Salah seorang warga Dusun Tangkil, Banaran, Pulung, Suwito, salah satu yang selamat dari bencana tanah longsor. Bahkan anggota keluarganya masih selamat. Padahal saat itu masih berada di dalam rumah. Rumahnya berada sekitar 1,5 kilometer dari titik nol longsor. Detik-detik terjadinya longsor dia sedang menjemur gabah di jalan depan rumahnya.
Bai Suwito, pagi itu cukup cerah. Matahari bersinar terang tanpa awan menghalangi. Cuaca seperti ini paling disukai petani untuk menjemur gabah. Namun, siapa sangka hari itu berubah pilu. Langit menjadi sedikit gelap lantaran debu yang mebubung tinggi dari material longsor bukit yang berjarak sekitar 1,5 kilometer dari rumahnya.
‘’Ada suara keras seperti benda jatuh. Begitu saya menoleh, ada tanah menuju ke arah saya,’’ kata Suwito. Dia langsung panik. Apalagi lima anggota keluarganya ada di dalam rumah. Kedua orangtuanya, anak kandung dan menantu, serta seorang cucu. Suwito langsung berteriak. Dia minta mereka lari. Namun, Suwito tak melihat anggota keluarganya keluar rumah. Material tanah sudah dekat. Tidak lebih dari dua menit. Material sudah di depan mata. Dia langsung lari ke utara mengikuti jalan. ‘’Gunung Gede meletus. Lari Is,’’ teriak Suwito pada menantunya.
Rumahnya langsung diterjang material longsoran. Bahkan, dia yang baru beberapa meter lari sudah mendapati jalan dan rumahnya penuh tanah saat menoleh. Suwito tak berani melihat. Dia hanya berpikir tentang keluarganya. Apalagi ada balita, cucunya. Hatinya sedikit lega setelah melihat anggota keluarganya selamat. Mereka keluar rumah melalui pintu belakang. Namun, rumah dan isinya rusak. ‘’Saat turun menerjang, material seperti angin puting beliung,’’ ungkapnya.
Debu material yang membubung tinggi langsung diikuti material tanah seperti luapan air sungai. Pemandangan benarbenar mengerikan. Kejadian hanya sekejap. Namun, memberikan perubahan yang luar biasa. Pemandangan mengerikan terpampang setelah tanah berhenti bergerak. Ladang dan jalan di depan rumahnya hilang. Semuanya tertutup tanah. Begitu juga dengan wajah rumahnya. Material tanah berjejal masuk. Dahsyatnya longsor terlihat jelas dengan melihat hebatnya kerusakan. ‘’Rumah saya berada di tikungan jalur longsor. Jadi hanya terkena bagian pinggir dari material. Saya tidak bisa membayangkan rumah yang di bawah longsoran,’’ ungkapnya.
Kendati begitu, kerusakan yang disebabkan cukup parah. Dua mobilnya nyaris hancur. Salah satu mobil ringsek menabrak dinding setelah terdorong material. Tembus hingga kamar tengah. Padahal, awalnya berada di garasi. Satu mobil lain terdorong hingga sepuluh meter. Tertimbun material tanah hingga hanya menyisakan bumper belakang.
Dua ekor sapi miliknya juga terpental sepuluh meter berikut patoknya. ‘’Bagian teras ini baru selesai direnovasi. Belum ada dua bulan,’’ jelas pria 47 tahun itu sembari menyebut kerugian material ditaksir mencapai ratusan juta rupiah. Bukan itu saja. Anggotanya keluarganya menyimpan trauma mendalam. Terutama anak perempuan dan cucunya. Anak perempuannya sempat histeris beberapa saat. Berteriak tidak karuan.
Begitu juga dengan cucunya yang berusia empat tahun. Cucunya tidak bicara. Pandangannya seperti ketakutan. Beruntung kondisinya saat ini sudah berangsur membaik. Suwito sudah mengosongkan rumah setelah bencana. Dia mengungsi. Menunggu instruksi pemerintah. ‘’Lahan milik saya yang ada kurang pas kalau dijadikan tempat tinggal. Belum tahu nanti tinggal di mana,’’ pungkasnya. (sat/JPG)