Logo JawaPos
Author avatar - Image
Jumat, 22 April 2022 | 20.51 WIB

Tak Terpilih Jadi Ketua, Bayu Airlangga Mundur dari Demokrat Jatim

Bendahara Demokrat Jatim Bayu Airlangga. Dok. JawaPos - Image

Bendahara Demokrat Jatim Bayu Airlangga. Dok. JawaPos

JawaPos.com–Bendahara Dewan Perwakilan Daerah (DPD) Demokrat Jawa Timur sekaligus calon ketua Demokrat Jatim Bayu Airlangga memutuskan mundur dari Partai Demokrat.

Keputusan itu diambil, setelah Bayu merasa dizalimi terkait hasil Musda DPD Partai Demokrat Jatim. Sebab, dia seharusnya menjadi ketua berdasar pilihan Dewan Perwakilan Cabang (DPC) di tiap kabupaten/kota. Namun Ketua Umum Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) memilih Emil Dardak menjadi Ketua Demokrat Jatim.

”Saya memutuskan mundur dari Partai Demokrat per Kamis, 21 April 2022,” kata Bayu dalam keterangannya yang diterima pada Jumat (22/4).

Menantu mantan Gubernur Jatim Soekarwo (Pakde Karwo) itu menegaskan, keputusan mundur ini sebagai bentuk tanggung jawab kepada 25 DPC. Ke-25 DPC itu telah memberikan suaranya kepada Bayu.

”Saya beberapa kali setelah pengumuman Musda ditawari sejumlah jabatan pengurus di Demokrat Jatim. Tapi saya menolak itu, sebagai bentuk rasa prihatin saya atas matinya demokrasi di Demokrat dan tanggung jawab kepada 25 DPC yang mendukung saya selama ini,” papar Bayu.

Sebelum mundur, dia menyampaikan terima kasih kepada seluruh 25 DPC yang berjuang mendukungnya saat Musda. Secara khusus, Bayu juga menyampaikan terima kasih kepada adik AHY, Edhie Baskoro Yudhoyono (Ibas).

”Saya terima kasih kepada seluruh DPC dan khusus kepada Mas Ibas, matur nuwun yang selama ini telah mau turun dan mendengar aspirasi dari akar rumput Demokrat di Jatim. Saya mohon maaf juga kepada seluruh keluarga besar Partai Demokrat jika ada perbuatan saya yang tidak sengaja kurang berkenan,” ujar Bayu.

Dia menegaskan, keputusan mengundurkan diri dari Partai Demokrat sudah bulat. Sebab, merasa dizalimi saat Musda (Musyawarah Daerah) Demokrat Jatim.

”Bagi saya, ketika saya dan para DPC pendukung saya dizalimi terkait Musda, tidak ada pilihan lain selain mundur dari partai. Kita ingat, saat pembukaan Musda, Ketum AHY menjanjikan demokratis. Tapi bisa dinilai publik sendiri, bagaimana hasil Musda Demokrat Jatim,” jelas Bayu.

Padahal, sebelum mundur, dia meyakini Partai Demokrat sebagai partai yang demokratis. Sehingga saat hasil Musda Demokrat Jatim tidak demokratis, tidak ada pilihan lain selain mundur.

”Ada tanggung jawab moral dan etika kepatutan berpolitik. Batas kepatutan itu tidak boleh diterjang seenaknya. Sebagai seorang kader yang menjunjung asas demokrasi, ketika demokrasi itu sendiri tidak ada di partai, saya memutuskan mundur dari Demokrat,” ucap Bayu.

Menurut dia, Dewan Perwakilan Pusat (DPP) terkesan tidak memandang kondisi akar rumput di Demokrat Jatim. Tidak pernah ada komunikasi langsung dari Ketum AHY kepada akar rumput atau DPC.

”Kalau memang ketum menginginkan seorang figur untuk memimpin Demokrat Jatim, sebaiknya sejak awal tidak perlu Musda. Ajak bicara saya dan DPC pendukung saya, daripada harus dikecewakan di akhir, apalagi pengumuman SK itu hanya diumumkan ketua BPOKK dan Sekjen,” terang Bayu.

Dalam Musda Demokrat Jatim pada 20 Januari, Bayu Airlangga mendapat dukungan 25 DPC. Sementara, Emil Elestianto Dardak meraih 13 dukungan DPC. Namun, DPP justru memutuskan Emil Dardak sebagai Ketua Demokrat Jatim.

Editor: Latu Ratri Mubyarsah
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore