JawaPos.com - Dampak garam yang langka juga dirasakan sejumlah pengusaha telur asin di Kabupaten Brebes. Mereka harus memutar otak dalam pengelohan makanan khas kabupaten yang identik dengan bawang merah tersebut. Pasalnya, harga garam yang menjadi bahan utama pembuatan telur asin mengalami kenaikan.
Pengrajin telur asin, Komarudin mengaku, kenaikan harga garam sudah dirasakan sejak satu minggu terakhir. Bahkan, untuk kualitas terbaik yang semula hanya Rp 8 ribu, kini menjadi Rp 12 ribu per kilogramnya.
Agar tetap bisa berproduksi, dia pun terpaksa harus memutar otak. "Kalau saya biasanya menggunakan garam halus yang harganya Rp8 ribu per kilogram, tapi sudah selama seminggu terakhir harganya naik menjadi Rp12 ribu per kilogram," ungkapnya.
Meski mengalami kenaikan harga garam, dia tetap mencampur takaran garam seperti biasanya yakni dengan perbandingan 3:2:1. Perbandingan tersebut terdiri dari tiga kilogram abu, dua kilogram garam, dan satu kilogram bubuk bata merah yang dimasukan dalam satu ember besar.
Satu ember itu biasanya mampu untuk membungkus seribu telur lebih. "Biasanya per seribu butir itu biaya produksinya mencapai Rp500 ribu, namun karena ada kenaikan harga garam biaya produksi bisa mencapai Rp600-700 ribu," lanjutnya.
Komarudin menambahkan, saat ini harga telur asin di tokonya dipatok dengan harga Rp4.000 per butirnya. Meski biaya produksinya naik, dia tidak akan menaikan harga telur asin di tokonya.
Pasalnya dia takut jika harga telur dinaikan akan mengurangi jumlah pembeli. "Malahan harga telur pernah turun mencapai Rp3.800 hingga Rp3.500. Namun saat ini kembali menjadi Rp4 ribu per butir," tuturnya.
Dia berharap pemerintah mau memerhatikan pelaku usaha telur asin di Brebes. Salah satunya menyediakan garam untuk para pengusaha telur asin.
Dengan demikian, biaya produksi akan kembali normal. "Ya harapannya pemerintah bisa menyediakan garam untuk para pengusaha telur asin, sehingga biaya produksinya tidak naik," pungkasnya.