JawaPos.com - Penyakit campak dipastikan bukan hanya satu-satunya penyebab kematian puluhan anak di Kampung Tigi Barat, Kabupaten Deiyai Provinsi Papua. Pihak Dinas Kesehatan Provinsi Papua memastikan sejumlah kematian anak tersebut disebabkan beberapa penyakit.
Kematian puluhan anak tersebut bukan karena wabah, karena tidak terjadi secara bersamaan tetapi merupakan akumulasi kematian anak sejak bulan Maret Lalu.
"Berdasarkan data terbaru hasil klarifikasi dari Dinas Kesehatan Provinsi Papua, dimana dari bulan Maret sebanyak 3 kasus kematian, April 6 kasus kematian, 4 kasus kematian, Juni 7 kasus kematian, Juli 7 kasus kematian sehingga total ada 27 kasus kematian,"ungkapnya.
Sekretaris Dinas Kesehatan Provinsi Papua, dr Silwanus Sumule,SpOG (K) ketika dikonfirmasi Cenderawasih Pos (Jawa Pos Group) via telepon selulernya mengungkapkan, dari 27 kasus tersebut, anak yang meninggal berumur di bawah 5 tahun dan penyebab kematian tidak hanya campak. Dimana untuk penyebab kematian diantaranya 6 orang anak meninggal karena penyakit diare, 9 anak meninggal karena penyakit pneumonia/ISPA, 2 anak meninggal karena penyakit Disentri.
Kemudian 2 orang anak meninggal karena penyakit Sarampa/Campak, 1 orang anak meninggal karena gizi buruk, 1 anak meninggal karena gigitan serangga, 2 anak meningal karena alergi dan 4 orang anak ditemukan meninggal oleh orang tua tanpa diketahui penyakit yang diderita.
"Selain mengunjungi makam, tim juga melakukan wawancara terhadap orang tua dari anak yang meninggal,"ujarnya.
Dengan demikian, kata Sumule, secara umum kematian anak di Deiyai merupakan akumulasi dari beberapa bulan terakhir sehingga tidak hanya karena campak. "Kami harapkan masyarakat bisa memahami apa yang telah diklarifikasi oleh Dinas Kesehatan Provinsi Papua,"ungkapnya.
Sebelumnya, Sumule menjelaskan pihaknya juga akan mengirim tim kedua ke Deiyai, dimana tim ini akan beranggotakan tenaga dari laboratorium untuk mengambil sampel dan melakukan pemeriksaaan laboratorium, apakah wabah tersebut dikarenakan oleh campak atau tidak.
Persoalan imunisasi, lanjut Sumule, pihaknya tidak bisa mempersalahkan masyarakat, karena petugas di lapangan diharapkan untuk menjemput bola atau mobile, ketimbang hanya menunggu di Puskesmas saja.
“Ini yang menjadi tangungjawab dari petugas, harus bisa jemput bola, jangan hanya di Puskesmas saja, dan dengan keberadaan Satgas Kaki Telanjang yang telah diturunkan, beberapa waktu lalu, ini merupakan contoh bahwa petugas harus bisa menjemput bola, jangan hanya diam saja,”pungkasnya.
Sementara itu, Bupati Deiyai Dance Takimai akhirnya angkat suara terkait kondisi kesehatan di daerahnya yang mengakibatkan sejumlah anak bayi dan balita meninggal. Ia tak menampik jika kejadian tersebut memang ada. Namun Dance membantah jika kejadian tersebut disebabkan karena wabah, apalagi disebut sebagai Kejadian Luar Biasa (KLB).
"Tak ada wabah, yang ada hanya penyakit biasa, itupun terhitung sejak Januari 2017 lalu dan kalau wabah, artinya diindentikan dengan KLB dan pastinya ada kuburan baru yang ditemukan," kata Dance melalui ponselnya, Jumat (14/7) kemarin.
Namun, kata Dance, kenyataannya di Deiyai tak ada kuburan baru sehingga ia berani menegaskan bahwa anak bayi atau balita yang meninggal tak bersamaan. "Tim sudah melakukan pemantauan di lapangan dan besok saya dengan DPRP akan mengecek langsung bagaimana kondisi terkini," kata Dance.
Mengenai pengetahuan dan kesadaran masyarakat tentang hidup sehat, Bupati tak membantah jika masyarakatnya masih banyak yang belum paham bagaimana hidup bersih dan menjaga kesehatan.
Ia bahkan membenarkan jika masyarakat di sejumlah distrik belum memiliki jamban yang representatif. Kebanyakan masyarakat hanya menggunakan kali atau anak sungai untuk membuang air. "Selain itu kesadaran untuk berobat juga tidak ada dan ini semakin lengkap ketika masyarakat hendak berobat ternyata tak ada petugas di Puskesmas," bebernya.
Dance juga terdengar berang karena adanya kejadian ini. Oleh karena itu, punishment dipastikan akan diberikan kepada Kepala Puskesmas setempat karena dianggap sering meninggalkan tempat tugas.
"Padahal pemerintah sudah cukup perhatikan mereka dengan dana, tapi ketika akan berobat ternyata tidak ada petugas, ini kepala Puskesmasnya akan kami ganti," tegasnya.
Namun ada hal lain yang perlu diperhatikan semua pihak terkait kebiasaan masyarakat jika sakit. Menurut Dance kebanyakan jika masyarakat sakit pemikiran mereka akan sembuh dengan sendirinya, sehingga tak perlu diobati. Nah ketika penyakit tersebut semakin parah barulah masyarakat sadar bahwa pencegahan itu penting dan tidak menunggu sampai parah.
"Deiyai memiliki 2 Puskesmas dan kami juga memiliki 2 dokter putra daerah, yakni dr Selvianus Ukago dan dr Yan Mote. Keduanya dibantu 3 dokter dari luar sehingga saat ini ada 5 dokter. Tapi beban kerjanya tentu tak sebanding karena harus melayani 1 kabupaten," imbuhnya.
Terkait penanganan kasus kematian bayi dan balita ini kata Bupati pihaknya telah mengambil langkah-langkah dan penanganan intensif sedang dilakukan untuk menekan angka kematian.
Sementara Kepala Distrik Tigi Barat, Fransiskus Bobii S.Ap melalui pesan singkatnya menyampaikan bahwa dari pendataan terakhir, anak-anak ini meninggal karena beberapa penyakit. Pertama adalah terkena ISPA, Diare, Milangia, Disentri, Cacingan, Pneumonia Brongkiale dan Sarampa. Namun untuk hari kedua penanganan tercatat ada 30 bayi dan balita yang diberikan vaksin. Tim medis juga turun ke lokasi makam anak-anak yang meninggal untuk melakukan pendataan.
"Ada orang tua korban bernama Ernes Pigome yang menyebut bahwa ada 2 anaknya yang meninggal pada waktu berdekatan yakni tanggal 30 Juni dan 2 Juli. Sudah diupayakan dibawa ke Puskesmas namun tak tertolong," cerita Bobii dari hasil wawancaranya.
Lalu dari data yang ada, tercatat 36 bayi dan balita yang meninggal dalam 3 bulan terakhir . "Menurut dokter Indah Erawati, anak-anak ini meninggal karena tujuh penyakit tadi dan semakin parah karena keterlambatan imunisasi bagi bayi dan balita dalam dua tahun terakhir," beber Bobii.
Sementara dari hasil pertemuan yang dilakukan pihaknya dengan para dokter yang menangani terungkap bahwa dalam 3 bulan terakhir tercatat ada 27 anak yang meninggal. Perinciannya adalah 2 orang karena campak, 7 anak terkena ISPA, 5 anak terkena diare, 2 anak terkena disentri, 1 anak dinyatakan kurang gizi dan lainnya ada yang alergi maupun gigitan serangga.
"Jadi ini bukan wabah melainkan ada 7 penyakit yang diderita anak-anak ini akibat daya tahan tubuh yang rendah sehingga tak tertolong," imbuhnya. (yan/ade/tri/sad/JPG)