
Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi. (YouTube Lembur Pakuan Channel).
JawaPos.com - Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi kembali menjadi perbincangan hangat di tengah masyarakat. KAli ini menyangkut isu korupsi kepala desa.
Hal ini lantaran Dedi meminta agar kepala desa atau jajarannya di Jabar yang diduga terjerat kasus korupsi untuk tak diperiksa dulu jika belum ditemukan adanya potensi kerugian negara.
Hal ini tertuang pada salah satu poin MoU (Memorandum of Understanding) atau kesepakatan kerja sama bersama jajaran aparat penegak hukum terkait dengan kasus yang menjerat kepala desa.
MoU tersebut rencananya dilakukan Pemerintah Provinsi Jawa Barat bersama dengan Kejaksaan Tinggi (Kejati) Jawa Barat dan Polda Jawa Barat.
"Saya akan membuat MoU dengan Kajati dan Polda Jabar bahwa desa tidak boleh dulu diperiksa terhadap kasus korupsi, manakala kerugian negaranya belum bisa ditemukan oleh badan pemeriksa keuangan," kata Dedi Mulyadi, dilansir dari video di YouTube Lembur Pakuan Channel, Rabu (4/6).
Dedi ini beralasan bahwa kebijakan seperti ini harus dilakukan agar kepala desa tak merasa tertekan dengan adanya pemeriksaan hukum.
"Kepala desa sangat mudah rapuh bila dilakukan intimidasi. Satu sisi harus ada sikap mental yang saya benahi, tetapi sebagai pemimpin juga saya harus melindungi," jelas Dedi.
Dengan hal itu, Dedi menerapkan sistem keuangan dengan pola e-budgeting untuk mengelola anggaran dana desa. Tujuannya untuk mengatasi penyelewengan dana desa.
"Dengan pengelolaan sistem keuangan yang e-budgeting di desa, transaksi digital, maka saya meyakini betul di desa nggak akan ada lagi orang yang berani ngambil keuangan yang bukan haknya. Kenapa? Seluruh transaksinya mudah sekali dibaca," tegas mantan Bupati Purwakarta itu.
Bahkan, pihak inspektorat yang melakukan pemeriksaan nantinya bisa memantau sistem keuangan dari jarak jauh, tanpa harus datang ke desa. Sebab, seluruh transaksi telah tercatat di sistem keuangan e-budgeting.
Adapun e-budgeting tak hanya berlaku untuk dana desa, melainkan juga diterapkan bagi pengelolaan dana hibah serta dana bantuan sosial.
"Pertanggungjawaban dan pengelolaannya harus e-budgeting. Kalau sudah seperti itu, tidak akan ada orang yang mau menerima dana hibah. kenapa? Karena sangat mudah dilacak," jelasnya.

15 Kuliner Soto Ayam Paling Lezat di Surabaya dengan Kuah Kuning Pekat, Koya Memikat dan Topping Nikmat
10 Mie Ayam Paling Enak di Jogja yang Selalu Ramai Pembeli, Kuah Gurih dan Porsi Melimpah
10 Rekomendasi Mall Terlengkap di Surabaya, Surganya Liburan Anak Muda Buat Shopping
Diperiksa 2 Jam soal Penyalahgunaan AI, Freya JKT48 Serahkan Bukti Akun Baru ke Polisi
Santriwati di Pekalongan Diklaim Keluarga Hamil Tanpa Berhubungan, Masa Iya?
14 Rekomendasi Gado-Gado Paling Recomended di Surabaya, Cita Rasa Klasik Autentik dan Harga Ramah di Kantong
10 Tempat Makan Pempek Favorit di Bandung, Pilihan Menu Lengkap, Rasa Autentik, dan Perpaduan Cuko yang Kaya Rempah
Gelombang Dukungan untuk Nicko Widjaja Menguat Usai Tuntutan 11 Tahun
17 Kuliner Gado-Gado Paling Laris di Jakarta, Cocok untuk Makan Siang Bersama Teman dan Keluarga
20 Cafe Paling Instagramable di Surabaya, Tempat Ngopi yang Bukan Hanya Kuliner Enak tapi Juga Estetik
