Logo JawaPos
Author avatar - Image
Selasa, 31 Mei 2022 | 17.44 WIB

KMN Ladang Pertiwi Tenggelam, 10 Korban Selamat Ditemukan di Dua Pulau

KEMBALI KE DARATAN: Tim SAR gabungan mengevakuasi seorang penumpang KMN Ladang Pertiwi 02 yang berhasil menyalamatkan diri saat kapal tersebut karam Kamis (26/5). (AFP) - Image

KEMBALI KE DARATAN: Tim SAR gabungan mengevakuasi seorang penumpang KMN Ladang Pertiwi 02 yang berhasil menyalamatkan diri saat kapal tersebut karam Kamis (26/5). (AFP)

JawaPos.com – Operasi penyelamatan korban tenggelamnya Kapal Motor Nelayan (KMN) Ladang Pertiwi 02 kembali berlanjut. Hingga kemarin petang, sudah 31 korban ditemukan dalam keadaan selamat. Sebelas korban lainnya masih hilang.

Tim SAR gabungan menyisir lokasi tenggelamnya kapal tersebut di perairan Kepulauan Pangkep, Sulawesi Selatan (Sulsel).

Menurut Kepala Kantor Basarnas Makassar Djunaidi, secara keseluruhan ada sepuluh korban yang berhasil ditemukan dan diselamatkan oleh tim SAR gabungan. Adalah nelayan setempat yang kali pertama menemukan mereka pada pukul 04.00 Wita. Mereka menemukan para korban dalam keadaan selamat di dua pulau berbeda.

Masing-masing korban, kata Djunaidi, bernama Masliang, Mahfud, Hilal, Supriadi, Rahmat, Khalilul Rahman, Panji, Rahma, Rafa, dan Rafi. Seluruhnya langsung dievakuasi ke Pulau Pamantauang. ”Dari 42 penumpang, telah ditemukan 31 korban selamat,” imbuhnya. Dia memastikan bahwa KN SAR Kamajaya yang dikerahkan oleh Basarnas dalam operasi tersebut akan terus bekerja.

Djunadi menyebut, tim dari TNI-AL masih berada di sekitar lokasi kejadian untuk mencari korban yang belum ditemukan. Kepala Dinas Penerangan TNI-AL (Kadispenal) Laksamana TNI Pertama Julius Widjojono menyampaikan, ada empat KRI yang tergabung dalam tim SAR gabungan. Yakni, KRI Sultan Hasanuddin-366, KRI Malahayati-362, KRI Mandau-621, dan KRI Pulau Rupat-712.

Selain itu, ada juga Kapal Angkatan Laut (KAL) Suluh Pari II–6–60 serta Pesud Cassa U-6207. Satu pesawat dikirim untuk membantu pencarian korban dari udara. Julius menyebutkan, Kepala Staf Angkatan Laut (KSAL) Laksamana TNI Yudo Margono memberikan atensi lebih terhadap operasi pencarian itu. Berdasar informasi yang diperoleh Mabes TNI-AL dari tim yang bertugas di lokasi pencarian, sepuluh korban selamat ditemukan oleh nelayan di Pulau Pamantauang dan Pulau Saliriang. ”Yaitu, di Pulau Pamantauang enam orang dan empat orang di Pulau Saliriang,” terang Julis kemarin.

Dia menyebutkan, TNI-AL mengirim seorang perwira bintang satu ke lokasi kejadian. Perwira tinggi tersebut adalah Komandan Gugus Tempur Laut (Guspurla) Komando Armada (Koarmada) II Laksamana Pertama TNI Deny Prasetyo. Dia diberi tugas oleh KSAL untuk memimpin tim TNI-AL yang dikerahkan membantu operasi SAR KMN Ladang Pertiwi 02. Kapal tersebut dilaporkan tidak dapat dihubungi pada Kamis (26/5). Namun, informasi tenggelamnya KMN Ladang Pertiwi 02 baru diterima oleh Basarnas setempat pada Sabtu (28/5). Berdasar informasi yang diperoleh dari para korban selamat, kapal tersebut tenggelam pada 26 Mei. Kapal tenggelam setelah dihantam gelombang tinggi sekitar pukul 13.30 Wita.

TNI-AU juga masih mengerahkan salah satu alat utama sistem persenjataan (alutsista) yang mereka miliki untuk membantu tim SAR gabungan. Alutsista yang dikerahkan adalah Helikopter Super Puma H-321 dari Skadron Udara 6 Lanud Atang Sendjaja, Bogor, Jawa Barat. Helikopter tersebut diterbangkan oleh Kapten Penerbang Fahmi Mirza.

Melanggar Kode Muatan

KMN Ladang Pertiwi 02 seharusnya digunakan untuk mencari ikan. Bukan untuk mengangkut orang dan barang yang tidak sesuai peruntukan. Namun, menurut informasi yang diterima FAJAR, saat kejadian, kapal itu bermuatan material bahan bangunan seperti pasir, pipa, tiang listrik, hingga tripleks berdiameter tebal. Ditambah 42 penumpang.

Kabid Keselamatan Berlayar Kantor Syahbandar Utama Makassar Capt Yohanis K. Te’dang menegaskan, KM Ladang Pertiwi 02 hanya untuk nelayan mencari ikan. Dia menjelaskan, kapal tersebut dibuat di Kabupaten Maros. Setelah diukur dan dibuat di sana, kapal itu didaftarkan ke Syahbandar Utama Makassar. ”Jadi, ini kapal sudah punya surat ukur. Begitu pun surat pass besar atau surat GT 175. Di mana, surat pass besar ini bukti bahwa kapal itu sudah didaftarkan sebagai kapal Indonesia dengan kode kapal nelayan. Sama juga surat ukurnya sebagai kode nelayan,’’ jelasnya kepada FAJAR kemarin.

Yohanis menuturkan, ada aturan dasar yang harus dipatuhi setiap pemilik kapal sebelum berlayar. Mereka harus mempunyai pengurus atau agen di pelabuhan. Tugasnya, memastikan kelengkapan dokumen kapal sebelum berangkat sesuai kode kapal. Nakhoda juga harus membuat surat pernyataan kesiapan berlayar.

Editor: Ilham Safutra
Tags
Artikel Terkait
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore