← Beranda

Mampu Ekspor 4.500 Ton per Bulan dan Hasilkan Omzet Triliunan Rupiah

Sari HardiyantoSenin, 26 Februari 2018 | 13.27 WIB
ULET: Hariyanto, pemilik perusahaan ekspor PT Asal Jaya, menunjukkan sebagian piagam penghargaan yang diraih.

JawaPos.com - Nama Hariyanto, 60, di dunia bisnis kopi sudah sangat patut dan layak diperhitungkan. Bagaimana tidak, warga Malang ini sudah menjadi eksortir kopi sejak tahun 1993. Artinya, bapak dua anak ini sudah 25 tahun berkecimpung di perkopian.


Mengunakan bendera yang dia namakan PT Asal Jaya, yang berlokasi di Dampit, Kabupaten Malang, Jawa Timur, ia mengirimkan biji kopinya ke puluhan negara. 


Kopi yang dia ekspor, sebagian besar merupakan komoditas asli Dampit, Kabupaten Malang, Jawa Timur. Namun tidak menutup kemungkinan mereka mengirimkan biji kopi dari daerah lain di Indonesia. Pendek kata, Hari merupakan eksportir khusus kopi asli Indonesia. 


Hariyanto merupakan sosok yang ramah, murah senyum dan bijaksana. Hal ini terlihat saat berbincang dengan JawaPos.com, di salah satu ruangan yang ada di pabriknya. 


Ditemani dengan penanggung jawab operasional perusahaan, Thomas, laki-laki asal Surabaya ini mulai berkisah mengenai perjalanan bisnisnya. 


Berkiprah di dunia ekspor kopi, saat ini, laki-laki murah senyum itu mampu mengirimkan biji kopi asli Indonesia, ke 45 negara di seluruh dunia. 


Jumlah kopi yang mampu dia ekspor juga fantastis, yakni mencapai 4 ribu hingga 4.500 ton per bulan. Artinya, dalam satu tahun dia mampu mengirimkan 48 ribu hingga 54 ribu biji siap giling, ke 45 negara. 


Kunci suksesnya membesarkan bendera bisnis, adalah jujur dan dapat dipercaya, dengan tidak mencampur biji kopi. Selain itu juga disiplin dalam pengiriman dan kualitas.


"Jika sudah dipercaya pembeli, harus dijaga. Jika mereka ingin kopi Jawa, ya kasih saja, jangan dicampur dengan lainnya," kata laki-laki yang terlihat lebih muda dibandingkan usianya itu. 


Sebelum menjadi eksportir kopi, laki-laki yang pernah tinggal di Dampit sejak tahun 1980 hingga 1997 ini, menjadi pengepul kopi dari petani. Kemudian, biji kopi ini dia jual kepada para eksportir. Pendek kata, Har merupakan penyalur biji kopi kualitas ekspor dari petani kepada eksportir. 


Peran ini, dia lakukan selama 10 tahun, dari tahun 1980 hingga 1990. Kemudian, tiga tahun dia mengurus lisensi eksportir, dan 1993 Har resmi mengirimkan biji kopi ke seluruh dunia. 


Dari sana, bapak dua anak ini mengaku banyak belajar mengenai kopi kualitas ekspor, grade hingga jalur untuk mengirimkan barang ke luar negeri. 


"Ya 10 tahun ya, saya menjadi penyalur kopi ke pengekspor. Saya belajar mengenai ekspor kopi ya dari senior saya, eksportir yang lebih dulu," bebernya, kepada JawaPos.com, dengan suara yang halus dan ramah. 


Awalnya, Hari membangun bisnis ekspor kopi, dia akui tidak mudah. Perlu jatuh bangun. Pernah dia mengirimkan satu kontainer kopi ke negara tetangga, namun sayang, kontainer berlubang, sehingga mengalami kebocoran.  Akibatnya, biji kopi menjadi tidak layak ekspor karena basah. 


Alhasil, satu kontainer dengan kapasitas sekitar 22 ton, harus dikembalikan. Rugi? Tentu saja, namun Har memilih untuk belajar dari pengalaman itu. "Hal semacam itu kecil sekali terjadi. Pernah terjadi, namun presentasenya sangat kecil," kata dia.


Awalnya, ia hanya bisa mengirimkan biji kopi ke negara tetangga, macam Singapura. Jumlahnya juga tidak sebanyak sekarang, sekitar satu kontainer. Namun kini, wilayah Eropa sudah hampir dilalap habis. Negara penggemar biji kopinya adalah Georgia, Mesir, Jerman dan kawasan Timur Tengah. 


"Bukan langkahnya dulu, tapi bekerja dan berkarya sesuai dengan kemampuan, bekerja maksimal, hasil pasti bagus," katanya memberi nasihat bisnis. 


Hari mengaku, 4.500 ton kopi yang dia ekspor perbulan itu sebagian besar berasal dari Kabupaten Malang. Namun, kendalanya adalah, produktivitas petani sangat kecil. 


Satu hektar lahan, hanya mampu menghasilkan sekitar satu ton biji kopi mentah. Padahal, idealnya 2,5 ton per hektar. "Seharusnya memang 2,5 ton per hektar. Tapi petani kita, hanya mampu memproduksi 1 ton per hektar," urai lulusan salah satu kampus di Surabaya itu. 


Hari lantas memutar otak, dia berupaya bagaimana petani mampu meningkatkan produktivitas kopinya. Hasilnya juga akan kembali kepadanya, karena komoditas ini yang menjadi bahan ekspornya. 


Dia melakukan upaya memberikan pelatihan untuk meningkatkan produktivitas pertanian. Para petani diberi bekal kemampuan dan ilmu untuk meningkatkan hasil pertanian.  


Untuk program ini, dia menggandeng pihak dari Dinas Tanaman Pangan Hortikultura dan Perkebunan (DTPHP) untuk memberikan pembinaan. 


Selain itu, PT Asal Jaya juga bekerjasama dengan non government organization (NGO) asal Belanda. Tugasnya juga sama, memberikan pelatihan bagi petani agar produktivitas kopi meningkat. 


Program pelatihan dan pendampingan kepada petani ini sudah dilakukan sejak empat tahun lalu. Saat ini, sudah ada 21 ribu petani yang menjadi binaan mereka. "Kalau bukan kita yang peduli, siapa lagi yang akan memikirkan nasib petani kopi," katanya.


Hasilnya, sekitar 4.200 atau 20 persen petani mampu meningkatkan produktivitas pertaniannya, dari semula 1 ton menjadi 2,5 ton per hektar. Bukan hanya kuantitas yang naik, namun juga kualitas biji kopi juga ikut meningkat. 


"Kami ingin memberikan kontribusi, agar mata pencaharian petani meningkat. Mereka kami beri pengetahuan dan bekal pertanian, agar produksinya juga meningkat," imbuh lulusan jurusan teknik itu. 


Bukan hanya memberdayakan 21 ribu petani kopi, namun, juga mempekerjakan sekitar 500 pegawai. Ratusan pegawai ini merupakan penduduk lokal yang bekerja di beberapa bagian. Misalnya saja pemilih kopi, kuli panggul dan bagian lainnya. 


"Pakai mesin memang bisa, lebih efektif dan efisien. Namun, apa iya mereka akan saya PHK? Pekerja saya sudah bekerja sejak muda, itu ada yang sudah tua juga," kata dia menunjuk ke gerombolan pekerja perempuan yang baru keluar dari pabrik, karena jam kerja usai. 


Sekarang, setelah berkiprah selama 25 tahun, Har mampu membukukan omzet rata-rata sekitar USD 100 juta. Jika dikurskan dengan nilai tukar saat ini, Rp 13.738 per dollar, maka omzet PT Asal Jaya mencapai lebih dari Rp 1,373 triliun per tahun.


Hari juga memiliki dua pabrik pengolahan kopi. Yakni di Pasuruan dan Kabupaten Malang. Masing-masing memiliki luas sekitar 3 hektar. 


Perusahaan yang dia pimpin juga beberapa kali mendapatkan penghargaan. Baik dari Pemprov Jatim, instansi perbankan hingga undangan mendapatkan penghargaan di kancah nasional.

EDITOR: Sari Hardiyanto