Sabtu, 24 Feb 2018
baliexpress
icon featured
Balinese

Tradisi Sapi Gerumbungan; Ngider Githa, Wujud Syukur terhadap Dewi Sri

Minggu, 14 Jan 2018 11:49 | editor : I Putu Suyatra

Tradisi Sapi Gerumbungan; Ngider Githa, Wujud Syukur terhadap Dewi Sri

KELILING : Tradisi Ngider Githa dilaksanakan dengan menyanyikan kakidungan sembari berkeliling di areal persawahan sambil memercikkan sarana berupa arak, brem, dan tuak, di smaping menggunakan banten khusus. (I PUTU MARDIKA/BALI EXPRESS)

BALI EXPRESS, SINGARAJA - Budaya agraris di Bali sangat kaya akan ritual, terutama berkaitan dengan menanam padi. Semua ritual tersebut memiliki makna, agar padi yang ditanam bisa tumbuh subur hingga dipanen dengan hasil berlimpah. Seperti dilakukan petani di Desa Sudaji, Kecamatan Sawan, Buleleng dengan tradisi Ngider Githa. 


Beragam budaya agraris yang dilaksanakan petani mulai dari Magpag Toya yakni menjemput air, Nwasen Mewinih (dilakukan saat mulai menabur benih) kemudian  Ngendag Amacul (saat mulai mengolah tanah), Nwasen Nandur (saat mulai menamanam).  Selanjutnya, Pesembuahan (umur tanaman padi sekitar 12 hari) atau selesai  pemindahan dari tempat pembibitan ke petakan sawah, hingga membuat anggapan atau nini (padi yang dipotong untuk dibuatkan sesajen) sebelum dipanen. Semua ritual tersebut bertujuan  agar padi yang ditanam bisa tumbuh subur hingga dipanen dengan hasil yang berlimpah. 


Khusus di Desa Sudaji, Kecamatan Sawan, Kabupaten Buleleng,  terdapat tradisi yang mencerminkan rasa terima kasih terhadap Ida Sang Hyang Widhi Wasa dalam manifestasinya sebagai Dewi Sri atau Dewi Kesuburan. Dewi Sri merupakan sakti dari Dewa Wisnu ini, begitu identik dengan padi. Sehingga, masyarakat Desa Sudaji yang tergabung dalam Subak memiliki sebuah tradisi unik yang disebut dengan Ngider Githa. Ngider berarti keliling dengan membawa tuak, arak, dan brem. Sedangkan Githa berarti nyanyian atau kekidungan. Jadi, tradisi ini dilaksanakan dengan menyanyikan kakidungan sembari berkeliling di areal persawahan sambil memercikkan sarana berupa arak, brem, tuak yang juga menggunakan banten khusus sebagai sarana upakara. Tradisi ini tidak wajib dilaksanakan oleh krama yang memiliki lahan persawahan.

“Hanya saja, tradisi ini digelar serangkaian dengan saud atur atau membayar kaul, dan pelaksanaannya pun harus di lahan persawahan. Tradisi ini  identik dengan pemujaan terhadap Dewi Sri yang merupakan Ista Dewatanya (dewi pujaan) para petani,” papar  Ulun Desa di Desa Sudaji, Jero Pasek Gede Negara, 69, kepada Bali Express (Jawa Pos Group). 


Ia mengatakan, bila tradisi ini terlaksana jika ada yang membayar kaul atau sesangi. “Tradisi ini tidak wajib dilaksanakan. Namun, bila memiliki kaul atau sesangi, maka harus dibayar sesuai dengan apa yang dulu diucapkan,” kata Jero Negara di tempat upacara akhir pekan kemarin. 


Dikatakan Jero Negara, jika saat ini yang membayar kaul Ngider Githa tersebut adalah pratisentana almarhum Nyoman Labek. Nyoman Labek inilah yang konon memiliki sesangi atau kaul bila berhasil memiliki lahan persawahan dengan membeli. “Konon, almarhum Nyoman Labek ini yang memiliki sesangi yang intinya bila berhasil membeli lahan sawah yang ditanami padi, maka akan melaksanakan upacara Ngider Githa yang disertai dengan Sapi Gerumbungan. Nah, sesangi itulah yang dibayar sekarang oleh keturunan beliau,” ujar Jero Negara. 


Lalu, apa saja sarana upakara dari tradisi Ngider Githa ini? lebih lanjut dikatakan Jero Negara, sarana upakara yang dipergunakan untuk tradisi ini adalah Banten Suci yang dihaturkan kehadapan Sang Hyang Surya (penguasa matahari) sebagai saksi. Kemudian banten sootan yang berisi babi guling jantan yang dihaturkan untuk leluhur yang memiliki kaul (naur sesangi). Serta pangkonan ageng yang terdiri dari nasi, lawar, jejeruk dan daging babi yang dihaturkan saat Ngider Githa, yang usai dipersembahakn selanjutnya akan disantap oleh para ulun desa, pemangku dan tokoh adat secara bersama-sama di tengah sawah.

Seperti pantauan Koran Bali Express (Jawa Pos Group) di lokasi yang berada di wilayah Subak Kusia, Desa Bebetin, Kecamatan Sawan. Dudonan (susunan pelaksanaan) upacaranya memang lebih dominan dilaksanakan di tengah lahan persawahan yang dimiliki oleh Sang Yajamana (yang memiliki upacara) tersebut.

“Dudonannya dimulai dari rangkaian pegat soot, kemudian dilaksanakan memetik padi atau anggapan, kemudian anggapan tersebut dibawa keliling di tengah areal persawahan dengan menunggangi Sapi Gerumbungan sambil makekidung,” ujar Jero Negara.

Betul saja. Usai dilaksanakan persembahyangan, Sapi Gerumbungan yang telah disiapkan sebanyak tiga pasang tersebut langsung ditunggangi oleh pratisentana (generasi keturunan) Nyoman Labek. Mereka membawa adegan yang menyimbolkan badan dari leluhurnya yang memiliki kaul untuk dibawa keliling areal persawahan sembari membawa anggapan (padi yang dipotong) sebagai simbol keberlimpahan hasil panen. Para warga sekitar pun ikut berbondong-bondong menyaksikan tradisi langka tersebut.

Mereka menunggu atraksi Sapi Gerumbungan beraksi di tengah lahan persawahan yang memang jarang dilihat. Sorak sorai penonton yang diiringi gamelan gong, semakin membuat suasana tambah semarak saat sapi-sapi tersebut mulai berjalan beriringan mengelilingi persawahan. Di satu sisi, ditambahkan Jero Negara, bila biaya yang dibutuhkan untuk melaksanakan tradisi Ngider Githa ini lumayan besar, mencapai Rp 50 juta. Sehingg, tradisi ini agak jarang dilaksanakan karena biayanya cukup besar. Namun, hanya khusus dijadikan sebagai sarana untuk membayar kaul atau sesangi berdasarkan keberhasilan atau capaian yang diperoleh dari hasil pertanian, khususnya lahan sawah basah. 

(bx/dik/yes/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia