
Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi. (Ricky Prayoga/Antara)
JawaPos.com-Sejumlah bencana alam terjadi di Provinsi Jawa Barat akhir-akhir ini. Salah satunya longsor yang terjadi di Megamendung, Kabupaten Bandung Barat, yang menewaskan satu orang.
Menanggapi hal ini, Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi menilai, perubahan tata ruang pada daerah-daerah rawan bencana di Bogor disinyalir menjadi penyebabnya.
“Perubahan tata ruangnya adalah daerah-daerah yang dianggap rawan bencana, yang seharusnya menjadi daerah-daerah resapan air, daerah-daerah perkebunan, tata ruang diubah menjadi kawasan pariwisata, kawasan pemukiman, sehingga potensi bencana sangat terjadi kalau tidak segera melakukan tata ruang,” kata Dedi Mulyadi seperti diunggah pada akun Instagram pribadi, @dedimulyadi71, Minggu (6/7).
Dia menjelaskan, Pemerintah Provinsi (Pemprov) Jawa Barat bertekad untuk melakukan perubahan terkait hal ini. Tujuannya untuk menghindari bencana alam yang terus menerus terjadi di provinsi yang dipimpinnya.
“Termasuk barang kali, wilayah-wilayah Kabupaten Bandung, Bandung Barat, Kabupaten Tasik, Garut. Semuanya adalah daerah-daerah yang mesti dilakukan perubahan tata ruang. Terjadi alih fungsi lahan dari hutan jadi perkebunan sayur,” jelas Dedi.
Bahkan, pada lokasi tersebut juga sering dijadikan situs penambangan, baik yang berizin ataupun tak berizin. Namun, eks Bupati Purwakarta ini tak bergeming dan tetap akan melakukan tindakan untuk menyelamatkan alam.
“Maka seluruh tindakan-tindakan saya lakukan, walaupun menuai kontroversi, menuai pro-kontra, menimbulkan kemarahan dan kebencian. Tetapi bagi saya, itu tidak penting,” tegas Dedi Mulyadi.
“Kenapa? Penyelamatan alam dan lingkungan yang merupakan tempat tinggal kita, itu mesti dilakukan. Karena untuk apa? pembangunan-pembangunan dilakukan dengan biaya yang besar, pada akhirnya rontok oleh bencana,” imbuh dia.
Di sisi lain, dia menekankan, untuk menyelesaikan masalah banjir di Jakarta juga harus menyelesaikan masalah yang ada di Bogor terlebih dahulu. Dia meminta semua pihak bersinergi untuk mengembalikan kawasan Bogor menjadi kawasan yang memiliki banyak resapan air.
“Gunung-gunungnya, jangan diganggu, perkebunannya tidak boleh dialih fungsikan. Nafsu untuk mengembangkan ekonomi di sana harus dikurangi dengan berpegang teguh pada prinsip-prinsip ekosistem,” tutur Dedi Mulyadi.

Jika Persija Jakarta Gagal Juara, The Jakmania Punya Kesempatan Melihat Bobotoh Menangis
14 Kuliner Malam Bandung yang Paling Enak dan Selalu Ramai hingga Larut Malam dengan Suasana Seru dan Rasa Lezat
Tak Peduli Larangan ke Jepara, The Jakmania Sebut Kebiasaan atau Takut Main di Jakarta saat Persija Jamu Persib
Bocoran Soal CAT Seleksi Manajer Koperasi Merah Putih 2026
18 Rekomendasi Kuliner di Tangerang untuk Keluarga, Tempat Makan Favorit dari Tradisional sampai Modern
Pesan Haru Milos Raickovic ke Bonek! Gelandang Persebaya Surabaya Sudah Berikan Segalanya Musim Ini
10 Rekomendasi Restoran Paling Populer di Surabaya dengan Menu Lengkap dan Harga Variatif
Mantan Kiper Persebaya Surabaya Buka Suara! Dimas Galih Ungkap Kondisi Ruang Ganti PSBS Biak
Link Pengumuman Hasil Seleksi Administrasi Manajer Koperasi Merah Putih yang Sudah Diumumkan
7 Rekomendasi Kuliner Lontong Balap Paling Enak di Surabaya, Wajib Dicoba Sekali Seumur Hidup!
