Sabtu, 24 Feb 2018
baliexpress
icon featured
Balinese

Palukatan Sad Ripu; Lantunkan Gaguritan Monyeh Agar Datuk Tak Usil

Minggu, 14 Jan 2018 12:35 | editor : I Putu Suyatra

Palukatan Sad Ripu; Lantunkan Gaguritan Monyeh Agar Datuk Tak Usil

SUCI : Tempat masucian Ida Bhatara yang airnya juga dialirkan untuk malukat. (I MADE MERTAWAN/BALI EXPRESS)

BALI EXPRESS, AMLAPURA - Sebelum berjalan kaki melihat satu per satu Palukatan Sad Ripu itu, Bendesa Adat Dukuh Penaban, Karangasem, Bendesa Ada Dukuh Penaban, I Nengah Suarya berulang kali mengingatkan koran ini agar tidak berpikiran aneh-aneh di sana. 

Berbicara kotor atau melintas sembarangan, salah satu pantangan  kalau berada di kawasan Palukatan Sad Ripu di Desa Adat Dukuh Penaban,  Karangasem  ini. Karena tempat itu diyakini banyak 'penunggunya'.

“Tapi, kalau punya niatan baik, tidak diganggu. Jangan bicara kotor, biar tidak 'dicubit'.  Nanti kepleset berjalan,” ujar Suarya mengingatkan kepada Bali Express (Jawa Pos Group). 

Meski tak dapat menjelaskan secara nyata, Suarya menguatkan bahwa tempat itu ada 'penunggunya' berdasarkan cerita masyarakat yang pernah mengalami langsung kejadian aneh di sana.


Dari sekian banyak makhluk halus bermukim di sana, ada disebutnya Datuk yang bisa usil, namun juga bisa melindungi. Tergantung mereka yang datang ke sana. Yang terpenting tujuannya baik, maka tidak akan diganggu.

“Nanti kami akan buatkan palinggih di sini,” ujar pria berusia 49 tahun itu, sambil menunjukkan serumpun pohon bambu yang diyakini menjadi rumah Datuk. “Kalau spiritual tinggi, mungkin bisa melihat atau berkomunikasi,” lanjutnya.



Terkait beberapa kejadian aneh di sana, Suarya yang seorang PNS dengan jabatan Kasi Pemberdayaan Masyarakat Desa (PMD) di Kecamatan Sidemen, ini mengantarkan koran ini menemui pasangan suami-istri (pasutri), Komang Suarta-Ni Made Munirti yang siang-malam berada di sana karena bertugas menjaga bendungan di sungai tersebut. Suarta mengaku pernah mandi bareng di salah satu tempat malukat, dan berbagi sabun dengan seseorang yang berwujud manusia.  Dia yakin yang diajak itu bukan manusia sungguhan karena setelah meminta sabun sukla dan Suarta menolak tawaran pesan yang dibawanya, orang itu langsung menghilang entah kemana. Beberapa kali juga rumah yang ditempatinya dikelilingi suara seperti orang makan kerikil malam harinya.

“Sudah biasa, yang penting rajin macanang di sini, tidak aneh-aneh,” tutur Munirti.
Jro Mangku Made Sriata yang merupakan kakak kandung Suarta, juga tak kalah seru pengalamannya di sana. Suatu hari, dia pernah ketiduran di depan rumah adiknya. Sriata yang sekitar pukul 18.00 Wita  baru bangun tidur, mendengar keramaian di sana. Bau masakan menusuk hidung. Dia juga pernah dimintai hasil tangkapan ikan di sungai itu.

“Karena nangkap udang di sungai itu susah, nunggunya lama. Begitu saya diminta oleh orang kan tidak saya kasih, ternyata terus diikutin. Setelah dikasi ternyata orang yang minta  menghilang. Itu malam-malam,” tutur Jro Mangku Sriata.

Namun,  ada kepercayaan juga bahwa ketika sampai di sana melantunkan gaguritan lontar monyeh, maka tidak akan diganggu.  Lontar monyeh ini, menurut Mangku Sriata menggunakan empat bahasa, Bahasa Bali, Jawa, Sasak, dan Madura.

“Karena penunggu di sini diperkirakan ada kaitan dengan kisah Karangasem magebug ke Lombok zaman dulu. Waktu itu, mereka yang dari Lombok dibawa ke Karangasem,” sebut Jro Mangku Sriata, lalu menembang beberapa bait gaguritan lontar monyeh.

Dia pun menegaskan bahwa perjalanan spiritual malukat di sana tidak akan ada mengganggu, apabila niatnya tulus, tidak berbuat aneh-aneh di sana.  

(bx/wan/rin/yes/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia