← Beranda

Ulus Pirmawan, Petani Indonesia yang Diganjar Penghargaan Dunia

AdministratorKamis, 12 Oktober 2017 | 16.38 WIB
Ulus Pirmawan (43) menunjukan wayang golek yang bakal diberikannya kepada Pemerintah Thailand.

Jawapos.com - Belum banyak orang yang mengenal sosok pria bernama lengkap Ulus Pirmawan (43). Dia ialah seorang petani sayuran asal Kampung Gandok, Desa Suntenjaya, Kecamatan Lembang, Kabupaten Bandung Barat.


Ulus yang lahir di Lembang, 16 Februari 1974, ialah anak kedua pasangan petani tradisional Adin dan Juju yang kini sukses menjadi pengusaha pertanian dan merambah pasar ekspor ke Singapura.


Atas konsistensi dan keuletannya pada produk pertanian ramah lingkungan dan mencetak pertanian terpadu, ia masuk dalam lima besar orang yang mendapat penghargaan organisasi pangan dunia (FAO), yang notabene di bawah PBB.


"Senin (depan) saya disuruh berangkat ke Bangkok, Thailand. Katanya saya masuk dalam lima besar penghargaan FAO," ungkap Ulus saat ditemui RMOLJabar (Jawa Pos Grup) di kediamannya, Rabu (11/10).


Sebagai bentuk kebanggaannya pada budaya pertanian di tanah pasundan, saat menghadiri pemberian penghargaan oleh Ratu Thailand, Ulus akan membawa buah tangan berupa wayang golek dan booklet profil gapoktan yang ia ketuai.


"Saya ingin produk pertanian kita dikenal seluruh dunia dan ekspor hasil kebun petani terus meningkat. Dengan begitu ada kemajuan ekonomi dirasakan petani kita," kata dia.


Dia berkisah, sejak duduk di bangku sekolah dasar (SD) Ulus sudah turun ke ladang membantu kedua orang tuanya. Ulus melihat kedua orang tuanya menanam tomat dan kentang.


"Dari SD saya sudah ikut dengan beliau (orang tua) jadi sudah mengenal pertanian bahkan cara nanam, pemupukan saya sudah diajarin," kata Ulus.


Berbekal pengalaman, Ulus yang hanya bisa menempuh pendidikan sampai tingkat SD kemudian diberi kepercayaan oleh orang tuanya untuk menggarap lahannya sendiri.


"Keluar SD itu sudah dikasih lahan sama orang tua untuk di garap. Luasnya sekitar 120 tumbak dan alhamdulillah hasilnya memuaskan," ujarnya.


Suka duka terus ia jalani untuk demi meraih sukses sebagai petani. Dibantu lima orang buruh tani kala itu ia terus berusaha menghasilkan produk pertanian yang berkualitas.


Ulus mengungkapkan, selain menggarap lahan dia juga diberi kepercayaan oleh orang tuanya untuk mencari pengepul yang mau membeli hasil pertaniannya. Di desanya sendiri hanya ada satu pengepul buncis untuk dipasarkan ke Pasar Caringin Bandung.


Namun, pengepul tersebut kurang transparan soal harga. Sehingga produk-produk pertanian khususnya buncis super dibeli dengan harga yang dirasa kurang pas. "Kita bawa barang tanpa tahu harganya berapa. Besoknya ambil bon (pembayaran) tapi kita tidak tahu (buncis super yang kita bawa) dijual berapa)," kata Ulus.


Merasa tidak puas dengan hasil yang didapat, Ulus memiliki niat untuk memasarkan langsung produk buncis super yang ditanamnya. Dia mencari pengepul lain yang berani membeli buncisnya dengan harga yang lebih tinggi.


"Ketemu pengepul di daerah Cicalung dan Cibeureum di Kecamatan Lembang. Ke mereka kita bisa nego harga dari awal. Misal di Gandok rendah mereka berani lebih tinggi," tuturnya.


Singkat cerita berkat ketekunan dan rasa penasaran tinggi, Ulus berhasil masuk ke pasar internasional. Produk buncis yang dia hasilkan dan kumpulkan mulai tahun 1995 buncis garapannya diekspor untuk memenuhi pasar Singapura.


"Awalnya karena pengiriman saya banyak terus 3-3,5 ton per hari, dampaknya ekportir kekurangan stok barang. Akhirnya salah satu perusahaan mencari buncis ke saya. Dari saat itu saya rutin mengirim ke Singapura," tutur Ulus.


Merasa bahwa sistem pertanian lulusan SD ini dihargai pasar internasional, Ulus bersama kelompok petani Wargi Panggupay mulai melakukan pemberdayaan petani dari awalnya buruh menjadi pengusaha tani.


Tak kurang dari 100 petani yang dulu bekerja padanya, kini telah menggarap lahan sendiri dengan menerapkan sistem pertanian darinya.


Pemupukan dengan pupuk kandang menjadi faktor utama menghasilan sayuran organik yang diminati pasar internasional. "Saya hanya ingin kehidupan ekonomi petani lebih baik, namun juga menciptakan pertanian terpadu yang ramah lingkungan," tandasnya.


EDITOR: Administrator