Logo JawaPos
Author avatar - Image
Minggu, 17 April 2022 | 03.48 WIB

Tak Boleh Ada Benda Apa pun yang Berwujud Kuda di Pendapa Tulungagung

BENTUK TAK BERUBAH: Ruang gubernuran untuk tamu Pendapa Kabupaten Tulungagung. Area ini untuk menyambut tamu pejabat. (Frizal/Jawa Pos) - Image

BENTUK TAK BERUBAH: Ruang gubernuran untuk tamu Pendapa Kabupaten Tulungagung. Area ini untuk menyambut tamu pejabat. (Frizal/Jawa Pos)

Sudah nyaris dua abad bangunan Pendapa Kabupaten Tulungagung berdiri. Tak banyak area yang berubah. Sebab, perubahan sedikit saja membutuhkan aneka macam ritual jika tak mau ada yang celaka.

---

Pendapa Kabupaten Tulungagung dibangun pada 1824. Jawa Pos berkesempatan menelusurinya beberapa waktu lalu. Mulai ruang utama, tempat bupati rapat, hingga ruang gubernuran. Yakni, sebuah kamar untuk para tamu agung. Misalnya, gubernur atau pejabat penting lainnya.

Arsitektur dari kayu mendominasi. Tiang kayu penuh ukiran seakan menyambut siapa saja yang masuk. Aroma harum bunga melati semerbak di setiap sudut ruangan. Maklum, di setiap ruangan ada semangkuk melati. Dua hari sekali, bunga di mangkuk khusus itu harus diganti.

Desain interior yang unik membuat tim Jawa Pos berusaha mengabadikan setiap sudutnya. Termasuk mengambil gambar di ruang gubernuran. Sayangnya, beberapa kali take, hasilnya ngeblur.

Setiap malam Jumat, seperangkat gamelan di bagian tengah selalu dibunyikan. Tradisi itu dilakukan sejak turun-temurun. ’’Ini wajib, siapa pun bupatinya harus tetap melestarikan ini,’’ kata mantan Kepala Bagian Umum Pemkab Tulungagung Eko Asitono.

Pensiunan Pemkab Tulungagung itu menuturkan, memang benar pendapa memiliki daya magis yang kuat. Bagi mereka yang indigo, pasti bisa merasakan hal tersebut. Di setiap ruangan ada penunggunya.

Hal itu pernah dialami oleh almarhumah Dorce Gamalama. Saat itu, kata Eko, Dorce sedang mengisi acara Pemkab Tulungagung. Saat masuk ke pendapa, dia bercerita seakan disambut banyak orang. Kemudian, Dorce berkeliling area pendapa.

Artis serbabisa tersebut mengungkapkan, ada perempuan cantik yang meminta bunga melati. Begitu juga sosok pria Belanda. Hal itu juga dialami salah seorang pejabat MPR. Menurut pejabat tersebut, Pendapa Tulungagung memang berbeda dari pendapa lainnya.

Eko menuturkan, kuda dan pendapa tidak pernah cocok. Saat dia menjabat Kabag Umum, beberapa kali ada kejadian ganjil. Lukisan kuda yang terpasang di dinding selalu jatuh. Begitu juga patung kuda. Kakinya selalu patah. Ketika di perbaiki, patah lagi.

Tidak hanya itu, ada juga cerita salah seorang bupati yang memelihara kuda. Kemudian, kuda tersebut lepas sampai keluar pagar. ’’Intinya, apa pun itu yang berhubungan sama kuda tidak cocok di pendapa,’’ kata Eko.

Hal itu ditengarai berkaitan dengan cerita pada zaman dulu. Ada seorang bupati yang memiliki peliharaan kuda. Nahasnya, kuda tersebut ngamuk dan membunuh pawangnya. Konon, sejak saat itu, sosok pawang kuda sering menampakkan diri. Tepatnya di bagian belakang pendapa. Petugas yang berjaga mengaku sudah terbiasa dengan penampakan sosok tersebut. Sebab, sosok itu tidak mengganggu.

Area pendapa cukup luas. Di bagian belakang terdapat pohon sukun. Kabarnya, pohon tersebut dihuni banyak makhluk astral. Bagian gazebo juga cukup angker. Dulu, petugas satpol PP sering melihat adanya acara seperti konser di sana. Padahal, sedang tidak ada acara apa pun.

Segala aktivitas yang mengubah area pendapa harus diawali dengan ritual dan selamatan. Jenang lima warna dan jajanan harus ada. Kemudian, berdoa sesuai caranya sendiri. Langkah itu merupakan permohonan izin. ”Apa pun pokoknya, seperti memotong pohon,’’ terang Eko.

Pernah ada kejadian, waktu itu sedang ada penggantian kelambu pendapa. Pekerjanya yakin bisa melakukan. Saat pengukuran, dia datang tanpa izin. Alhasil, saat datang lagi, ukurannya tidak sesuai.

Di area pendapa juga tidak boleh sembarangan berucap. Apalagi bersumpah. Sebab, jika yang disumpahkan tidak sesuai, sesuatu akan terjadi pada dirinya.

Seluruh bangunan dan interior pendapa memang belum diubah. Semuanya masih sama. Hal itu pernah diungkapkan Presiden Kelima Indonesia Megawati Soekarnoputri. Waktu menjadi presiden, Megawati berkunjung ke pendapa. Saat keluar, dia bercerita pernah tidur di kamar gubernuran. Saat itu, dia masih SD dan diajak Soekarno ke pendapa.

Bangunan pendapa tidak bisa lepas dengan tombak Kiai Upas. Sebuah pusaka Kabupaten Tulungagung. Bagian atas pendapa dibuat menyerupai lidah ular naga. Mirip bentuk pusaka. Bagi yang punya kemampuan khusus, sosok ular naga tersebut bisa terlihat.

Editor: Dhimas Ginanjar
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore