akses informasi juga membawa hal positif. Salah satunya belum terkontaminasinya siswa dengan informasi-informasi viral, yang didominasi oleh hal tidak berfaedah.
“Pertama kali datang ke sini, saya kaget sama anak-anak. Tangan juga pegel, tiap ketemu pasti bolak-balik salim terus. Moralnya beda, mungkin belum terkontaminasi dunia luar. Karena sinyal susah. Youtube juga nggak bisa. Di sini bahasanya juga alus-alus,” papar guru kelahiran 23 Juni 1995 ini.
Bukan hanya itu, ada juga hal yang memotivasi Sakron untuk menerima pinangan Dinas Pendidikan. Yaitu hasrat untuk berkontribusi kepada kepulauan yang menjadi tempat asalnya, Kepulauan Seribu.
“Alasan terkuat karena kedekatan emosional. Saya anak Pulau Seribu, Pulau Sabira juga bagian dari Kepulauan Seribu, jauh, terpencil dan sebagainya. Saya senang memberi sesuatu ke pedalaman. Senang bawa perkembangan yang di Jakarta ke daerah terpencil. Biar dia nggak stagnan, bahwa dunia luar gini lho. Mereka hidup nggak cuma di Pulau sabira doang, nanti ada yang kerja ke Jakarta, atau melanjutkan SMA ke Jakarta,” sebut Sakron.
Hingga kini, di Pulau Sabira memang hanya ada sekolah di jenjang SD dan SMP. Siswa pun harus berbagai sekolah. Karena sejauh ini hanya ada gedung sekolah SD di sana. Dengan kata lain, SMP harus ikut menumpang.
Itu pun, mereka kerap tidak belajar di dalam kelas, melainkan harus belajar di Laboratorium, hingga UKS. Kondisi ini memang tidak ideal, karenanya mulai ada informasi akan dibangunnya gedung SMP tahun depan.
Tidak adanya sekolah di jenjang SMA membuat siswa yang sudah lulus harus keluar dari Pulau Sabira untuk melanjutkan sekolah. Dengan segala keterbatasannya, mau tidak mau, siswa SD maupun SMP Satu Atap 02 Pulau Sabira harus keluar kandang.
Tujuannya untuk mengenal kehidupan luar pulau yang berbeda. Karenanya, sejak tiga tahun lalu siswa di pulau ini mulai banyak mengikuti perlombaan, misalnya Festival Lomba Seni Siswa Nasional (FLS2N), Olimpiade Sains Nasional (OSN) dan perlombaan lainnya.
“Yang mengagetkan, kami bisa menang di beberapa perlombaan seperti tari, vokal, lalu OSN Matematika. Termasuk Badminton di jenjang SD dan SMP. Mewakili Kepulauan Seribu di tingkat provinsi,” sebut kepsek SD-SMP Negeri Satu Atap 02 Pulau Sabira Jamil Pahmi.
Tidak ketinggalan, hasil dari UNBK SMP tahun lalu pun terbilang baik. Meski memiliki akses paling jauh. Namun dari segi nilai, SMP Satu Atap 02 Pulau Sabira mampu mencatatkan namanya di peringkat ketiga besar. Padahal, saat itu siswa kelas 9 yang mengikuti ujian harus menyeberang ke SMAN 69 di Pulau Panggang. Karena tidak adanya ketersediaan komputer tahun lalu.
Melihat baiknya nilai yang diraih, Disdik DKI Jakarta pun menghibahkan 20 unit komputer ke Pulau Sabira. Sehingga, siswa kelas 9 tidak perlu jauh-jauh lagi pergi ke pulau lainnya lagi saat UNBK.
“Lewat itulah mungkin kami nggak dipandang sebelah mata. Dengan adanya prestasi, bantuan pun ikut datang. Karena kalau dulu kan diam-diam saja (nggak ikut lomba), Bantuan makin nggak ada. Jadi target kami tahun ini memperbaiki prestasi yang sudah diraih tahun lalu,” sebut Jamil.