
Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi memberikan keterangan pers kepada awak media di Kantor Kementerian HAM, Jakarta Selatan, Kamis (8/5/2025). (Dery Ridwansah/ JawaPos.com)
JawaPos.com - Pembinaan dan pembentukan karakter anak menjadi salah satu perhatian besar Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi. Sebagai pemimpin daerah, dia mempunyai tugas untuk membuat masyarakat menjadi lebih baik. Salah satu mengubah SMA dan SMK sederajat tidak membuat pungutan.
“Saya punya tanggung jawab, semua sekolah SMA Negeri tidak boleh ada pungutan. Kalau ada pungutan, kepala sekolahnya diberhentikan,” kata Dedi seperti dikutip dari Radar Bogor (Jawa Pos Group), Kamis (19/6).
Belum lama ini, kepala SMA di Bekasi diberhentikan karena membuat pungutan. Dia menekan, rakyat miskin tetap harus bersekolah. Apabila rakyat miskin masuk sekolah swasta, maka tetap akan menjadi tanggung jawab Gubernur Jawa Barat.
Oleh karena itu, Dedi mengultimatum para orang tua untuk ikut mendidik anak-anak mereka. Penegasan itu karena mantan bupati Purwakarta itu tidak negara yang sudah mengeluarkan banyak uang subsidi hingga triliunan rupiah demi pendidikan berakhir dengan terbuang sia-sia.
Jangan sampai pula siswa malah menjadi manja dan diberi uang jajan Rp 30 ribu setiap hari supaya tidak malas sekolah. "Sekolah itu gratis, (tapi) jajan Rp 30 ribu, lalu untuk apa? Karena yang mahal itu bukan biaya sekolahnya, tapi biaya jajannya. Ya ubah dong," tegasnya.
Saat ini, sebelum makan bergizi gratis (MBG) berlaku, maka diwajibkan bagi semua siswa untuk membawa bekal dari rumah. Sepulang sekolah, para siswa diminta berjalan kaki dan memakai sepeda, jika memang ada. Dedi Mulyadi tidak menyarankan siswa menggunakan sepeda motor ke sekolah.
“Belum 17 tahun jangan dulu pakai motor. Kenapa? Karena naik motor sepulang sekolah malah keluyuran, tidak langsung pulang ke rumah, pergi ke mana-mana saja, ikut kelompok geng, berkelahi di jalan, ibunya jadi repot, motornya rusak, anaknya malah ditahan (ditangkap polisi),” jelas dia.
Menurut dia, masalah tersebut tentu membuat susah semua pihak. Rata-rata anak bermasalah biasanya datang dari keluarga dengan kondisi ekonomi kelas bawah.
Tak hanya itu, Gubernur Jawa Barat ini juga menyinggung soal aturan pekerjaan rumah (PR) bagi para siswa. "PR-nya seperti apa? Ya PR-nya itu ayo di rumah cuci piring sendiri, PR itu mengepel sendiri, mengerjakan PR itu menyeterika sendiri, mengerjakan PR itu masuk ke dalam penilaian guru,” tukas politikus Partai Gerindra itu.

15 Kuliner Soto Ayam Paling Lezat di Surabaya dengan Kuah Kuning Pekat, Koya Memikat dan Topping Nikmat
10 Mie Ayam Paling Enak di Jogja yang Selalu Ramai Pembeli, Kuah Gurih dan Porsi Melimpah
16 Tempat Wisata Terbaik di Pandaan Pasuruan yang Buat Liburan Penuh Panorama Alam, Pegunungan dan Ketenangan
11 Rekomendasi Es Teler Terlaris di Jogja, Selalu Jadi Favorit Pecinta Dessert Tradisional Warga Lokal Maupun Pelancong!
Diperiksa 2 Jam soal Penyalahgunaan AI, Freya JKT48 Serahkan Bukti Akun Baru ke Polisi
104 Pusat Perbelanjaan di Jakarta Bakal Pesta Diskon sampai 70 Persen, Catat Waktunya!
10 Rekomendasi Mall Terlengkap di Surabaya, Surganya Liburan Anak Muda Buat Shopping
11 Kuliner Maknyus Sekitar Kebun Raya Bogor, Tempat Makan yang Sejuk, Nyaman dan Enak
14 Rekomendasi Gado-Gado Paling Recomended di Surabaya, Cita Rasa Klasik Autentik dan Harga Ramah di Kantong
Pulang ke Persebaya Surabaya? Andik Vermansah Dapat Tawaran dari 5 Klub, Ingin Kembali Bermain di Kasta Tertinggi
